Wednesday, October 27

Review Film | “Kimi No Na Wa (Your Name) (2016)” Merayakan Absurditas Manusia

Apalah sinema Asia kalau tidak memasukkan nilai-nilai mistis ke dalamnya.

Dan hal demikianlah yang membuat karya-karya dari benua ini bisa unik sekaligus menarik, sebab perangai mistis tersebut selalu efektif menyasar level personal. Kita dibuat merasa terhubung langsung secara emosional, meski nampaknya tidak wajar.

Your Name bercerita tentang dua pelajar yang tidak saling kenal, tidak tinggal di daerah yang sama, tidak seragam jenis kelaminnya, dan pada awalnya benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sesudahnya, mereka pelan-pelan sadar bahwa keduanya saling “bertukar tubuh”. Kejadian yang pada awalnya nampak sangat janggal tersebut lama-lama menyatukan keselarasan mereka dengan dramatis sekaligus humoris. Kondisi euforia itu tidak berlangsung lama. Ketika Taka mulai berinisiatif mencari-cari Mitsuha, ternyata realitas terjadi di luar nalarnya.

Banner kimi no na wa your name 2016 ngepopcom

Dengan judul asli Kimi No Na Wa, tidak berlebihan kalau Your Name banyak disebut titisan Spirited Away versi modern.

Saya pun tidak keberatan. Dan karena sebagai sebuah karya sinema, Your Name malah lebih bisa membuat saya terikat. Film ini menapaki timeline-nya pelan-pelan, memberikan kesempatan pada penonton untuk memperhatikan detail dan merasakan adanya keterhubungan dengan situasi universal yang juga tengah berjalan saat ini.

Misalnya ketika sosok Mitsuha digambarkan memiliki ayah yang mencalonkan diri sebagai walikota. Kondisi yang paling tidak membuat Mitsuha merasa serba salah. Di satu sisi dia tidak ingin menghalang-halangi ayahnya, tetapi di sisi lain hal tersebut membuat jaring-jaring hubungan internal mereka menjadi cukup renggang–apalagi Mitsuha sedang ada di fase beranjak dewasa.

Sebagai sebuah film animasi, Your Name ini terlalu nyata, tahu situasi dan kondisi–peka, bahasa gandrungnya.

Berbagai sindiran yang dilempar oleh animasi ciamik ini semakin meneguhkan bahwa dunia yang kita tinggali sekarang semacam berada di rel yang salah, aneh. Ada paradoks-paradoks yang agaknya nampak sederhana namun sebenarnya itulah wujud kegamangan berpikir manusia.

Misalnya ketika Mitsuha merasa bahwa kehidupannya di tempat terpencil tidaklah menguntungkan, tidak ada fasilitas hiburan yang memadai, boro-boro hura-hura. Namun di sisi satunya, kota pun memberikan impresi yang tidak begitu menyenangkan, Taka sering merasa kewalahan ketika berada dalam suasana interaktif, realitasnya tidak semuluk-muluk bayangan orang dari desa.

Menilai film animasi itu sangat sederhana, saking sederhananya, kadang saya takut kalau malah melenceng ke mana-mana. Sebab, di lini ini hanya ada dua aspek utama: substansi dan teknis. Untuk perkara teknis pun lebih sederhana dari film yang diperankan oleh orang sungguhan, cukup berfokus pada: suara dan gambar. Beranjak dari batasan yang saya utarakan tersebut, tulisan ini tidak akan berakhir terlalu panjang.

Yang jelas, Your Name masuk daftar salah satu film animasi terbaik tahun ini.

Terlepas dari buruk sangka saya yang merasa bahwa film ini terlalu banyak berusaha menyisipkan hal untuk digenggam erat–yang sesekali jadi nampak kikuk dan overwhelming untuk ditangani, terutama di durasi awal–tetapi paruh tengah ke akhir adalah perjalanan spiritual tersendiri. Ini memang bukan buatan Ghibli, tetapi Your Name bisa membuktikan bahwa dirinya punya “nyawa” yang berharga pula. Dan, di samping aspek narasi visual, film ini patut membanggakan soundtrack-nya.

Your Name memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

Film Your Name (2016) telah ditonton pada 29 November 2016, review resmi ditulis pada 9 Desember 2016.

(Visited 663 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *