Monday, August 2

Review Film Indonesia | “Headshot (2016)” Aksinya Lebih Berbicara

Ketika menjadi sajian aksi laga, Headshot tidak perlu minder sama sekali. Namun ketika ada tuntutan lisan, naskah film ini jelas kelimpungan dan mesti wawas diri.

Headshot berkisah tentang seorang pemuda yang ditemukan terdampar di pinggir pantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia dirawat oleh dokter Ailin di rumah sakit selama masa koma. Lebih jauh, Ailin menamainya Ishmael karena tidak bisa menemukan identitas pemuda tersebut–pun Ishmael hilang ingatan. Ternyata ada bahaya besar yang mengintai keduanya berkaitan dengan masa lalu Ishmael.

Saya masih sangat berharap kalau Headshot jadi film bisu saja. Jadi film ini cuma butuh visual dan scoring tanpa butuh dialog dan narasi.

Bukan tanpa sebab, berbagai ujaran yang dikeluarkan terdengar ganjil dan kontradiktif–belum lagi lemahnya motivasi penggunaan bahasa campuran dan kacaunya beberapa baris di subtitle. Gambaran lebih jelasnya, dialog yang ada berasa seperti kita sedang menonton film yang setingnya di alam mimpi. Jatuhnya penuh dengan ucapan kaku, tanpa emosi, normatif, dan terkesan bergema dan maknanya terpantul tidak sempurna begitu saja.

1000px-headshot-2016-ngepopcom

Jelas urusan naskah–yang membutuhkan dialog maupun voice over–yang masih setengah matang ini membuat saya jadi merasa kurang nyaman dalam menikmati Headshot secara wajar. Agak aneh sebenarnya, sebab di 2016 ini sudah ada beberapa film Indonesia yang berhasil menciptakan interaksi verbal yang apik–Ngenest dan Athirah contohnya. Seharusnya supervisi bagian krusial ini bisa diterapkan pada Headshot. Inilah catatan terbesar dari keseluruhan durasi.

Atau kalau tidak mau repot, treatment menjadikan film ini sebagai sajian tanpa butuh dialog adalah keputusan tepat.

Coba buktikan sendiri nanti sewaktu nonton: Headshot memiliki tata visual, tingkat presisi, serta gestur yang sudah berada di level “bisa ngomong”.

Bagi yang suka martial arts, film ini bakal berhasil memanjakan mata.

Terlebih Headshot menyuguhkan berbagai aksi laga itu dengan penanganan ganas: jarak dekat. Tentu saja detail, sinematografi, dan koreografi harus melewati ujian berat. Dan berbagai tantangan tersebut berhasil digasak dengan apik.

Untuk perkara detail, berpijak karena ini adalah film action, Headshot berada di tangan yang benar. Rapi.

Bahkan untuk tiap karakter yang ditampilkan, masing-masing memiliki porsi yang tidak terlalu sedikit di layar. Ketika karakter itu harus tersingkir pun selalu ada alasan yang jelas “mengapa dia pergi”. Departemen akting bermain bagus–tanpa harus menyebutkan daftar pemainnya. Flow-nya mengalir tanpa meninggalkan kegamangan di akhir.

Menonton Headshot itu layaknya love-hate relationship.

Kita harus tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan di berbagai adegan yang coba menunjukkan aspek emosional lewat dialog. Selebihnya kita bisa dengan mudah dibikin jatuh cinta oleh intensnya pertarungan.

Ketika penonton akhirnya bisa melewati keduanya sampai di titik akhir, mengutip salah satu adegan, “Sekarang kita impas.”

Headshot memperoleh 7.8 dari 10 bintang.

Film Headshot (2016) telah ditonton pada 27 November 2016 (premiere Jogja), review resmi ditulis pada 30 November 2016.

(Visited 912 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *