Review Film Indonesia | Menikmati Film “Arini (2018)”

Estimasi waktu baca: 2 menit

Film Arini bercerita tentang perempuan sedih bernama Arini (Aura Kasih) yang hari-hari normalnya terganggu karena Ia dijebak semesta untuk belajar tentang cinta sekaligus menghadapi masa lalunya lagi. Dalam satu hari yang biasa saja, tiba-tiba Arini dicintai Nick (Morgan Oey), orang yang sama sekali asing buatnya.

Saya menikmati Arini sebagai sebuah film yang utuh.

 

Keterbatasan sudut pandang tidak menjadi penghalang untuk menikmati film ini.

Saya juga bisa menikmati gaya bercerita yang maju mundur (mencampur masa lalu dan masa kini yang dihadapi Arini).

Sudut pandang yang sengaja dibatasi terlihat jelas pada Nick. Kita punya kesempatan mengenal Nick hanya saat Ia bersama Arini. Di luar itu, sebagai penonton, kita tidak pernah tahu latar belakang Nick, apa studinya, letak kampusnya. Hal-hal seputar demografinya saja tidak bisa kita ketahui. Apalagi isi hatinya: alasan Ia jatuh cinta bahkan sampai menyusul Arini ke Indonesia.

Begitu juga pada Helmi (Haydar Salishz), mantan suami Arini. Cara penonton mengenal Helmi hanya melalui sudut pandang Arini. Jadi saya maklum kalau misal ada penonton yang saking geregetannya justru “emoh” melihat wajah Helmi.

Satu-satunya tokoh yang bisa kita kenal dan pahami dengan baik adalah Arini.

Saya sepenuhnya bisa menghormati keputusan pembuat film untuk membatasi jalan cerita pada satu koridor: pandangan Arini. Cara tersebut membantu penonton merasakan emosi dan beban Arini.

Hebatnya, penuturan film ini masih bisa rapi.

Pengembangan karakter juga “tidak maksa” dan cenderung halus dari awal sampai akhir film. Gila. Bahkan pembuat film masih sempat menyisipkan beberapa scene yang menimbulkan tawa—tentu karena Nick yang tengil.

Ngomong-ngomong, Morgan ternyata aktor yang keren.

Ia menghayati peran Nick sampai benar-benar dalam, saya sampai lupa bahwa Ia adalah Morgan. Sepanjang film diputar, saya percaya, “Ia adalah Nick, laki-laki berusia 23 tahun. Nick yang tengil tapi menggemaskan. Nick yang tegas tapi keras kepala.” Bukan Morgan.

Mungkin sejauh ini Arini belum mendapat sorotan besar, namun film ini memberikan kesan yang hangat.

Sebagai penonton, kita benar-benar paham luka dan trauma Arini. Kita bisa memaklumi tembok yang Ia bangun tinggi. Meskipun kita mungkin tidak benar-benar tahu alasan Nick mendekati (bahkan mengejar) Arini, tapi kita mendapat pandangan baru tentang cinta-di-luar-konstruksi-sosial yang masih bisa tumbuh dalam hati individu dewasa.

Film ini memberikan rasa hangat, seperti cinta itu sendiri.

 

Rating: 9/10

 

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 69 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required