Sunday, October 17

Review Film | “Hidden Figures (2016)” Tidak Ada Mayor Tanpa Minor

Seyakin pose tiga perempuan di posternya, Hidden Figures tampil percaya diri dan stabil.

Meskipun membawa frasa yang cukup berat: “untold story”, tetapi film ini lewat penanganan Theodore Melfi memilih jalur alternatif dengan mengisahkan perjalanan para tokoh sentralnya di sirkuit ringan. Kita bisa dengan mudah dibuat tersenyum, geram, tertawa, dan beberapa kali terharu-merinding di momen-momen yang memang “perlu” diganjar impresi tersebut.

Film ini berlatar tahun 60-an dengan karakter utamanya adalah tiga orang perempuan ras kulit hitam: Katherine, Dorothy, dan Mary. Mereka memiliki kecerdasan saintifik di atas rata-rata. Namun, berada di periode ini, masyarakat kulit hitam masih dimarjinalkan. Ada pengkotak-kotakan fasilitas berdasarkan warna kulit. Tak terkecuali di lembaga keilmuan sekelas Nasa tempat mereka bekerja. Di tempat ini, kita diajak untuk mengikuti hiruk-pikuk kegerahan periode perang dingin Amerika terhadap Rusia berkaitan dengan peluncuran teknologi eksplorasi ke angkasa luar.

Ketika dibuka dengan adegan flashback, saya sempat mengira jangan-jangan pendekatan penceritaan yang dipilih bakal berat. Sebenarnya tidak masalah ketika film ini sekiranya mau memilih untuk menjadi film yang mind-blowing. Toh berbagai pilar penyangganya sudah tersedia: untold story, permasalahan ras di Amerika, era perang dingin Amerika-Rusia, kecerdasan otak, hingga Nasa. Maka ketika di guliran durasi setelahnya Hidden Figures justru tampil ceplas-ceplos, komikal, dan seperlunya, jelas saya dengan mudah langsung dibuat bahagia.

Lewat ragam sentimen yang dipertunjukkan sejak awal, kita dibuat sadar bahwa ego superioritas nampak sangat memuakkan.

Superioritas ini–warna kulit di sini–tidak ada hubungannya dengan kapasitas diri, hanya berbekal tampilan luaran yang bahkan kalau dijadikan sebagai “standar baku” menghakimi orang lain, ini adalah tindakan yang sangat hewani. Untung saja Hidden Figures tidak terjerembab maupun latah mengeksploitasi busuk-ya ego tersebut.

Ambil contoh ketika adegan menunjukkan tiga tokoh utama harus berhenti di tengah jalan karena mobilnya mogok. Alih-alih tampil menegangkan, sekuens ini jujur sangat menghibur. Salah satu di antara mereka memperbaiki mesin dengan berbaring-menyusup di bawah mobil dan nampak sangat maskulin dan terampil. Di bagian ini, permasalahan stigma bahkan sudah dipukul telak. Meski ketika kita mengarahkan ke konteks era itu, jelas kemampuannya akan terus didiskreditkan–kulit hitam dan perempuan.

Hal ini diperkuat ketika datang seorang petugas kepolisian yang menaruh curiga kepada ketiganya. Dia melemparkan pandangan penuh kesinisan bahkan ketidakpercayaan. Dan ketika mereka menyebut tempat kerjanya adalah Nasa–dengan menunjukkan kartu identitas–tetap ada gurat sangsi, sampai-sampai si polisi bersikukuh untuk mengawal mereka.

Dari rangkaian pembukaan tersebut saja kita sudah dibuat familiar bahwa ke depannya film ini memang akan giat merongrong perihal “kesangsian”.

Tunggu sampai kamu dibuat bimbang antara marah dan/atau sakit hati ketika sentimen itu ditunjukkan lebih frontal meskipun mereka–dan pegawai kulit hitam lainnya–bekerja di Nasa bukan sebagai pembantu kelas bawah. Mereka bekerja sebagai teknisi, ilmuwan, mereka adalah orang-orang yang jenius.

Apa perlakuan sosial yang masih dipertahankan? Toilet dipisahkan antara yang putih dan berwarna, makan pun begitu–terpisah ruangannya–apalagi momen ketika Katherine harus menuang minum dari teko berbeda yang sudah dilabeli. Entah kalau misal saya harus berhadapan dengan realitas semacam itu, saya tidak yakin bisa hidup tenang tanpa dirundung pergulatan batin berkelanjutan yang bikin depresi.

Namun jangan salah, kultur minoritas itu ajaib.

Ketika saya sendiri menyatakan ketidaksiapan dengan kondisi tersebut, para karakter yang posisi sosialnya dianggap minoritas justru kesehariannya seperti utopia tersendiri. Mereka hidup menerima dan bertanggungjawab ketika di tempat kerja, lalu hidupnya tambah dipenuhi kedamaian, optimisme, dan kebahagiaan ketika sudah berada di lingkungan terdekatnya–tempat tinggal. Inilah yang saya kira masih menjadi ketimpangan di belahan dunia mana pun: kelompok mayoritas tidak pernah mau diberi kewajiban serupa untuk berlaku adil–umumnya jiwa adil ini bersifat opsional sukarela alias kesadaran diri.

Puas membongkar kebiadaban sosial di masa lalu, jangan pula bayangkan bahwa Hidden Figures selanjutnya ganti topeng menjadi pengisahan melodramatis.

Seperti sudah saya sebut di awal, sebagai film yang jatuhnya malah menggembirakan, karya ini semacam simbolisme selebrasi tentang orang-orang yang “tertutupi”–bukan terlupakan. Banyak sekali adegan meriah yang juga didukung oleh pakaian warna-warni yang digunakan oleh para pegawai kulit hitam–kontras dengan pegawai kulit putih yang penampilannya gitu-gitu saja.

Menggembirakan pula ketika di akhir, film ini tidak menjustifikasi ras mana yang paling unggul.

Ini adalah tentang kesetaraan. Semua direpresentasikan sesuai porsinya, tidak cuma di level penampilan, tetapi juga “kepribadian”. Kudos untuk Taraji P. Henson, Octavia Spencer, dan Janelle Monae yang tampil ekspresif nan solid lengkap dengan dukungan departemen visual mumpuni.

Di luar itu semua, secara teknis dan logika substansi Hidden Figures memang masih sempat tersandung beberapa kali. Mungkin karena terbawa suasana dengan kemasannya yang ringan, di bagian-bagian yang melibatkan lagu, saya merasa penempatannya tidak pernah pas. Semacam khilaf ditumpuk tanpa mengecek ulang bahwa hal itu malah bikin kesan nanggung. Pun karena di awal penonton sudah diperkenalkan dengan tiga tokoh sekaligus, beberapa kali kita dibuat kurang merasakan motivasi dan signifikansi keberadaan karakter tertentu. Sangat mungkin karena pengembangan karakter dan pemberian porsi durasinya kurang, sampai-sampai ada momen emosional yang masih berada di level “nyaris”–belum sampai level “tuntas”.

Sebagai pamungkas, Hidden Figures adalah tentang kebenaran–atau fakta sejarah–yang dianggap minor. Namun, bukan berarti kita tidak perlu tahu.

Justru lewat film inilah kita diberi contoh nyata bahwa di sejarah Amerika Serikat sendiri, yang saat ini nampak sangat berkuasa, pengiriman manusia ke angkasa luar dan kembali ke bumi untuk pertama kali adalah berkat kehadiran sosok hebat yang saat itu merupakan bagian dari minoritas. Sosok yang tertutupi inilah yang menjadi fondasi dasar dari misi-misi lainnya yang jauh lebih besar di tahun-tahun berikutnya.

Hidden Figures memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

Film Hidden Figures (2016) telah ditonton pada 28 Desember 2016 dan 10 Januari 2017, review resmi ditulis pada 21 Januari 2017.

(Visited 507 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *