Review Film | “Gifted (2017)” Hidup Sebagai Manusia yang Utuh

Estimasi waktu baca: 3 menit

Setiap anak layak memperoleh haknya sebagai manusia seutuhnya.

Manusia yang boleh punya pilihan, manusia yang bebas dari tekanan, bahkan manusia yang boleh mempertanyakan perspektif segala hal. Siapa pun itu. Gifted mengingatkan kita semua tentang masalah substansial ini dengan begitu hangat.

Film ini berkisah tentang Mary, seorang bocah jenius yang tinggal bersama pamannya—Frank, wali resmi pasca ibunya meninggal. Frank berusaha semampunya supaya Mary hidup layaknya manusia normal lain. Meski begitu, Frank selalu suportif pada rasa keingintahuan keponakannya. Di hari pertama sekolah, kecerdasan Mary membuat gurunya gelagapan. Beberapa waktu kemudian, pihak sekolah merekomendasikan Mary supaya pindah ke sekolah khusus untuk anak jenius. Frank menolak mentah-mentah sebab tidak ingin Mary bernasib sama seperti ibunya. Keputusan itu berubah menjadi perseteruan ketika nenek Mary datang dan berusaha mengambil alih hak asuhnya.

Apa sifat dasar manusia selain makan, berpikir, dan bertahan hidup? Film Gifted memberikan jawabannya: gumunan–takjub pada suatu hal.

Sifat ini umum terjadi sejak manusia masih belia sampai sudah manula. Coba ingat-ingat: anak kecil umum takjub pada pesawat yang melintas di angkasa; remaja takjub dengan kesuksesan orang-orang yang memperoleh julukan sebagai role model; orang tua takjub dengan perkembangan zaman yang semakin susah mereka ikuti.

Gifted sesungguhnya bukan film yang muluk-muluk.

Flow-nya tidak ngoyo (ambisius), bahkan pemberian porsi karakternya sengaja dibatasi biar tidak melebar ke mana-mana. Justru karena itulah, peyajiannya jadi ringan tetapi berhasil tampil subtil. Gagasan yang diangkat sukses membuka mata dan menyadarkan penontonnya tentang isu yang selama ini terlalu sering menyilaukan: perlakuan terhadap bakat inteligensia.

Wajar kalau manusia takjub pada kemampuan otak orang lain yang kebetulan berada di level jenius. Sayangnya, karena rasa kagum berlebihan inilah, orang-orang jadi umum paranoid dan begitu saja mencoba mengarahkan “mereka”—jenius—ke kelompok keterasingan–nantinya mereka digelonggong dengan rumus-rumus, ditempatkan di sekolah khusus, dan sebagainya. Alasannya: biar mereka bisa berkembang sampai di level potensi terbaiknya. Sayangnya, kadang lingkungan “terbaik” itu hanya berujung pada pemahaman aspek otak tanpa memberi kuota mencukupi bagi aspek hati dan kehidupan.

Anak-anak yang sudah terlanjur dicap jenius tadi dianggap tidak perlu memperoleh paparan pergaulan secara “wajar”–bermain dengan teman sebaya, apresiasi dari orang lain, menghargai diri sendiri, dan semacamnya. Gifted menyajikan kontradiksi dan implikasi terhadap tendensi masyarakat kita terhadap permasalahan ini begitu fasih.

Marc Webb sebagai sutradara berhasil mewujudkan naskah Tom Flynn menjadi bahasa audio-visual yang hangat.

Naskahnya memang polos dan sederhana, pun Gifted memilih jalur narasi yang tidak populer (tidak mengglorifikasi kecerdasan seseorang), tetapi penyampaiannyalah yang membuat Gifted dengan mudah mendapat pengecualian. Narasi ini bikin kagum bukan karena menampilkan pemecahan rumus matematika yang rumit, melainkan karena begitu besarnya “hati” yang dimiliki oleh filmnya itu sendiri. Opening Gifted adalah salah satu sekuens paling heartwarming yang pernah saya saksikan. Masih pula dibonusi bidikan gambar yang cantik, serta pemasangan musik latar yang presisi.

Secara lebih spesifik, tentu artinya Webb juga sukses mengarahkan para casts-nya dengan fluid, terutama Chris Evans (Frank) dan Mckenna Grace (Mary).

Evans di sini kembali membuktikan bahwa dia adalah aktor hebat, berilah dia masa rehat dari kontrak film franchise sehingga dia bisa mengeksplorasi beragam peran di berbagai proyek lain. Evans di sini bahkan mampu membuat performanya tidak tampil mendominasi partner duet-nya (Grace). Salah satu momen kuncinya, coba perhatikan adegan di rumah sakit—saya tersenyum lebar-mengharu biru sewaktu menyaksikan ini. Grace begitu mudah mengambil hati penonton di tiap kehadirannya. Masa depannya di dunia seni peran bisa dibilang menjanjikan.

Gifted tidak mau mengajari, justru memberikan segepok kemungkinan-kemungkinan, pilihan-pilihan, yang lalu membiarkan penonton untuk menentukan sendiri mau berdiri di pihak mana.

Tidak ada penghakiman di akhir, yang ada hanyalah kemenangan nurani satu pilihan terhadap pilihan lain. Kemenangan yang tidak untuk dijadikan ajang huru-hara, justru dijadikan ajang bersama untuk sama-sama mengembalikan “rasa” diri kita serta “hak berbicara” milik “mereka”.

Gifted memperoleh 9 dari 10 bintang

Film Gifted (2017) telah ditonton pada 16 Mei 2017, review resmi ditulis pada 16 Mei dan 12 Agustus 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 407 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required