Review Film | “Kubo and the Two Strings (2016)” Menggumuli Ketidaksempurnaan

Estimasi waktu baca: 2 menit

Seumpama manusia, Kubo and the Two Strings adalah tipe orang yang sudah mengenal dia siapa dan tujuan hidupnya mau ke mana. Ketika aspek intrapersonal ini sudah sangat kuat, apa pun keputusan yang diambil tidak lagi menakutkan.

Film ini sangat percaya diri menunjukkan pada penonton: ketidaksempurnaan itu sempurna.

Kubo and the Two Strings bercerita tentang sang tokoh utama bernama Kubo. Dia adalah anak lelaki dari seorang Pria Ksatria dan seorang wanita yang sengaja saya rahasiakan identitasnya. Kubo selalu diburu oleh sang kakek–dibantu oleh saudari ibunya–untuk diambil bola matanya. Sewaktu bayi, satu bola matanya sukses raib. Setelah sudah lebih besar, Kubo tinggal bersama ibunya di sebuah daerah antah-berantah. Kronologi jadi kacau setelah Kubo tidak sengaja melanggar pesan sang ibu.

kubo and the two strings banner ngepopcom

Ketakutan pada kenyataan menjadi sangat dekat ketika penonton menyaksikan film ini–sebab belum siap sepenuhnya.

Kita akan dikeroyok oleh rasa mencekam yang ganjil, mengingat Kubo and the Two Strings merupakan sajian animasi stop-motion. Namun tidak berhenti sampai di situ, film ini tidak mau begitu saja menumbalkan sisi “malaikat”-nya. Dalam satu tatakan, seolah tersaji berbagai pilihan menarik namun tetap dengan komposisi timpang–sesuai gagasan dasar dari kisahnya. Naskah, pengarahan, pengisi suara, dan visual-nya top notch!

Menyaksikan Kubo artinya kita diajak untuk menghargai cacat kehidupan.

Sejak permulaan, penonton sudah ditodong oleh adegan mengerikan yang menjadi titik masa mengapa Kubo buta sebelah. Selanjutnya, naskah film ini terus menggulirkan manifestasi dari kepincangan itu di berbagai lini.

Mulai dari ibunya yang semakin melemah hingga dependen kepada Kubo; visual tempat pengasingan Kubo dan Ibunya yang nampak mencemaskan; keseharian Kubo sebagai seorang pendongeng via origami hidup yang mengagumkan sekaligus penuh keanehan–selain karena selalu absennya ending di dongengnya–; dilema yang melekat dan dihadapi oleh para pelindung Kubo; hingga matinya rasa kemanusiaan di keluarga besar Kubo.

Dengan ragam yang ada, Kubo membuktikan keping demi keping bahwa abnormal is the new normal.

Lihatlah ketika Kubo sangat fasih berinteraksi sewaktu bersama dengan origaminya. Film ini tahu betul implementasi dari frasa “live in the moment”. Bahwa untuk berbagai hal yang dekat dengan kehidupan manusia, merasakannya sampai ke titik yang benar-benar merasuk adalah esensi sesungguhnya. Tak terkecuali di bagian penyadaran tentang kenangan adalah sesuatu yang sangat luarbiasa dan tidak semestinya dialfakan.

Pengalaman sinematik semacam ini sangatlah langka sekaligus heartwarming.

Ketika Kubo and the Two Strings dibuka, kita memang sempat berada di posisi penuh harap-harap cemas. Pasrah tentang nasib para karakternya seolah memang ada koneksi mendalam yang menyeruak ketika durasi mulai bergulir–dengan karakter yang bukan ras Amerika maupun Eropa.

Namun justru itulah yang membuat semuanya nampak mengesankan. Mencuplik teori dari Kakek si Kubo–meski pemahamannya timpang–, buta pada kemanusiaan adalah kesempurnaan. Kita tidak bisa benar-benar menghakimi tiap entitas ketika berada di kondisi tersebut. Dan untuk beberapa kesempatan, hal itu ada benarnya.

Ini adalah sajian filosofis.

Kubo and the Two Strings layak diganjar 9 dari 10 bintang.

Film Kubo and the Two Strings (2016) telah ditonton pada 13 September 2016, review resmi ditulis pada 13 September dan 28 September 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 880 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required