Tuesday, July 23

Catatan Sinopsis “Poor Things” (2023) Sebuah Ode Steampunk Frankenstein untuk Era Feminis

“Poor Things” karya Yorgos Lanthimos muncul ke layar lebar dengan energi gelap dan absurd yang telah menjadi ciri khasnya.

Diadaptasi dari novel terbitan tahun 1992 karya Alasdair Gray, film ini menyeret kita ke dalam dunia steampunk ala Victoria yang di mana batas-batas sains, gender, dan moralitas dengan riangnya tak diacuhkan.

Sinopsis “Poor Things” (2023)

“Poor Things” membawa kita ke dunia Bella Baxter (diperankan oleh Emma Stone), seorang wanita yang kehidupannya telah dihidupkan kembali oleh ilmuwan eksentrik Dr. Godwin Baxter (diperankan oleh Willem Dafoe) setelah sebuah tragedi tenggelam yang mengerikan.

Bella yang dulunya hamil dan bunuh diri dengan melompat dari jembatan, dihidupkan kembali oleh Godwin dengan mengganti otaknya dengan otak bayinya yang masih hidup, mengakibatkan dia memiliki pikiran bayi.

Dengan implan otak janin, Bella secara bertahap bangkit dari kebingungan seperti anak dalam tubuh orang dewasa.

Kenaifan dan rasa ingin tahunya yang seperti anak-anak bertentangan dengan realitas bahwa ia dihidupkan kembali, menciptakan ketegangan yang menyayat hati dan penuh humor gelap.

Dalam perjalanan pengalaman hidupnya yang baru, Bella yang cerdasnya berkembang pesat, melarikan diri dengan seorang pengacara bergaya hidup hedonis, Duncan Wedderburn, meninggalkan kehidupan yang dikontrol oleh Dr. Baxter.

Mereka memulai perjalanan yang penuh dengan hedonisme, dimulai dari Lisbon dan berakhir tragis di Paris setelah serangkaian kejadian yang meningkatkan kesadaran Bella tentang kesenjangan sosial dan kebutuhan akan empati dan perubahan sosial.

Bella, dengan keunikan dan keberaniannya, membongkar kungkungan yang dibentuk oleh masyarakat dan membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kemanusiaan dan empati.

Di akhir cerita, setelah serangkaian pengalaman yang meninggalkan dampak mendalam pada dirinya, Bella kembali ke London dan menghadapi masa lalunya yang penuh trauma.

Dia dihadapkan dengan suami sebelumnya, General Alfie Blessington, yang menuntutnya kembali dalam kehidupan yang penuh kekerasan.

Dengan kecerdikan dan keberaniannya, Bella berhasil mengatasi Alfie dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan Godwin bersama Max dan Toinette; otak Alfie diganti dengan otak kambing.

“Poor Things” berakhir dengan note yang ambigu dan bikin merenung. Mengumbar pertanyaan-pertanyaan tentang cinta, otonomi, dan esensi dari apa yang kita anggap sebagai kehidupan.

Kisahnya adalah perayaan dari kekuatan, ketabahan, dan keinginan tak terkendali untuk mencari makna di balik eksistensi yang berlapis, yang seringkali sangat rumit dipahami.

ngepop sinopsis 2023 poor things

Catatan “Poor Things” (2023)

Lanthimos dikenal melalui film-film yang membuat penonton tidak nyaman, seperti “The Lobster” dan “The Favourite“. Ia tetap memasukkan keanehan khasnya ke dalam narasi film ini.

Namun, “Poor Things” lebih dari sekedar tontonan visual. Di bawah permukaan whimsicalnya terdapat alegori feminis yang kuat.

Bella, yang bergumul dengan ekspektasi sosial dan identitasnya yang terfragmentasi, menjadi simbol pemberontakan perempuan.

Perjalanan penemuan dirinya, didorong oleh haus akan pengetahuan dan kebebasan, yang otomatis menantang norma gender Victoria dan hierarki sosial.

Mark Ruffalo yang berperan sebagai Duncan, menampilkan maskulinitas sekaligus lembut yang jarang terlihat dalam film-film Lanthimos.

Eksplorasi film ini terhadap fluiditas gender menambah lapisan kompleksitas. Tubuh Bella, yang dirangkai dari berbagai bagian, merupakan penolakan terhadap determinisme biologis.

Pengalamannya, baik yang lucu maupun mengganggu, memaksa penonton untuk terbuka melihat absurditas klasifikasi gender yang kaku.

Meskipun berunsur komedi, “Poor Things” tidak menghindar dari horor masyarakat Victoria.

Film ini menggambarkan kekerasan terhadap perempuan, baik fisik maupun psikologis, dengan kejujuran yang tidak terelakkan.

Kesuraman ini bertujuan untuk menyoroti perjuangan Bella untuk mendapatkan pengakuan dan penentuan diri di dunia yang terus berusaha mengontrolnya.

Humor datar khas Lanthimos memuncak pada momen-momen gelap dalam film, menciptakan keseimbangan tonal yang unik.

Absurditas memang menjadi alat yang efektif untuk melontarkan komentar sosial. Memaksa penonton untuk tertawa pada kekonyolan norma sosial sambil sekaligus mengakui kekejamannya yang mengakar.

Pada akhirnya, film ini sangat mungkin membuat penonton merasa tidak nyaman. Namun ini adalah hal bagus. Hal ini bisa mendorong mereka untuk mempertanyakan hakikat identitas, kehendak bebas, dan definisi kemanusiaan itu sendiri.

“Poor Things” adalah perjalanan liar, rollercoaster dari tawa, keterkejutan, dan hard truths. Dalam dunia yang semakin bergumul dengan pertanyaan tentang identitas dan norma sosial, “Poor Things” muncul sebagai karya masterpiece dark comedy untuk era feminis.

1 Comment

Comments are closed.

Discover more from Ngepop.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading