Resensi Buku | “Ma Yan” Potret Kemiskinan dan Diskriminasi Gender

Judul: MA YAN (Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di Pedalaman China untuk Meraih Pendidikan) | Penulis: Sanie B. Kuncoro | Penerbit: PT. Bentang Pustaka | Cetakan: I (edisi III), Juli 2014 | Tebal halaman: viii + 240 halaman | ISBN: 978-602-291-038-1

Apakah kemiskinan merupakan sebuah warisan ataukah keturunan? Pertanyaan itu yang mungkin selalu membayangi kehidupan dari keluarga Ma Yan. Bersama ibu, ayah, dan adik-adiknya ia tinggal di Desa Zhangjiashu, sebuah pedalaman yang kering kerontang. Kehidupannya jauh dari kata berkecukupan, pendapatan orangtuanya jelas tak mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Ayahnya hanyalah seorang buruh serabutan, sedang ibunya bercocok tanam di ladang yang hasil panennya tak pernah memuaskan. Ditambah dengan faktor musim kemarau yang tak berkesudahan, maka lengkaplah sudah ‘persahabatannya’ dengan kemiskinan.

Novel berjudul Ma Yan ini merupakan novel biografi yang diceritakan dengan sudut pandang orang pertama melalui ‘kacamata’ Bai Juhua –ibu Ma Yan, dan Ma Yan sendiri. Ma Yan digambarkan sebagai seorang gadis yang memilliki semangat juang tinggi dan tak pernah mau menyerah. Sedang ibunya, digambarkan dengan seseosok ibu yang akan mengusahakan apapun agar anak-anaknya dapat hidup layak. Tema utama dari novel ini sendiri lebih kepada diskriminasi gender yang kemudian permasalahan mengenai pendidikan dijadikan isu utama dalam penceritaan.

Dalam novel tersebut dikatakan bahwa perempuan dianggap tidak memerlukan pendidikan. Pintu keluar dari segala persoalan perempuan adalah sebuah perkawinan. Dan perempuan agaknya harus senantiasa patuh, meski kepatuhan itu menempatkan dirinya pada hak-hak yang tereliminasi. Anak perempuan dianggap lebih pantas bekerja di ladang ketimbang bersekolah dikarenakan tradisi di sana menganggap bahwa sekolah bagi anak perempuan hanya suatu kesia-siaan belaka sebab yang akan menikmati hasil dari kesuksesan sang anak itu tadi bukanlah orangtuanya, melainkan suaminya.

Tokoh Ma Yan di sini berusaha untuk ‘menghentikan’ disriminasi itu. Baginya, sekolah merupakan tempat persemaian masa depan sekaligus sebuah peluang untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Menghentikan garis kemiskinan dan jalan untuk keluar dari penderitaan. Apapun konsekuensinya, tak peduli sekalipun demi mencapai sekolah ia harus berjalan sejauh 20 kilometer dengan segala rintangan bahaya yang menghadang dan tak peduli sekalipun itu berarti ibunya harus mengosongkan mangkuk nasinya.

Secara keseluruhan, pembingkaian tema dan eksekusi cerita yang diangkat pada novel ini terbilang sangat baik. Disamping menjadi sebuah novel, cerita di dalamnya sebetulnya juga dapat dijadikan sebagai buku motivasi. Kisah Ma Yan mengajak kita untuk muhasabah diri. Bercermin dan menengok ke bawah serta jangan pernah lupa untuk mengungkapkan syukur kepada yang Kuasa.

 

 

Author: Aliftya Amarilisya

(Visited 119 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Tentang Kemarau, Kemiskinan dan Diskriminasi Gender | A Red Journal

    […] Dan akhirnya, selamat membaca! *tulisan ini juga dimuat dalam portal berita Tersapa. […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required