Review Film | “Les Misérables (2012)” Cahaya Temaram dalam Kegelapan

Estimasi waktu baca: 3 menit

Les Miserables berseting pada awal abad 19 di Perancis. Menceritakan kehidupan Jean Valjean (Hugh Jackman), seorang laki-laki yang telah menyelesaikan masa tahanan–perbudakan–dan menjalani masa bebas bersyarat. Kisah dimulai saat Ia diberi surat identitas penanda sebagai orang yang berbahaya, kemudian bertemu dengan pastur yang justru memanusiakannya, dan mulai hidup sebagai orang baik–dan terpandang.

Meskipun tokoh utamanya adalah Jean Valjean, film ini tidak hanya berputar pada kehidupannya.

Les Miserables juga bercerita tentang orang-orang yang rela melakukan apa pun demi memperjuangkan orang lain.

Rantai kebaikan yang perlu pengorbanan ini, digambarkan seperti cahaya dari sebatang lilin dalam ruang gelap. Menyinari dengan sebisanya, tetapi pada akhirnya mati juga. Lalu ketika mati, orang-orang baru merasa kehilangan dan menyadari betapa berharga keberadaannya.

Perhitungan yang dilakukan tidaklah main-main untuk menyampaikan pesan tersebut. Film ini dibuat bernuansa dingin. Mengambil seting tempat di jalanan di antara gedung-gedung tinggi, ruangan sempit, dan sewaktu malam. Kalaupun seting waktu siang, pencahayaannya minim karena kondisi mendung atau sedang turun hujan. Di saat muncul kebaikan, di sanalah ada cahaya temaram–dari lilin atau lampu-lampu kecil.

Film ini berusaha menyampaikan pesan bahwa “keadilan yang hitam putih tidaklah adil” melalui sosok Inspektur Javert (Russell Crowe).

Javert adalah “petugas” yang menjalani kehidupannya dengan hati dingin. Ia menaati peraturan karena percaya bahwa aturan merupakan jalan kebenaran sesuai kehendak Tuhan. Ia dengan tegas menghukum siapa pun yang bersalah, akan tetapi Ia tidak mempercayai orang miskin–karena menurutnya orang miskin berusaha bebas dari hukuman dengan statusnya sebagai orang miskin.

Dalam pusaran kehidupan Jean, Javert adalah sesosok laki-laki berbadan tegap dan berseragam lengkap, sayangnya dia selalu hadir di saat yang tidak tepat. Saya dibuat geregetan sampai pada level ingin misuhi setiap mukanya muncul di layar.

Les Miserables memang menyeret-nyeret emosi.

Soal penuturan tokoh-tokohnya yang dilakukan melalui nyanyian, saya cuma bisa tepuk tangan. Tidak ganjil dan justru menghanyutkan. Sebagai penonton, saya merasa scene pertama tepat dipakai untuk membantu memahami “semesta” Les Miserables yang dituturkan melalui nyanyian.

Nyanyian dalam film “dingin” seperti ini justru memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Membuat diri sendiri bergumam, “Eh ternyata bisa ya, memadukan seni pertunjukan dan film terus jadinya bagus begini!”

Secara personal, saya mengagumi keseluruhan presentasi Les Miserables.

Setiap unsur ceritanya berhasil mengganggu kenyamanan penonton. Dimulai dari perasaan tidak berdaya yang ditularkan kepada penonton sejak scene pertama. Lalu seolah membekali sedikit trauma atas hukum yang semena-mena. Tidak lupa memberi harapan melalui kemunculan Jean, Fantine, Marius Pontmercy, Cosette, dan Eponine karena tampaknya cinta dan kebaikan masih ada. Formula ini pada akhirnya menimbulkan keinginan penonton untuk mendukung pemuda-pemuda yang menggelorakan revolusi.

Repetisi rasa dalam Les Miserables tampaknya dilakukan untuk menegaskan bahwa realita tidak hitam putih dan hukum yang tidak adil itu pantas dilawan. Meskipun kehidupan setelah kematian tampaknya lebih indah, film ini masih meminta kita untuk tidak putus asa. Toh, cinta masih bisa hidup jika ada usaha untuk menghidupinya.

Rating: 8,5/10

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 97 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required