Review Film Indonesia | “Naura dan Genk Juara (2017)” Boleh Juga

Naura dan Genk Juara (Graphic: Ngepopcom)

Estimasi waktu baca: 4 menit

Spoiler Alert untuk review Naura dan Genk Juara ini!

Naura dan Genk Juara bercerita tentang petualangan Naura, Okky, Bimo, dan Kipli di sebuah perkemahan. Sebagai sebuah film musikal anak, film ini berbekal lagu-lagu enerjik (sudah bisa diakses di Spotify bahkan seminggu sebelum filmnya tayang) dan koreografi yang asik.

Dari trailer film, diceritakan bahwa Naura, Okky, dan Bimo berangkat ke kompetisi sains regional di Kemah Kreatif sebagai perwakilan SD Angkasa. Tiga orang yang tidak terlalu akur ini berkenalan dengan Kipli, anak kecil yang tinggal dan bekerja sebagai pemelihara satwa di Kemah Kreatif. Lalu Naura, Bimo, dan Kipli bekerjasama menghadapi komplotan pencuri satwa liar yang menculik Okky.

Jadi bagus banget nih? Untuk anak dan orang tua, iya.

Naura dan Genk Juara (Graphic: Ngepopcom)

Film Naura dan Genk Juara memasukkan nilai-nilai positif yang bisa ditiru secara mentah oleh anak-anak seperti keberanian mencoba, menyayangi orang tua, belajar jadi pemimpin, mengutamakan kerja sama, dan berpikir kreatif. Film ini juga mengajarkan orang tua untuk merelakan anak-anak supaya berani berpetualang dan belajar menghadapi risiko atas pilihan mereka sendiri. Jadi tontonlah film Naura dan Genk Juara bersama seluruh anggota keluarga.

Namun sebagai sebuah film yang utuh, Naura dan Genk Juara masih kecolongan pada beberapa aspek. Tidak benar-benar mengganggu, hanya membuat hati bergumam, “Loh kok gitu?”

Untuk apa komplotan pencuri satwa liar ini menculik sekelompok instruktur senam jika itu menyulitkan diri mereka sendiri? Mengapa para ranger tidak menyadari keanehan yang jelas-jelas terlihat dari pakaian pada komplotan pencuri satwa liar tersebut? Apa gunanya bukti jejak manusia berupa “sampah minuman” di daerah timur Situ Gunung, jika ternyata mobil penculik mengarah ke sebelah barat? Mengapa semua ranger memutuskan untuk pergi mencari penculik Okky tetapi tidak ada satu ranger pun yang ditugaskan menjaga perkemahan? Terus yang menjaga anak-anak siapa? Kok bisa mengambil keputusan dengan ceroboh? Mengapa orang dewasa yang ditugaskan menjaga anak-anak justru digambarkan sebagai orang-orang yang tidak bisa diandalkan?

Padahal sejak awal film, orang tua terlanjur diajari untuk memercayai anak-anaknya di bawah penjagaan orang lain. Saya curiga kalau situasi tersebut sengaja dimasukkan untuk menunjukkan bahwa anak-anak mampu melakukan hal-hal besar (seperti menyelamatkan diri sendiri yang sedang diculik dan bekerja sama menghentikan mobil komplotan penculik) dengan cara mereka sendiri.

Akibatnya, meski secara keseluruhan film ini memberikan pesan yang baik kepada orang tua, tetapi belum tuntas menjawab pertanyaan, “Jadi sebagai orang tua, bagaimana cara terbaik mendukung anak-anak agar berani mencoba?” Apalagi pada penyelesaian film justru ditunjukkan tentang seberapa jauh orang asing mampu menyakiti anak-anak. Sebagai penonton berusia 20-an, adegan tersebut justru sangat membekas dan membuat saya lebih waspada.

Saya memberikan apresiasi lebih untuk lagu-lagu dalam film musikal ini.

Namun, peletakan lagu-lagunya sendiri rasanya kurang tepat. Terasa dijejalkan di awal film dan terlalu maksa di akhir film. Khususnya saat menyelamatkan Okky. Maksud saya, bagaimana mungkin mereka sempat bernyanyi saat menyiapkan diri melawan penculik.

Pada trailer, ditunjukkan bahwa saat dini hari, Naura, Bimo, dan Kipli membangunkan semua anak yang tidur di tenda. “Kita semua sendirian, waktu kita ngga banyak. Okky harus segera diselamatkan.” Lalu paginya, mereka baru bersiap-siap. Momen pagi juga sudah hampir terlambat, matahari sudah agak tinggi (terlihat dari sinarnya yang langsung menerpa wajah anak-anak). Tidak masalah sih, namanya juga film musikal anak jadi perlu ada nyanyian dan koreografi. Namun agak menggemaskan juga ketika melihat seorang anak diculik tapi anak-anak di Kemah Kreatif masih sempat menunggu matahari agak tinggi, bernyanyi, menari, dan membawa panji warna-warni.

FYI, spoiler: meski sudah pagi dan anak-anak sempat menari, para rangers masih belum kembali ke Kemah Kreatif. Jadi anak-anak justru bebas mengambil keputusan meninggalkan perkemahan dan menghadapi penculik.

Meski memiliki sekian kekurangan, Naura dan Genk Juara ini mampu menyelesaikan tujuannya sebagai film yang mengedukasi anak-anak.

Lebih dalam, film ini tak lupa menyisipkan pesan kepada orang tua. Meski belum serapih Petualangan Sherina (2000), film musikal Naura dan Genk Juara—secara bebas—saya anggap “a nice try, boleh juga”.

Oh ya satu hal lagi, menyoal penempatan produk dalam film sebagai iklan. Saya beri tahu ya, anak jaman sekarang itu sudah pintar dan cermat. Saat ada Bimo meminum Ok*y Jelly Drink karena lelah kemudian produk tersebut terpampang jelas di layar bioskop, seorang anak kecil berteriak keras, “Wah iklan!” Luar biasa, saudara-saudara. Padahal sebagai penonton umur 20-an, saya hanya berani nyinyir di media sosial. Ternyata kalah sama anak kecil yang justru berteriak kencang. Saya pikir, ke depannya untuk menempatkan suatu produk pada sebuah scene, pembuat film perlu menyusun strategi lebih cerdik supaya lebih halus masuk ke benak penonton. Anak kecil saja sudah waspada dengan produk, bruh.


Catatan:

Apabila berkaca pada judul filmnya, mungkin kita sebagai penonton akan mengekspektasikan petuangan Naura seperti pada film Petualangan Sherina (2000). Namun ekspektasi tersebut salah, saudara-saudara. Sebenarnya film ini lebih banyak melihat petualangan Naura, Okky, Bimo, dan Kipli sebagai satu kesatuan. Jadi heran aja sih kenapa tidak dari awal berjudul Petualangan Genk Juara saja.

 

Rating film 6/10, Rating lagu 9/10. Jadi 7.5.

Author: HANIFA EKA

(Visited 264 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Erma

    *LET’S SKIP THIS FILM!* 

    Loh, kenapa???? 

    SILAHKAN BACA PENJELASANNYA:

    Disadur dan diedit sana sini untuk memperhalus bahasa
    Dari FB Nina Asterly

    Guys.. Ini saya cuma mau mereview film semalam yang saya tonton, yang katanya film musikal anak2 jaman now….

    Tadinya saya pikir film ini memang film bagus seperti film Petualangan Sherina dulu & saya pikir cocok untuk tontonan anak2… 

    Tapi…. Ternyata jauuh dari sebuah film yang epik dan sangat tidak cocok untuk anak2….

    Secara implisit, film ini adalah curahan hati kemarahan si sang pembuat film atas kebenciannya pada kaum muslim yang membela agamanya yang sudah dilecehkan oleh seorang penista agama….

    Dimana sih letak mendeskreditkan Islamnya ?? 

    Jadi, di film tersebut para penjahat digambarkan orang yang berjenggot dan selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat2 dzikir lainnya… Lebih ekstrim lagi saat si penjahat meyerang anak-anak, si penjahat dengan lantang mengucapkan kalimat Takbir berkali-kali dan kalimat-kalimat dzikir lainnya…. Sampai-sampai anak saya yang baru berumur 8 tahun saja dari mulai kemunculan si penjahat itu sampai film selesai terus2an bilang ke saya : Ma, itu orang itu islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih ??

    Saya terus-terusan bilang ke anak saya : “tidak Kak.. Itu salah, Islam tidak begitu….”

    Dari awal kemunculan para penjahat di film itu, saya langsung merasa film ini nggak nggenah. Kenapa penjahatnya digambarkan seperti itu… Jawaban apa yang akan diberikan pada anak-anak yang punya pertanyaan seperti anak saya.. Apalagi kalau orang tuanya belum memiliki pengetahuan Islam secara kaaffah apalagi bila non muslim ?? 

    Sangat besar kemungkinan mereka yang non muslim bersorak gembira dan mengamini bahwa begitulah orang-orang Islam, seperti penjahat di film itu…

    Setelah saya telusuri ternyata si pembuat film adalah seorang fans buta sang Penista Agama….

    Dia ungkapkan kekecewaan dia atas penahanan si penista agama di akun sosmednya….

    Pantas saja dia buat film dengan peran antagonis yang memojokkan ummat Islam… Untuk apa dia buat begitu kalau bukan menunjukkan kebencian dia pada kaum muslim pembela ulama dan Al Qur’an???

    Jadi menurut saya, bagi yang mau menonton film ini lebih baik jangan ditonton… Biarkan film ini tenggelam…

    Kalau cinta toleransi & NKRI mari stop menonton film-film yang mendeskreditkan Islam !!!

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo Mbak Erma, dari komentar yang Anda tulis, apakah mbak sudah nonton filmnya? Atau hanya tersulut oleh komentar di facebook yang main cocokologi dengan sentimen agama? Saya sebagai admin tidak akan menghapus komentar bigotry ini, biar pembaca lain yang menilai sendiri substansi dari yang Anda sampaikan. Terima kasih sudah berkunjung, have a nice day!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required