Review Film Indonesia | “Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)” Berusaha Menggoda Penonton

Estimasi waktu baca: 3 menit

Seperti ulasan singkat dari warganet di Twitter, film Filosofi Kopi 2 adalah film yang menyenangkan, dekat, dan ringan.

Menyenangkan karena, seperti film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko lainnya, film Filosofi Kopi 2 disajikan dengan gambar-gambar yang sedap.

Cantik dan memenuhi standar ‘kekinian’ yang ada dalam benak banyak orang. Saya cukup yakin orang-orang mampu menikmati pemandangan sedap dari setiap detailnya. Mulai dari pencahayaan, perabot, warna, tata busana, dan bahkan tata rambut!

Oh My God, saya suka banget dengan gaya rambut Tarra dan Brie. Di satu sisi, saya gemas setengah mati ingin mengeramasi Ben, padahal dia memang sudah bergaya seperti itu sejak Filkop 1.

Dekat ini adalah gambaran konflik dalam Filosofi Kopi 2.

Rupa konfliknya beda tipis dengan hari-hari yang berjalan seperti biasa; kepercayaan, persahabatan, dan cinta. Ketika mendengar film bertema persahabatan dan cinta, orang mungkin akan berpikir ‘meh’. Tapi percaya deh sama saya kalau Filosofi Kopi 2 punya porsi konflik kepercayaan lebih besar daripada konflik yang lain.

Ringan di sini merujuk pada perasaan-perasaan yang hadir (terlalu) tepat waktu.

Tumbuh saat film mulai lalu berakhir pada penghujung film. Berakhir. Tidak menyisakan dorongan untuk berkata, “Eh kamu harus nonton Filkop 2! Sumpah kamu harus nonton!” kepada teman-teman atau khalayak luas di media sosial. Film Filosofi Kopi 2 terlalu ringan untuk memberikan after taste kepada penonton. Mungkin celah ini sudah disadari sejak awal sehingga setiap tiket bisa ditukar dengan secangkir kopi di Filosofi Kopi. Mungkin supaya hype ngopinya lebih terasa? Sekalian memanfaatkan hasrat generasi media sosial: masa iya ngga update tentang secangkir kopi gratis berkat tiket film.

Seorang teman berkata bahwa Ia kurang merasakan kedalaman karakter Ben, Jody, Tarra, dan Brie. Seharusnya karakter mereka bisa digali lebih dalam dan banyak dipaparkan melalui penyelesaian masalah. Sayangnya film ini lebih suka menyelesaikan masalah dalam bentuk tanda seperti tatapan, senyuman, atau pelukan bersahabat. Jadi kesempatan untuk menjelaskan karakter malah terlewatkan begitu saja.

Menurut saya, kekurangan ini bukan masalah besar. Kebutuhan untuk mengenal karakter Ben, Jody, Tarra, dan Brie sudah dipenuhi dengan trailer film (meskipun akan lebih maksimal kalau terjelaskan dalam film). Bahkan kalau boleh, saya ingin memuji kesungguhan dan kehati-hatian pembuatan trailer Filosofi Kopi 2. Trailer tersebut memakai beberapa scene yang tidak digunakan dalam film dan meramunya dengan beberapa dialog yang tidak kita dengar dalam film.

Trailer Filosofi Kopi 2 menjanjikan cerita tentang gairah Ben dan Jody menyala-nyala. Ditambah Tarra dengan ketegasan dan antusiasme tinggi. Plus barista baru Brie, yang diam-diam memperhatikan. Semuanya cinta mati pada pekerjaan mereka. Informatif dan menggoda tapi tidak spoiler, kan? Yah meskipun trailer tersebut, saking bagusnya malah memiliki kekuatan berbahaya: meninggikan ekspektasi.

Terakhir, they give us a truly happy and warm ending.

Sebuah open ending yang cukup indah untuk mengakhiri ini dan itu, tapi tidak masalah juga kalau (sewaktu-waktu) digunakan sebagai titik awal cerita baru. It’s not a compliment. Soalnya saya jadi bertanya-tanya apakah endingnya sengaja dibuat sebegitu terbuka untuk peluang masuknya ide cerita Filosofi Kopi 3 (berjaga-jaga jika Filkop 2 dicintai sebesar film pertamanya).

P.S : Filosofi Kopi 2 membuat saya berpikir apakah bentuk iklan product placement tidak lagi pantas sehingga pembuat film lebih suka menempatkan beberapa TVC di awal film? Bukan masalah besar kok. Cuma ya rasanya aneh aja lihat sesuatu yang biasanya seukuran TV eh tiba-tiba muncul sebesar layar bioskop.

Rating: 7,9 / 10

Author: HANIFA EKA

(Visited 275 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required