Review Film | “The Edge of Seventeen (2016)” Menertawakan Kepolosan

The Edge of Seventeen merupakan film yang langka: semua karakter yang diberi jatah ngomong adalah scene stealer. Semua!

Saya ragu apakah titel tersebut tepat guna karena penyematannya pada kolektif bukan segelintir. Namun yang jelas, kurang-lebih begitulah maksudnya.

Film ini berkisah tentang Nadine, seorang cewek eksentrik yang dari kecil sudah punya bakat minder. Gelagatnya berkebalikan dengan saudara laki-lakinya, Darian, yang umurnya tidak terpaut jauh. Sedihnya, Nadine sampai-sampai tidak punya teman. Suatu ketika di masa awal SD hadir seorang Krista, yang kemudian menjadi BFF-nya. Hingga, di usianya yang jalan 17 tahun, mendadak bermunculan masalah di luar rencana.

Ini adalah film yang akan membuatmu tertawa tak berkesudahan sampai akhir.

Mayoritas karena kelakuan seorang Nadine yang sangat “drama” dan seolah tidak ada tedeng aling-aling ketika sedang berada di dekat orang-orang terdekatnya. Ya, penonton The Edge of Seventeen tidak akan menjumpai sosok karakter yang mau menambah relasi sebanyak-banyaknya. Dia sudah “nerima” berkutat dengan orang yang itu-itu saja. Sekalipun ada yang nampak asing/baru, sebetulnya itu tidak asing sama sekali.

Ambil contoh Erwin, cowok yang bangkunya bersebelahan, misalnya. Di babak pertama kita bakal menyaksikan interaksi ganjil antara keduanya. Nampak mereka seolah baru saja bertemu, tapi kalau lebih diperhatikan, keduanya sebenarnya sudah bersinggungan selama sekian waktu. Si Erwin terutama, karena dia dari awal sudah curi-curi pandang pada Nadine–diperparah basa-basinya memang selalu kikuk. Karakter lain misalnya Nick, senior yang Nadine taksir. Meskipun belum pernah berinteraksi langsung, paling tidak kita maklum bahwa Nadine sudah “merasa” sangat dekat dengannya–berkat aktivitas stalking.

Sudah terbukti, kan, kalau The Edge of Seventeen sebenarnya main aman?

Tunggu dulu, justru karena lingkup kecil inilah maka seluruh elemennya bisa tampil sangat efisien dan selalu berhasil menguasai momen.

Lebih tepat sasaran lagi karena film ini menembak tiga periode usia paling rentan bikin jempalitan: 7, 13, dan 17.

Di usia 7 tahun, kita melihat Nadine yang masih masa awal SD. Dia mulai bisa menentukan sikap kenapa tidak mau sekolah, sampai ibunya harus berakrobat untuk memaksanya keluar dari mobil. Di usia 13, dia sudah SMP, sayangnya itu adalah waktu ketika pubertas menghajar setiap orang dengan sekenanya. Dia merasa penampilannya mengerikan, hidupnya mengenaskan–dibandingkan saudara laki-lakinya yang nampak berlawanan. Dan puncaknya adalah ketika di 17 tahun, Nadine sudah SMA di Lakewood High Scool, dia mesti berhadapan dengan perkara asmara dan segala sumpah-serapahnya.

Di fase 17 ini pula kita diperkenalkan untuk pertama kalinya dengan Nadine.

Sebab potongan adegan pembuka, di mana dia lari pontang-panting menemui gurunya, bersumber dari periode ini. Secara polos juga, penonton langsung dibuat nyengir lebar mendengar ucapan ngelantur yang keluar: dia ingin bunuh diri, secara cepat, mungkin ditabrak sesuatu yang sangat besar sehingga langsung mati di tempat tanpa harus kesakitan.

Sehingga sangat tidak adil kalau memuji departemen akting tanpa menyebut seluruh karakter yang memperoleh jatah buka mulut.

Termasuk istri dari sang guru dan Nick (Alexander Calvert)–yang meskipun cuma dapat jatah sedikit, tapi berkesan. Yang utama tentu buat Nadine (Hailee Steinfeld), Pak Guru Bruner (Woody Harrelson), Ibu alias Mona (Kyra Sedgwick), Darian (Blake Jenner), Erwin (Hayden Szeto), serta Krista (Haley Lu Richardson). Dan perlu dicatat, interaksi paling priceless absolut milik Nadine dan ibunya. Interaksi ibu-anak gadis paling tidak senonoh yang pernah ada untuk karya sinema–scene di kantor si ibu adalah salah satu adegan komedi terbaik sepanjang masa–sah sudah keduanya semacam kloning. Tanpa mengurangi rasa kagum, saya dengan senang hati memuji seluruh cast habis-habisan!

Masih banyak cuapan renyah serta gestur polos lain yang tersebar di The Edge of Seventeen.

Yang untungnya juga didukung oleh polosnya sinematografi, grafis, serta musik (scoring maupun soundtrack) yang sesekali keluar. Porsi komikalnya mendominasi, tapi tetap tidak melupakan aspek dramatis secukupnya–dan punya relevansi logis. Naskah dan pengarahannya begitu membahagiakan, Kelly Fremon Craig layak banjir pujian.

Saya senang karena film ini tidak berminat untuk menjadi ambisius apalagi hura-hura. Sikap rendah hati inilah yang kemudian membuat fragmen “perjalanan sejuta umat” versi Nadine tetap terasa segar dan gurih untuk disesap sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya.

The Edge of Seventeen memperoleh 8.8 dari 10 bintang

Film The Edge of Seventeen (2016) telah ditonton pada 5 Februari 2017, review resmi ditulis di hari yang sama.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 1,796 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required