Review Film | “Patriots Day (2016)” Memusuhi Kebencian dengan Cinta

Estimasi waktu baca: 4 menit

Tahun 2016 menjadi saksi sahnya saya menghormati sosok Mark Wahlberg dan Peter Berg.

Ketika film-film based on true story lain masih banyak yang berkutat dengan kisah puluhan hingga ratusan tahun silam, duo ini justru memilih mengangkat fakta yang bersifat kontemporer–belum berselang lama. Pertama lewat Deepwater Horizon dan sekarang dengan Patriots Day. Sebuah pilihan yang tidak mudah, di satu sisi ini memberi poin plus di aspek “kebaruan” dan “kedekatan emosional”, di sisi lain film-film model ini harus berhadapan dengan sentimen masyarakatnya yang masih bersinggungan–tanggung jawab moralnya lebih besar.

Film ini berkisah tentang situasi sekitar kejadian meledaknya bom di Boston Marathon 2013 silam. Kisah dimulai dengan memperlihatkan beberapa “tokoh” yang akan dijadikan fokus. Digambarkan rutinitas yang dijalani masing-masing sebelum paginya mereka bakal ikut serta memeriahkan event lari maraton. Pendek kata, orang-orang ini terimbas langsung oleh ledakan bom, baik itu sebagai pelaku, korban, kepolisian, hingga aparatur intelijen yang bertanggungjawab untuk mengurai kondisi. Perjalanan selanjutnya adalah tentang memburu para otak kejahatan kemanusiaan ini.

Patriots Day telah memberitahu penonton secara halus sejak awal apa yang bakal didapat di akhir: aksi intens dan mencekam. Adegan pembukanya adalah kilas penggerebekan, yang selanjutnya langsung dipotong dan berpindah ke adegan terkait dengan para calon terdampak. Rangkaian pembuka yang berwujud rutinitas keseharian ini (setelah kilas penggerebekan) disuguhkan secara manis, sebuah pembangunan emosi yang bagus untuk menciptakan kontras.

Kontras yang meyakinkan bahwa kejahatan yang bakal terjadi setelahnya memang sangat jahat.

Bagaimana mungkin kita tidak bersimpati? Para terdampak ini digambarkan berada di bawah payung damai nan menyenangkan, ada yang berdialog tentang pizza, penjaga MIT yang sedang berkeliling dan menengok para mahasiswa yang masih asyik menggarap robot, sepasang kekasih yang konstruktif, keluarga keturunan Arab yang hidup di lingkungan kondusif, anak yang ingin membanggakan orang tuanya, hingga bapak-bapak yang bekerja penuh dedikasi.

Bermula dari potongan-potongan tersebut, tidak heran kalau kemudian penonton langsung dibuat patah hati ketika satu di antara entitas itu “berkhianat”.

Menciptakan ketakutan yang nyata, memupuskan banyak keriaan dan asa yang tengah mengembang di rute finish lari maraton. Namun, film ini tidak mau berhenti di bagian eksploitasi kesedihan ataupun saling menyalahkan, Patriots Day sadar bahwa yang penting adalah membangun optimisme. Baik itu lewat motivasi para karakternya maupun lewat energi yang bakal disalurkan ke penonton via layar. Dan ini berhasil.

Pertama, film ini terkesan tidak ingin menghakimi siapa pun.

Ya, memang pelakunya jelas siapa, orang-orang inilah yang kemudian dijadikan target pengejaran. Namun, di sini juga dijelaskan mengapa mereka bisa bertindak radikal dan berubah wujud menjadi teroris. Informasi dan doktrin yang dikonsumsilah yang menjadi biang keroknya, bagaimana mereka belajar membuat bom panci dari video propaganda yang ditonton. Toh di sekuens selanjutnya, kita dibuat sadar bahwa “rasa tidak enak kalau menolak ajakan” memegang peranan besar, apalagi ini dalam lingkup satu keluarga. Kesesatan informasi yang ditelan mentah-mentah tersebut ikut menyesatkan orang-orang terdekat yang dipengaruhi.

Kedua, film ini memposisikan diri sebagai festival keberagaman.

Lewat fokus entitas kecil di awal dan kemudian ditarik ke pelaksanaan lari maraton di Hari Patriot. Kita bisa menyimak bagaimana keriuhan yang terjadi dalam kegiatan semacam ini merupakan wujud dari konsensus universal. Artinya ketika keberagaman itu berada di satu wadah yang tanpa ada tuntutan apa pun (berupa perayaan, kegiatan umum, dan sebagainya), berbagai label individualitas akan ditanggalkan secara sukarela. Mereka menikmati ini sebagai sebagai kebahagiaan kolektif tanpa pandang bulu.

Ketiga, perayaan keberagaman itu selanjutnya digeser lagi, ke perihal kepedulian emosional.

Titik ini ditandai dengan aksi cepat tanggap dan evakuasi yang dilakukan. Tindakan yang jujur membuat saya iri. Betapa tidak? Di sini, di tengah kekacaubalauan situasi, tindakan taktis begitu lancar dilakukan oleh kepolisian, intelijen, dan sipil. Pembagian tugas masing-masing aparat, medis, pun masyarakat digambarkan secara jelas dan efektif. Dari sini pulalah percakapan-percakapan yang muncul tidak bisa terlepas dari pengaruh emosional, dan mampu membuat penonton ikut sesak sekaligus heartwarming luar biasa.

Dari bekal poin-poin energi dasar tersebut, Patriots Day berkembang secara natural. Di luar “investigasi utama”, kita pun disuguhi fragmen-fragmen yang sangat “masyarakat”. Masyarakat yang bisa sangat kooperatif, tetapi di satu waktu bisa sangat menjengkelkan. Misalnya ketika Tommy Saunders (Wahlberg) masih dalam kondisi lelah fisik-batin, dia pulang ke rumah, mayoritas orang-orang di rumah malah tidak peka situasi-kondisi, mengabaikan simpati dengan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan kepo. Fragmen masyarakat semacam ini beberapa kali diulang hingga akhir, seperti: tribute dengan peletakan bunga, ilustrasi TKP, himbauan penghentian aktivitas sementara, dan sebagainya.

Sebagai sebuah film, Patriots Day bukan lagi monopoli aspek teknis, sebab di sini plot “refleksi kejadian”-lah tiang penyangga utamanya.

Penyajian gambarnya steady dan tidak muluk-muluk, campuran gambar utama dan cctv tidak terasa mengganggu. Aspek editing, sound editing dan sound mixing sangat besar perananannya di sini. Membangun atmosfer secara cukup tanpa terkesan berlebihan bersama bantuan scoring dramatisnya. Alih-alih menonjolkan aktor tertentu, pengisahan di film ini malah bersifat cast ensemble, sesuai porsinya tanpa terlihat ada yang mendominasi.

Kita melihat bagaimana jargon yang diserukan Patriots Day bukan lagi untuk membenci golongan tertentu, tapi lebih fundamental: cinta lawan kebencian.

Kebencian bisa menjangkiti siapa saja. Dan pada akhirnya ketika semua orang telah sadar untuk memusuhi kebencian menggunakan senjata cinta, sesungguhnya kita semua adalah duta dari perdamaian itu sendiri.

Patriots Day memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

Film Patriots Day (2016) telah ditonton pada 11 Januari 2017, review resmi ditulis pada 4 dan 5 Februari 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 178 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required