Catatan Serial | “This is Us Season 1” dan Episode Pilot Terbaik

“This is real. This is love. This is life.”

Saya sengaja mengambil jeda cukup lama untuk menuliskan refleksi pendek ini–kira-kira dua pekan. Kalau tidak begitu, pembuka semacam ini tidak bisa digulirkan.

September baru saja berakhir, dalam jagat serial TV ini juga menandai bangkitnya musim baru bagi banyak judul serial–fall season.

Entah itu judul lama yang lega karena berhasil memperoleh perpanjangan nyawa dari network yang menaunginya, maupun judul baru yang harus siap menghadapi pertarungan sengit dalam menggaet pangsa penonton.

Pertanyaan sederhana yang bisa dilempar dan selalu relevan tiap tahun: siapa yang memiliki pilot–episode pertama–tersolid?

Apakah Narcos musim kedua? Apakah American Horror Story musim keenam? Apakah Empire musim ketiga? Apakah Gotham musim ketiga? Apakah How to Get Away with Murder musim ketiga? Apakah Shameless musim ketujuh?

Secara mengejutkan, saya sebut jawabannya tidak ada di deretan di atas.

Ya, mayoritas dari judul-judul tersebut memiliki pilot yang lumayan, namun tidak ada yang bisa mengalahkan kesolidan pilot “THIS IS US” musim pertama.

Saya sampai dibuat merinding saking bangganya–menjadi bagian dari para penontonnya–tiap mengingat serial baru ini.

Bagi saya, pilot This is Us adalah salah satu–bahkan berada di deretan puncak–pilot terbaik sepanjang masa. Benar-benar tidak terduga. Kalau diingat-ingat, sebelum This is Us, serial yang juga pernah memberikan pilot solid untuk 2016 adalah American Crime musim kedua.

this-is-us-2016-banner-ngepop

This is Us menyajikan kolase kisah para karakternya yang terlahir di hari yang sama.

Melalui penceritaan berwujud omnimbus, penonton disuguhi tayangan yang menampilkan fragmen-fragmen berfase padat tentang empat kelompok tokoh utamanya.

Serial ini menyambut penonton dengan kutipan yang cukup nyeleneh.

Tentang data dari Wikipedia yang menunjukkan berapa jumlah orang yang lahir di tanggal yang sama. Dari jumlah yang sekian juta orang itu, belum ada fakta yang menunjukkan tentang kesamaan perilaku yang mungkin dimiliki. Kalau pun ternyata ada kesamaan, berarti Wikipedia belum ngasih tahu ke kita.

Dari situlah kemudian kamera langsung mengarah ke sepasang kekasih di sebuah rumah. Si istri, Rebecca, sedang hamil triplet–kembar tiga. Sang suami, Jack, kebetulan sedang berulangtahun. Secara tidak terduga, ketuban si istri pecah: bayi kembar tiga itu akan lahir secara prematur di hari yang sama dengan perayaan ulang tahun ayahnya.

Secara keseluruhan, This is Us di episode pilot ini terus berpusar di perkara kelahiran.

Kelahiran yang berarti memulai peradaban baru bagi para entitasnya. Kelahiran yang ternyata tidak sesederhana penulisannya. Lewat pemaknaan kelahiran, This is Us memberikan sangat banyak cinta di setiap detik durasinya–dan ini saya tidak sedang berlebihan.

Di scene berikutnya, ada Randall, eksekutif muda berkulit hitam yang sedang melihat-lihat data di komputer namun dikagetkan karena memperoleh kejutan ulang tahun dari para karyawannya. Di hari jadinya pula, Randall akhirnya memliki clue yang kentara tentang keberadaan ayah kandungnya. Ayah yang membuangnya sewaktu dia masih bayi.

Di scene lain, muncul Kevin. Seorang aktor yang banyak diidolakan karena dianggap “hot” berkat bermain di sebuah sitkom bertajuk The Manny. Namun dia sadar, dia tidak bahagia dengan kehidupannya sebagai aktor sitkom receh, sitkom yang selalu mengeksploitasi tubuhnya sebagai pemuas visual penonton. Dia ingin menjadi aktor yang bermain di pertunjukan berkualitas. Naas kontrak Hollywood sukses membuatnya gamang dan nyaris frustasi.

Terakhir, kita akan berkenalan dengan Kate. Perempuan yang mengidap obesitas dan ternyata adalah saudara kembar Kevin. Dia berjuang untuk menurunkan berat badannya. Sampai-sampai dia mengikuti sesi bersama para pengidap obesitas lainnya. Berkat kelompok itu pula, Kate bertemu dengan Toby–lelaki sinis yang langsung klop dengannya.

Masing-masing kelompok karakter utama memperlihatkan sisi struggle yang mesti mereka hadapi.

This is Us menyajikannya dengan cara yang sangat lebur–baik karakter maupun editingnya–seolah ini memang sajian yang tidak bersekat sama sekali dan ini adalah sajian yang sangat universal. Pun karena trik yang sangat subtil inilah, This is Us memiliki bekal yang ekstra kuat untuk memberikan letupan kejutan bagi para penontonnya.

Untuk lebih menggambarkan, sepanjang durasi This is Us saya kesulitan menyebut istilah insepsi yang saya rasakan.

Bukan speechless, hanya bingung harus merespons bagaimana.

Kamu bisa membayangkan, sebuah tayangan yang memberikan kehangatan, keharuan, semangat, dan berbagai momen menarik tanpa harus terlihat berlebihan.

Saya tidak akan mencoba membocorkan secara lebih detail–karena membocorkan kesederhanaan yang sesungguhnya kompleks dari This is Us saya bilang adalah tindakan kriminal–tetapi saya bisa menjamin bahwa kamu akan tergulung badai diversitas di sini.

Kamu akan melihat bagaimana cerdasnya orang-orang di balik naskahnya, mereka berani menyuguhkan ragam karakter yang nampak saling kontradiktif secara visual namun memiliki kekayaan batin luar biasa. Belum lagi ketika para penggawa departemen visual dan audio memberikan geberan terbaiknya. ITU ADALAH KEAJAIBAN!

Kalau selama ini kamu adalah orang yang sering dirisaukan dengan masih timpangnya equality maupun equity, This is Us lewat para cast-nya yang sangat berbakat akan mengobati kerinduan itu.

Pada akhirnya, kok bisa sih This is Us menjadi salah satu pilot terbaik yang pernah dibuat?

Ya karena serial TV ini sangatlah “manusia”. Kita bisa saja jengah dengan berbagai polah serta slogan kemanusiaan maupun wacana-wacana menjengkelkan di sekitarnya. Namun pada suatu kondisi sadar, kita tetaplah manusia yang sebenarnya sangat senang melihat bentuk penghargaan kepada manusia.

Penghargaan kepada manusia itu seringkali masih serampangan, termakan ego, sedangkan This is Us tidak begitu.

This is Us sukses tampil apa adanya dan sukses mengingatkan bahwa kita adalah manusia. Pengalaman audio-visual paling memuaskan dan mengesankan di fall season 2016.

Ps. Saksikan This is Us dengan sabar, nikmati setiap rangkaiannya. Boleh berspekulasi tapi jangan menghujat, sebab jawaban akan datang secara tidak terduga.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

Ralat formula skala 5: di gambar tertera "...)+2" yang benar adalah "...)+2,5"
(Visited 2,355 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required