Review Film | “Little Men (2016)” Realitas di Tanah New York

Gelar New York sebagai The Big Apple yang selalu terang benderang mungkin memang terlalu menyilaukan para wisatawannya. Sedangkan di balik gemerlap yang ada, hadir entitas-entitas kecil baik imigran maupun lokal yang harus berjuang untuk hidup wajar pun toleran.

Little Men garapan Ira Sachs ada di pilihan kedua, menjadi film yang teramat sederhana guna menampilkan sedikit remahan realitas.

Kita akan mengikuti kisah Jake dan keluarga kecilnya sampai di akhir durasi. Dia adalah anak tunggal dan lebih sering menghabiskan waktu dengan menggambar. Suatu ketika kakeknya meninggal. Kejadian tersebut mempertemukan Jake dengan anak laki-laki keturunan imigran Chili, Tony, yang selanjutnya langsung menjadi sahabat. Namun, perkara harta gono-gini yang melibatkan orang tua keduanya menciptakan kondisi yang mencemaskan.

1000px-little-men-2016-ngepopcom

Little Men berhasil menyederhanakan New York sehingga mampu berfokus pada gerombolan kecil yang menjadi sorotan utama. Tindakan ini memberikan keleluasaan lebih untuk melakukan eksplorasi emosi yang apa adanya pula.

Jangan membayangkan bahwa film ini bakal memiliki elemen meletup-letup atau pun wujud kemarahan bar-bar. Di tengah-tengah bisingnya New York, tiap karakternya bisa dikatakan sangatlah lembut. Kontradiksi inilah yang membuat saya langsung mencintai Little Men.

Dan kelembutan itu tidak akan tercapai kalau tidak karena kepolosan yang dipertontonkan lewat persahabatan Jake dan Tony–dibawakan dengan manis oleh Theo Taplitz dan Michael Barbieri. Kita sebagai penonton bawaannya cuma ingin melihat interaksi keduanya menjadi interaksi yang selalu konstruktif, tidak ingin dinodai oleh kerasnya kehidupan jalanan di seberang tempat tinggal mereka.

Melekatnya emosi keduanya tidak muncul begitu saja. Film ini menyajikan beberapa fragmen mengapa kita semestinya bisa merangkul empati secara sukarela.

Misalnya di awal ketika kita dihadapkan pada masa sekolah Jake, dia berada di lingkungan yang tidak selalu mulus. Bahkan ada penggambaran di mana gurunya tidak berlaku suportif–dengan menganalogikan Van Gogh.

Menyaksikan Little Men juga membuat kita bisa dengan mudah melemparkan ingatan ke masa lalu.

Paling tidak bagi saya pribadi, ada beberapa momen yang sangat relevan dengan masa kecil.

Misalnya tentang aksi diam yang dilakukan oleh dua karakter bocah itu. Tidak ada intensi berlebihan, mereka hanya mengira bahwa mereka mesti melakukannya. Dan ketika tahu bahwa di satu titik tindakan mereka tidak sepenuhnya berujung impas, mereka menunjukkan penyesalan yang tidak meledak-ledak. Jake justru berujar dengan emosi lembut, tidak ingin membuat orang lain merasa bersalah, dan inilah yang justru menciptakan keharuan telak.

Pada dasarnya Little Men menampilkan kesederhanaan yang sewaktu-waktu bisa menjurus ke satire–dan kadang menimbulkan ketidaktuntasan cerita di beberapa bagian.

Namun dari relasi yang terbangun, kita dibuat sadar bahwa yang membuat New York menarik bukanlah gedung-gedung pencakar langit maupun gemerlap artifisial. Alih-alih hubungan tiap entitaslah yang memegang nilai kunci.

Mulai dari komunitas besar hingga di kehidupan tetangga dan rumah tangga kecil. Mengamati berbagai usaha yang diupayakan tiap orang sesuai kapasitasnya supaya bisa dihargai oleh orang lain tanpa harus merisaukan urusan batasan-batasan seperti ras, finansial, status, dan semacamnya.

Kata film ini, kegagalan dialami orang karena menuntut diri sendiri terlampau keras.

Ada satu adegan yang bisa merangkum film ini secara tepat, yaitu ketika Tony sedang belajar akting dan melakukan simulasi konfrontasi dengan gurunya.

Little Men memperoleh 8.5 dari 10 Bintang.

Film Little Men (2016) telah ditonton pada 29 November 2016, review resmi ditulis pada 2 Desember 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 581 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required