Review Film Indonesia | “The Gift (2018)” Rasa yang Melambatkan Waktu

Estimasi waktu baca: 2 menit

The Gift adalah sebuah cerita antara perempuan yang menyukai kegelapan dan laki-laki yang mengurung diri dalam kesendirian. Film ini sepenuhnya mengeksplorasi rasa dari berbagai indera sebelum ikatan romantis itu muncul.

The Gift ini film yang manis tapi pedih.

Bikin hati saya nelangsa. Sepanjang film dianugerahi yang manis manis, eh after-taste-nya pahit. Mas Hanung tega nian. Gini caramu supaya filmmu memberi kesan mendalam? Gini?

Ngga, Mas, ini saya bukan benci filmnya. Gemes aja. Saya terdiam agak lama setelah layar hitam muncul. “Kenapa film ini selesai woy? Lanjutkan dulu lah. Ya ampun, ini terlalu menyedihkan. Kami menuntut happy ending bagi semua pihak!” gitu. Biasalah, menuntut hal utopis. Seharusnya sejak nonton trailer, saya sudah mengekspektasikan kesedihan.

Poin yang paling saya suka dari film The Gift adalah penokohannya yang kuat dan dalam.

Setiap tokoh memiliki latar belakang dan alasan yang kuat untuk muncul dalam film. Tidak ada yang hanya ‘tempelan’. Saya menunggu-nunggu kemunculan dan mengawasi setiap tokoh, meskipun itu cuma Lono dan bapak-bapak yang bersih-bersih di rumah Harun.

Poin lain yang saya suka adalah interaksi yang mempengaruhi kecepatan waktu cerita. Sepertinya permainan ini yang menjadi semacam “inti” The Gift.

Saat Tiana dan Harun berinteraksi, waktu rasanya berjalan dengan lebih lambat. Perlahan semua emosi itu tertuang. Canggung tapi terasa lebih lengkap dan tepat.

“Aku tuh merasa nyambung sama kamu,” kalau kata Tiana ke Harun.

Rasa yang berbeda muncul saat Tiana bersama Arie. Lebih cepat. Tiba-tiba ada pertemuan, hadiah, janji lama, dan lain-lainnya. Cepat sekali, lalu tiba-tiba sudah di Italia. Tadinya saya mempertanyakan tempo yang tidak konsisten ini. Setelah dipikir-pikir, ini efek interaksi tokoh utamanya.

Oh, saya juga menyukai suatu bagian film yang mengaburkan batas antara imajinasi dan realita. Rasanya kesadaran saya ditarik sampai berada di posisi yang setara dengan Tiana. Kesadaran atas hal ini baru saya dapatkan setelah film usai. Aih, cakep.

Secara visual, film ini enak untuk ditonton.

Sepertinya sudah banyak ulasan lain yang sejalan dengan opini saya. Pergerakan kamera, setting lokasi, wardrobe, make up pula. Secara khusus, saya menyukai penampilan Tiana. Eyeshadownya oke banget. Panutan.

Satu-satunya yang menyebalkan dari film ini adalah “kebetulan” yang keterlaluan.

“Kebetulan” itu muncul, seakan untuk menyeret cerita The Gift supaya segera selesai. Tidak masalah, tapi—lain waktu—kalau bisa dihindari.

Catatan (mengandung spoiler):

Ada satu hal yang masih membuat saya bertanya-tanya. “Ini illegal, Harun,” kata Arie setelah menjelaskan beberapa kenyataan pahit yang perlu diterima Harun—bersamaan dengan hadiah manis. Apanya yang ilegal? Sepertinya semua baik-baik saja. Sumpah ya, tadinya saya pikir Arie membunuh Tiana.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 139 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required