Review Film Indonesia | “Siti (2014)” Instant Classic!

 

Lewat perpaduan aspect-ratio 4:3, hitam-putih, kehidupan sebuah keluarga pesisir pantai, tokoh sentral seorang perempuan, serta sayatan scorring jujur tak berkesudahan, Siti menohok dengan amat dalam sepanjang durasi.

Kekuatan terbesar dari karya visual layar lebar ini adalah permainan emosi yang dilemparkan oleh para karakternya. Tidak hanya monopoli Siti.

Siti berkisah tentang seorang perempuan yang kepepet keadaan. Kehidupan keluarganya pontang-panting pasca sang suami lumpuh akibat kecelakaan sewaktu melaut. Kapalnya ikut pupus, padahal hutang pembelian kapal belum lunas. Sehari-hari, Siti tinggal bersama suami, ibu mertua, dan anak laki-lakinya yang masih SD. Posisi sulit itu menyebabkannya terhimpit masalah finansial yang akhirnya membuka gerbang ke jalan entitas wanita penghibur di sebuah tempat karaoke.

Eddie Cahyono yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film pendek, lewat Siti dia berhasil membuktikan bahwa formula yang selalu digunakannya tetaplah relevan.

Bahkan lebih dari itu, ruang waktu yang lebih panjang memberikan kesempatan baginya untuk mengeksplorasi para karakter pendukung supaya sama-sama memiliki porsi unjuk sentimental.

Penampilan Sekar Sari sebagai Siti tak terbantahkan.

Bahkan sejak prolog diumbar, penonton sudah diperkenalkan pada karakternya dengan sangat baik. Agaknya juga tidak berlebihan apabila prolog film Siti ini saya sebut sebagai salah satu yang terbaik di jajaran film Indonesia sepanjang masa. Pembawaan Siti juga berperan krusial untuk menutupi kekakuan beberapa karakter lain.

Sebut saja Bagas–anaknya–dan ibu mertua Siti. Keduanya sebenarnya tampil cukup meyakinkan, sayang untuk beberapa bagian–terutama di paruh awal–terlihat masih canggung berdialog. Posisi pemeran pendukung memang menjadi cukup kritis di sini, sebab Siti adalah film yang bernaskah wordy–banyak omong, in a good way. Beruntung, karakter lain seperti Mas Gatot dan Sri–temannya–bisa mulus mencuri perhatian. Terutama Sri, kehadirannya terlihat sangat natural. Bahkan percakapan remeh-temehnya mampu tampil organik. Salah satu adegan ketika Siti diajari misuh oleh Sri mengingatkan saya pada adegan serupa di film The King’s Speech.

Di lain hal, karena Siti mencoba tampil dengan minimalis, peran pembidik visual menjadi sangat vital.

Pilihan untuk membuat Siti sebagai sebuah sajian monokrom adalah tindakan cerdas. Kontur tiap elemen dengan dibantu production design dan tata cahaya yang tepat sukses menciptakan kesan teatrikal yang bisa bikin merinding. Saya masih terbayang-bayang dengan adegan Bagas telanjang yang dikejar Siti hingga ke gumuk pasir. Pun saya masih teringat momen Siti menengadah multitafsir ke angkasa. Dan tentu tidak bisa dilupakan visual penghujung durasi yang sangat mengoyak batin–kurangajar betul, saya sampai dibikin senyesek itu, dengan alasan perasaan yang sulit digambarkan ketika mengawal Siti ke garis batas. Oh, dan jangan lupakan peran scorring-nya. Sangat cantik dan membuat candu di telinga.

Pada akhirnya, Siti memang layak diberi gelar sebagai salah satu film Indonesia terbaik.

Film ini tidak ingin terlihat muluk-muluk, dia hanya ingin jujur menujukkan sebuah fragmen kehidupan seorang perempuan, yang juga sebagai istri, yang juga sebagai ibu, yang juga sebagai anak, yang juga sebagai teman, sekaligus yang juga sebagai seorang manusia biasa–yang bisa limbung, bahagia, pun keras dalam menghadapi dinamika kehidupan.

“Peyek jingking, mas, mbak?”

 

Siti memperoleh 8,5 dari 10 bintang.

Siti (prod. 2014, rilis bioskop 2016) ditonton pada 1 Februari 2016, review resmi tersapa ditulis pada 2 Februari 2016.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 370 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 701 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required