Monday, August 2

Review Film | “Minions (2015)” Menonton, Tertawa, Lalu Pulang

Setelah sukses dengan sekuel Despicable Me dan rentetan film pendeknya, Pierre Coffin mencoba mengambil kesempatan lagi untuk merajai tangga box office. Minions yang digarap berdasarkan tokoh minion dalam Despicable Me, dibentuk sedemikian rupa menjadi tokoh utama dalam film prekuel ini. Beruntung minion menjadi favorit banyak penonton hingga muncul sebagai tokoh dalam garapan storyline baru. Tak ayal bila Pierre mampu dengan mantap menggandeng Sandra Bullock (Scarlet Overkill) yang digadang-gadang sebagai tokoh penting dalam film ini.

Tak diragukan lagi mengapa minion selalu dielu-elukan sebagai makhluk yang imut, bukti kelucuannya sama sekali tidak berkurang dari yang lalu-lalu.

Penonton mampu dihipnotis untuk mengikuti alur yang meliuk dengan humor yang tidak receh. Tidak pasaran, standar, namun menggelitik. Inilah yang dibuktikan Pierre, kelucuan yang ramah dan mudah dicerna.

Namun sepertinya, harapan yang dituang dalam pembuatan film ini terlalu muluk.

Setelah selesai menonton film ini, tak lagi ada kesan kecanduan maupun kenikmatan yang bertahan lama. Cukup dengan menontonnya sekali, tertawa, dan pulang. Tak ada kesan mendalam yang berhasil disematkan. Rasanya jika sudah menonton cuplikan filmnya, Anda tidak akan merasa melewatkan adegan penting apa pun ketika tidak sengaja tertidur dalam bioskop. Semua sisi menarik di film, yang lucu hingga yang tersembunyi seakan sudah terbaca dalam semua edisi trailer-nya. Pun yang terlewat hanya beberapa adegan tambahan yang lucunya kalah dibanding yang telah dibocorkan.

Mungkin ke depannya Minions harus berhati-hati lagi dalam membuat trailer.

Apalagi ketika Anda cermati lebih dalam dan terpaku lebih lama pada suara yang mengiringi tiap adegan. Anda seakan ingin menjerit mendengar betapa kacaunya sound yang diatur dalam beberapa adegan. Entah mengapa pengaturan backsound dalam Minions serasa kurang diperhatikan. Cuplikan filmnya bahkan memiliki pengaturan backsound yang lebih apik dan ear catching. Apakah memang sangat terburu-buru guna menggapai tanggal rilis dibanding untuk mengedit bagian suara film ini terlebih dulu?

Yang paling mengecewakan adalah ketika menonton storyline film ini dan memahaminya hingga ending.

Sungguh terasa sia-sia untuk menunggu adegan terpenting yang menjadi inti dari Minions: kemunculan Gru.

Tidak usah terlalu penasaran, karena Minions akan menjatuhkan harapan. Storyline yang dipoles bagus di depan namun dibiarkan berakhir cetek di belakang. Pun jalan ceritanya dibuat terburu-buru dibandingkan sekuel Despicable Me yang berakhir santai namun terngiang. Ingin tertawa rasanya ketika menyadari bahwa Sandra Bullock akhirnya hanya menjadi tokoh yang terpotong-potong, antagonis utama namun dikesampingkan.

Bila sudah menonton Pitch Perfect 2 dan dilanjutkan menonton Minions, Anda akan merasa aneh saat memulai opening film. Universal Studio terlalu main-main dengan originalitas. Akankah eksekusi ide unik tersebut dipakai untuk semua produksi filmnya? Bila iya, opening film Minions tentu akan jadi biasa saja.

Yang jelas, cukup nonton saja dan tetawa puas, lalu lupakan kekecewaan dengan kembali menonton cuplikannya.

Minions memperoleh 7 dari 10 bintang

(Visited 210 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *