Review Film | “Manchester by the Sea (2016)” Tidak Butuh Pura-Pura

Manchester by the Sea adalah film paling raw (mentah)–di makna positif–rilisan 2016, bahkan tetap relevan dalam repositori karya sinema sekian tahun terakhir.

Bermain dengan elemen “kehilangan”, film ini menampilkan karakter-karakternya yang sangat nyata, lengkap dengan problema yang sangat jauh dari kesan pura-pura.

Perjalanan hidup kali ini mengikuti keluarga Chandler dan orang-orang terdekatnya. Sosok sentralnya adalah Lee Chandler, seorang tukang bersih-bersih gedung yang tiba-tiba mendapat panggilan seluler yang memberi tahu bahwa saudaranya, Joe Chandler, meninggal. Joe sebelumnya sudah didiagnosis penyakit parah yang berhubungan dengan kondisi jantung, bahkan sudah diprediksi umurnya tidak akan lama lagi. Dalam wasiatnya, Joe sertamerta menunjuk Lee sebagai wali anaknya, Patrick. Di sinilah gejolak batin itu dimulai.

Ketika di awal saya menyebut bahwa film ini “raw”, ini adalah ungkapan sejujurnya. Ambil perbandingan begini: Eropa adalah pabriknya film-film raw, tetapi, mereka masih tetap memberikan “bumbu” sehingga terkadang di satu (atau beberapa) waktu muncul sajian yang beraroma tidak wajar, janggal. Kebanyakan wujudnya berupa tindakan impulsif. Sedangkan, Manchester by the Sea semacam tidak diberi bumbu sama sekali. Seumpama makan, bukan berarti hambar, melainkan benar-benar rasa asli dari suatu masakan. Semisal nasi, ya cukup nasi yang ditanak, bukan nasi kuning lebih-lebih nasi uduk.

Atas dasar ini pulalah, pasca mengkhatamkan Manchester by the Sea saya sempat ikut terserang perasaan khawatir. Dengan penyampaian jujur nan apa adanya, saya kira review film ini tidak akan cukup panjang. Mengingat saya berkeyakinan: biarkan penonton (yang belum menonton) hanyut di perjalanan spiritual lewat film ini secara utuh. Meski begitu, review ini tetap akan mengulik daftar verdict utamanya.

Casey Affleck. Manchester by the Sea adalah tentang dia dan karakternya (Lee) seutuhnya.

Performanya susah untuk dideskripsikan. Dia tampil rapuh, tapi juga keras, tapi juga humoris, tapi juga penyayang, dan tapi juga-tapi juga lainnya. Lewat ucapan lirihnya yang sering diseret-seret (e seperti sate), kita merunut satu demi satu dinamika kehidupannya. Dari melajang hingga melajang lagi. Dari melaut dengan sang keponakan (Patrick), sampai kembali melaut bersama lagi.

Ya, ini adalah film yang naskahnya begitu simetris.

Anggap saja film ini bagai selembar kertas yang dilipat: ujung ketemu ujung lembarannya laksana pinang dibelah dua, serupa tapi tak sama. Untuk itulah, verdict terkuat kedua adalah naskah skenarionya.

Mungkin saya salah strategi–mungkin juga tidak–sebab saya memilih membaca naskahnya dulu sebelum menonton filmnya. Tiga kali pula bacanya. Skenario Manchester by the Sea mesti dipuji, teksnya sangat mengalir, ahli mengacau perasaan, sekaligus efektif menenteramkan.

Dan ketika diterjemahkan ke wujud film, aspek visual dan audial bersinergi memperkuat mood tersebut.

Sinematografi Manchester by the Sea sangat jarang menggunakan angle close-up, dan ini bukan tanpa sebab. Melalui alur penceritaannya, kita sadar bahwa aspek teknikal ini memegang peranan penting dalam hal menunjukkan realitas sang karakter pada perspektif dunia di sekitarnya–tidak hanya memperlihatkan posisi kuasa terhadap audiens.

Beralih ke substansi, kita tidak akan dipusingkan dengan koneksi paralelnya–karena sebenarnya sangat sederhana.

Perlu dipahami plot Manchester by the Sea menggunakan formula campuran antara masa silam dan sekarang. Namun, itu bukanlah perkara besar sebab semuanya berpusar di keluarga Chandler dan orang-orang terdekatnya. Inilah yang kemudian dieksplorasi dan menjadikan substansi “raw” Manchester by the Sea begitu kaya tanpa perlu tambahan bumbu lagi.

Entah ketika Lee harus teringat kembali dengan masa lalunya–termasuk yang kelam–atau dipertemukan kembali dengan mantan isterinya, atau dihadapkan dengan ceplas-ceplos dan kelakuan keponakannya, atau tentang keputusan yang mesti diambil berkaitan dengan kapal Claudia Marie milik Joe, dan seterusnya. Film ini memperlihatkan motivasi antar karakter dalam keluarga secara heartwarming dan heartbreaking sekali suap.

Yang paling menarik adalah mengamati interaksi antara Lee dan Patrick serta Lee dengan Randi.

Bahkan sejak Patrick masih kecil, chemistry keduanya sudah begitu priceless. Padahal kenyataannya, pasca kejadian penyebab berpisahnya Lee dan Randi, kepribadian Lee dan Patrick semacam antitesis. Karenanya, dua karakter ini dengan mudah masuk ke daftar duet karakter favorit saya sepanjang masa. Lucas Hedges membawakan sosok Patrick dengan meyakinkan–termasuk untuk gestur-gestur “bocah”nya.

Lain halnya dengan kehadiran Randi. Kalau interaksi Lee dan Patrick tampil menyenangkan untuk disimak, komposisi Lee dan Randi sungguh menyesakkan. Anehnya, keduanya tidak punya alasan untuk disalahkan (baik salah satu maupun dua-duanya). Kondisi tidak ada salah-benar inilah yang menjadi biang kerok kegamangan kita sebagai penonton. Mengingat screentime Randi bahkan sangat terbatas (kurang lebih 10 menit saja)–tetapi efeknya sungguh bikin jera. Michelle Williams memerankan Randi begitu efektif, dan interaksi antara Lee dan Randi “yang benar-benar” di menjelang akhir merupakan bukti tak terbantahkan bagaimana film ini mampu mengoyak perasaan tanpa perlu durasi panjang babibu.

Interaksi adalah bahan baku yang membuat Manchester by the Sea menjadi film yang hebat.

Melalui celah-celah yang terbuka, setiap bagian dari plot film ini terus mengusahakan upaya rekonsiliasi yang turut menguji kesabaran penonton. Yang lebih penting bukanlah “berdamai dengan masa lalu”, tetapi “bawa masa lalu itu”. Tidak ada yang perlu dimaafkan, sebab kesalahan tetaplah kesalahan, tinggal bagaimana kita mesti berlaku bijak berbekal kesalahan itu ke depannya.

Kudos Kenneth Lonergan atas karyanya yang charming.

Manchester by the Sea layak diganjar 10 dari 10 bintang.

Film Manchester by the Sea (2016) telah ditonton pada 26 Desember 2016 dan 20 Januari 2017, review resmi ditulis pada 22 Januari 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 2,730 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by tauuuuuuufffff!k

    Maksud dari Raw drama apa ya? Bsa si jelaskan lbh detail.. karena kalo baca review suka nemu kata ini cuma masih blm trlalu paham.. thnks ,

    Utk filmnya bener bagus bgt cm utk yg gk terbiasa bakalan d blg ngebosenin

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo Taufik,
      Raw itu secara sederhana bisa dimaknai sebagai penunjukan emosi yang begitu natural.

      Reply

      • a thought by taufikkkkkk

        Moonlight , the hurt locker , blue valentine itu trmasuk tak?

        Dan itu bisa disebut sub-genre gk sih?

        Reply

        • a thought by aef anas

          Ketiga judul yang kamu sebut bisa dimasukkan. Kalau dibilang subgenre agaknya masih terlalu “dini”, tapi disebut seperti itu pun tidak masalah. Toh namanya juga penamaan.

          Reply

  • a thought by Galang M S

    Aku baru saja selesai menonton film ini.. jujur saja film ini fantastis… kalau kataku “manusiawi sekali”…

    Reply

  • a thought by Ditya

    Baru banget nonton film ini semalem, adegan yang paling sedih dan menguras air mata adalah ketika Randi dan Lee bertemu secara tak sengaja dan Randi menyatakan bahwa itu bukan salah dia dan juga bukan salah Lee terkait terbakarnya rumah mereka yang mengakibatkan meninggalnya ketiga anak mereka. Randi sungguh masih sangat mencintai Lee namun apa daya, paska kejadian tersebut amarah dan benci megitu merajai hati Randi. Adegan dan naskahnya begitu menyesakan sampai” air mata udah keluar aja pas lihat adegan ini, ingin kembali namun tak bisa 🙁

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required