Friday, July 23

The Hunger Games Pimpin Pemberontakan di Dunia Nyata

Tulisan ini membahas:

  • Masyarakat sipil Thailand menggunakan salam hormat tiga jari sebagai simbol anti kebrutalan militer
  • Golongan muda Thailand-lah yang memulai penggunaan simbol ini
  • Pemerintah Thailand sampai mengeluarkan peringatan keras terkait pelarangan penggunaan simbol salam hormat tiga jari
  • The Hunger Games adalah fiksi distopia yang berseting di Amerika Utama
  • Katniss dan salam hormat tiga jari adalah simbol yang sama-sama besar di pemberontakan Panem
  • The Hunger Games dianggap mampu memotret kondisi demokrasi saat ini

Selama masa protes yang dilakukan oleh masyarakat sipil untuk melawan tindakan brutal militer Thailand (2015), para demonstran menggunakan salam hormat tiga jari untuk menuntut terwujudnya demokrasi.

Sejarah panjang di dunia ini memang penuh dengan simbol-simbol isyarat: para pendukung Marxist menggunakan simbol kepalan tangan yang meninju ke atas, fasis menggunakan telapak tangan sebagai isyarat perlawanan. Namun kondisi yang terjadi di Thailand justru terinspirasi oleh rangkaian kisah fiksi.

Golongan muda di Thailand vokal melakukan aksi protes menggunakan simbol salam hormat tiga jari yang berasal dari saga The Hunger Games—yang dimodifikasi maknanya yaitu sebagai bentuk pemberontakan.

Aksi tersebut terus berlanjut dan menyebar dengan cepat. Apalagi akhir November 2015, installment terakhir—The Hunger Games: Mockingjay Part 2—resmi dirilis di bioskop di seluruh dunia.

Atas tindakan penggunaan salam hormat yang terjadi, pemerintah Thailand yang berkuasa saat ini sampai mengeluarkan pernyataan pelarangan keras terhadap penggunaan simbol tersebut. Pun melarang penayangan film Mockingjay serta menahan pihak-pihak yang memraktikkan simbol itu. Dengan respon signifikan yang ditimbulkan, tentu keberanian para demonstran yang menggunakan simbol itu patut diacungi jempol.

The Hunger Games sendiri menggunakan latar tempat di masa depan, distopia, pasca Amerika Utara hancur.

Kemudian muncul negara baru bernama Panem yang menggunkan sitem tirani. Panem dipimpin oleh Presiden Snow yang terkenal kejam. Panem terdiri dari satu pusat kota yang disebut sebagai Capitol serta 12 Distrik—seharusnya ada 13 Distrik, namun distrik terakhir dimusnahkan oleh Capitol karena pemberontakan yang mereka lakukan. Guna mengingatkan warganya tentang kehancuran yang pernah terjadi sebelumnya, setiap tahun Panem selalu mengadakan ajang The Hunger Games. Masing-masing distrik wajib mengirimkan perwakilan laki-laki dan perempuan untuk bertarung di arena yang telah dibuat oleh Gamemaker di Capitol. Jadi, konsep The Hunger Games adalah para perwakilan masing-masing distrik harus saling bunuh hingga hanya tersisa satu tribute yang kemudian dianggap sebagai pemenang.

Sayangnya, pada penyelenggaraan The Hunger Games ke-74, pemenangnya lebih dari satu. Pun berasal dari distrik yang sama, Distrik 12—Katniss dan Peeta. Keberhasilan perwakilan dari Distrik 12 serta berbagai hal yang terjadi selama di arena The Hunger Games ke-74 berhasil menarik simpati dari penduduk distrik lain—meski belum semuanya—untuk melakukan perlawanan terhadap Capitol. Katniss menjadi simbol utama pemberontakan yang disebut sebagai Sang Mockingjay. Selain itu, salam hormat tiga jari menjadi simbol perlawanan lainnya yang sama-sama kuat. Dengan latar belakang yang hampir sama, antara bentuk fiksi dan aksi yang terjadi di Thailand, benang merahnya menjadi masuk akal.

Salah seorang ilustrator buku bacaan anak-anak, Michael Rosen, menyatakan bahwa buku The Hunger Games memberikan banyak petunjuk tentang bagaimana kekuasaan telah membentuk adanya dinasti totaliter. Hal-hal yang dipaparkan bahkan mampu memberikan gambaran yang cukup untuk melihat hubungan-hubungan paralel antara masa lalu dan masa sekarang terkait dengan rezim politik.

Katniss sang Mockingjay/grafis. ngepopcom

Muncul juga pendapat bahwa buku fiksi tersebut sukses memotret post-ideologi yang merupakan hasil bentukan banyak pergerakan protes demokrasi modern saat ini yang bersifat sporadis.

Guna memahami apa yang terjadi di banyak negara yang juga sedang mengalami konflik, misalnya Mesir atau Rusia, Ivan Krastev dari New Republic berpendapat bahwa masyarakat perlu membaca saga The Hunger Games. Pemberontakan terhadap rezim Snow yang disulut oleh Katniss telah berhasil menjalar hingga di lapisan masyarakat paling bawah. Aksi yang terjadi dilandasi karena melihat adanya ketidakadilan yang nyata. Apalagi didukung oleh banyaknya bukti-bukti visual miris yang tersebar, reflek empati yang merupakan bawaan tiap orang, serta solidaritas kemanusiaan.

Di lain pihak, saga The Hunger Games juga mengajarkan sesuatu tentang bagaimana wujud kekuasaan yang bersatu-padu dan menjadi semakin kuat serta bagaimana cara menghadapinya. Di The Hunger Games, pemerintah yang berkuasa bahkan sampai melakukan manipulasi pada gambar yang disebarluaskan sebagai doktrin untuk penduduknya. Apabila istilah pers ingin digunakan, pers benar-benar memegang peranan penting di mana selama puluhan tahun penduduk 12 Distrik dan Capitol non-pemerintah mempercayai propaganda tersebut sebagai sebuah kebenaran.

Pada kenyataannya, saga The Hunger Games adalah fiksi yang gagasannya diiyakan oleh berbagai kalangan, terutama para pengamat politik.

Terlalu banyak kesamaan yang terjadi antara di Panem dan di dunia nyata saat ini. Banyak pemimpin pergerakan yang kemudian ikut mencoba untuk membaca bukunya serta menonton versi film untuk menyesuaikan dengan agenda masing-masing. Hal ini untuk membuktikan argumen para pemikir post-modern bahwa masyarakat—pembaca dan penonton—saat ini lebih suka menginterpretasikan segala hal berdasarkan apa yang dikonsumsi dan akhirnya diyakini.

Suzanne Collins, sebagai penulis novel The Hunger Games, mengirimkan pesan yang secara tujuan bahkan bisa melampaui kemampuan yang bisa disajikan oleh sebuah ideologi. Harus diakui juga, bahwa langkahnya dalam menciptakan sebuah karya fiksi yang kental dengan pernak-pernik politik—namun mampu dikemas secara universal—merupakan langkah yang cerdas. Suzanne menghindari simbol-simbol politik yang sudah ada, dia justru menciptakan simbol baru yang pada akhirnya tidak menjadikan para pembaca merasa dialienasi—sebab simbol itu, utamanya salam hormat tiga jari, adalah konsep baru.

Dunia yang diciptakan oleh Suzanne Collins juga sangat mungkin terinspirasi karena dia tumbuh dan berkembang di keluarga yang kental dengan balutan militer. Dalam sebuah wawancara, Suzanne merefleksikan keinginan ayahnya untuk membuat dunia lebih sadar terhadap realitas perang. Apabila ada perang yang terjadi, akan beranak-pinak perang-perang lainnya. Suzanne menyebutnya sebagai lingkaran setan. Dia juga mengatakan bahwa dengan lingkaran kekejaman yang ada dan bersifat sistemik, sulit bagi kita untuk menghentikannya secara total.

Namun di sisi lain, novel The Hunger Games yang memiliki nuansa kelam juga menawarkan sebuah sudut pandang pesimistis khas manusia—Katniss di awal (bahkan jejaknya tetap ada sampai akhir) tidak percaya apakah dirinya mampu memimpin pemberontakan. Konsep ketidakpastian ini mengakibatkan si pemilik kuasa, dalam kasus ini adalah Snow, harus melakukan langkah yang dianggap perlu, sayangnya dia pun sudah kehilangan simpati dari para pendukungnya.

Sebaliknya, Katniss pernah mengutip salah satu pesan yang diungkapkan oleh kalangan terpelajar bahwa demokrasilah yang mengarahkan dunia kepada terjadinya tirani saat ini. Katniss berujar, “Anehnya, leluhur kita nampaknya memang tidak bohong. Maksudku, lihatlah apa yang negara berikan untuk kita di sini, dengan berbagai peperangan dan dunia yang sudak hancur. Jelas, mereka tidak peduli tentang apa yang akan terjadi pada orang-orang yang berada di belakang mereka.”

Perilaku diktator yang saat ini banyak terjadi tentu saja sangat kejam. Namun waktu akan menciptakan bibit-bibit aksi yang nanti menumbangkannya. Apabila menilik fakta yang ada, kejatuhan rezim Soeharto dan Gadaffi menjadi contoh yang riil. Belum lagi, ditambah dengan aksi protes yang dipimpin generasi muda Thailand dengan menggunakan simbol salam hormat tiga jari menjadikan gelombang massa protes semakin masif.

Tidak hanya salam hormat tiga jari The Hunger Games yang memiliki kekuatan besar. Bahkan simbolisasi Katniss sebagai pemimpin pemberontakan juga mendapat sorotan tajam di banyak negara.

Israel baru-baru ini melakukan sensor terhadap poster The Hunger Games: Mockingjay Part 2 karena menampilkan Katniss yang terlihat tengah melakukan perlawanan menggunakan panah dan busurnya. Hasil akhirnya, poster film terakhir dari saga The Hunger Games tersebut tampil polos tanpa sosok Katniss—hanya emblem Mockingjay terbakar yang mengepakkan sayap.

Mockingjay Part 2 pada dasarnya berkisah tentang usaha terakhir Katniss dan para pemberontak mencari jalan keluar guna mengakhiri permainan yang dilakukan oleh Capitol di bawah pemerintahan Snow. Juga, menghentikan lingkaran setan mengerikan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Ironisnya, Katniss harus menggunakan cara yang sangat personal dan brutal untuk mewujudkannya. Langkah-langkah layaknya plot The Hunger Games-lah yang saat ini juga terjadi di dunia nyata.

(Visited 455 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *