Review Film Indonesia | “Hujan Bulan Juni (2017)” Hampir Seperti FTV Hlo, Mas

Estimasi waktu baca: 2 menit

Film Hujan Bulan Juni diangkat dari novel berjudul sama yang saya belum baca. Jadi ulasan berikut akan murni sebagai ulasan film.

Film ini menceritakan tentang perjalanan mempertahankan hubungan asmara antara Pingkan Dondokambey (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Puitis? Oh tentu saja. Ibarat DNA yang bawaan dari Ayah Ibu, karakter puitis dalam film ini adalah bawaan dari novel.

Lebih dari karakter, kekuatan utama Hujan Bulan Juni justru ada pada puisinya.

Kekuatan lain dari film ini ada pada latar belakang tokoh utama. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda seperti cerita kebanyakan. Pingkan adalah pengajar di jurusan Sastra Jepang, sementara Sarwono adalah staff peneliti jurusan Antropologi. Ekosistem tempat menjalin kasih terasa dekat dengan penonton: kampus. Sebagai penonton, saya dibuat gemas.

Konfliknya muncul disebabkan dua hal yaitu jarak secara fisik dan perbedaan suku dan agama. Karena hubungan antara dua manusia ini dikuatkan melalui puisi, dua konflik tersebut rasanya begitu sipirili dan mudah dilalui. Kalah dengan kekuatan puisi dan sajak yang rutin diciptakan Sarwono.

Jadi keseluruhan bagus? Tidak juga.
Saya kecewa karena kekuatan akting Adipati Dolken tidak semantap di film Posesif (2017). Tampak kehabisan energi, Ia menampilkan Sarwono dengan seadanya.

Seperti cara bicara yang sesekali medok (hanya sesekali, terasa dibuat-buat, dan tidak konsisten!). Ia juga beberapa kali mengatakan “opo” dan “sontoloyo” hanya untuk memperlihatkan bahwa Sarwono adalah orang Jawa. Tulung, sakjane akeh hlo sing iso mbok omongno, Mas (Mohon maaf, sebenarnya ada lebih banyak ucapan lain yang bisa kamu keluarkan, lho, mas—red). Penggunaan kata “sontoloyo” ini juga sempat membuat saya mengerutkan kening karena saya merasa momen pengucapannya kurang pas.

Syukurlah hadir tokoh Bapak (Sapardi Djoko Darmono) yang mengatakan kata “sontoloyo” dengan pelafalan baik pada momen yang tepat di akhir film. Kalau tidak, saya sudah mencak-mencak karena gemas. Apa saat produksi film tidak ada orang yang mampu mencontohkan Adipati cara mengucapkan “sontoloyo” secara tepat guna?

Lemahnya usaha penggambaran Sarwono mungkin tidak terlihat jika Baim Wong memilih menjadi biasa saja. Sialnya tidak. Baim Wong memerankan Benny—sepupu Pingkan—dengan sangat baik.

Justru Ia tampak bersinar dan menjadi tokoh yang saya tunggu-tunggu kehadirannya. Ceria, jenaka, lengkap dengan logat Manado yang natural. Itu semua masih didukung dengan kebiasaan Benny “mengoreksi ucapan berbahasa Indonesia” yang sepertinya muncul alami.

Ramuan film ini hampir lengkap dan sempurna. Pingkan dengan kepribadian ceria dan pakaian modis, Benny yang wangun, Katsuo yang membuat gugup, dan puisi yang menggerus hati.

Namun jadi kurang maksimal karena Sarwono yang digambarkan hanya sekadarnya. Aneh sekali melihat Sarwono sebagai orang dengan dua sisi berlawanan: suka berpenampilan kuno tetapi lebih nyaman berbicara dengan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Akibat kurangnya usaha menggambarkan Sarwono dengan maksimal, film ini jadi terseok-seok dalam membangun kedekatan antara penonton dan tokoh utama. Padahal kedekatan ini sangat penting untuk membuat ending-nya nendang. Dengan sedih dan berat hati, saya akui kurangnya usaha dari Adipati justru membuat Hujan Bulan Juni terasa seperti ftv.

Rating: 7/10

Author: HANIFA EKA

(Visited 101 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required