Tuesday, October 26

Review Film | “The Preppie Connection (2016)” Realisasi Ala-Ala

Buat milenial, apalagi yang tinggal di luar Amerika, The Preppie Connection adalah manifestasi dari kata “asing”.

Dan sebagai sebuah narasi yang mengangkat kisah berdasarkan jejak langkah masa lampau, sudah selayaknya film ini mampu mengonversikan ketidaktahuan penonton menjadi sebaliknya. Kabar baiknya, film ini bisa memperkenalkan. Namun, The Preppie Connection melakukan pendekatan personal yang keliru dalam adaptasinya.

Film ini berkisah tentang seorang pemuda, Tobias alias Toby, yang memperoleh beasiswa di sebuah sekolah bergengsi. Itu merupakan angan-angan dari orangtua, terutama ibunya, sejak lama. Namun Toby tidak seantusias itu. Di hari pertama, dia sudah mengalami perlakuan tidak mengenakkan dari sekelompok teman satu pondokan–untungnya ada satu murid dari Kolombia yang selalu membantu. Meski demikian, dia merasa harus masuk lingkaran pertemanan yang menggiurkan itu. Intinya, Toby salah pergaulan, mengenal kokain, dan menjadikannya semakin radikal.

the preppie connection 2016 ngepopcom

Penyelundup dan penjual kokain. Itu adalah inti dari Preppie Connection.

Film ini berlatar era-80-an ketika Kolombia dikenal sebagai surganya narkoba. Namun berbeda dengan film-film lain yang mengangkat isu serupa, film Preppie Connection kesulitan menentukkan fokusnya. Implikasi paling dekat, berbagai rangkaian emosional yang coba disuguhkan jadi lempeng-lempeng saja–datar.

Dalam bayangan saya, film ini mengkhianati konsensus film tentang narkoba.

Dan itulah mengapa kata istimewa berasa sangat berjarak dengannya. The Preppie Connection semestinya berjalan di rute “film depresi”. Ketika atmosfer depresi itu berhasil digenggam, pengisahan semacam ini akan otomatis diikuti oleh kadar fokus yang lumayan–bahkan bisa sampai memabukkan–pun emosi karakternya mampu menular.

Sejauh durasi berjalan, film ini hanya disokong oleh satu penampilan lumayan, Thomas Mann sebagai Toby.

Apakah cukup? Jelas tidak. Karena para pemeran pendukungnya hanya tampil biasa saja bahkan seringkali kebingungan dengan apa yang mereka lakukan. Karakter Toby pada akhirnya tidak menampakkan perubahan yang berarti sejak prolog hingga epilog, stagnan.

Melanjutkan kalimat bahwa film ini melakukan pendekatan yang salah, Preppie Connection seumpama makhluk yang masih mencari bentuk.

Penonton disuguhi fakta menyedihkan tentang sekolah populer sejak awal. Lalu penonton dijejali berbagai adegan yang menampakkan buruknya pilihan pergaulan si tokoh utama. Selanjutnya ditutupi oleh orientasi yang dibelokkan materi dan romansa. Semuanya ditumbuk menjadi satu tanpa memperhatikan bahwa fase film ini begitu buruk. Komposisi tarik-ulurnya tidak jelas dan menyebabkan semua potensi “rebel” itu hanya berhenti di kualitas seadanya. Jangan bayangkan realisasi aksi kartel yang intens, atau kucing-kucingan dengan customs bandara maupun DEA yang menyesakkan, just don’t.

Penggarapan kelas medioker bagi The Preppie Connection sugguh menyisakan kegamangan.

Joseph Castelo menyia-nyiakan potensi “raw” yang dimiliki oleh material “kesaksian” ini. Untuk kasus tertentu, termasuk di film Preppie Connection, main aman bukanlah langkah bijak. Apalagi kalau masih takut-takut, sampai-sampai berbagai sekuensya tega ditimpa oleh layer scorring yang buruk–hingga mengaburkan banyak hal. The Preppie Connection yang punya bekal untuk menyentak publik–seperti yang sudah dilakukan oleh Spotlight–harus berakhir mubazir.

The Preppie Connection memperoleh 6 dari 10 bintang.

Film The Preppie Connection (2016) telah ditonton pada 26 September 2016, review resminya ditulis di hari yang sama.

(Visited 246 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *