Review Film | “Lion (2016)” Menjadi Jujur dan Tangguh

Estimasi waktu baca: 4 menit

Ada kondisi-kondisi tertentu yang bisa membuat manusia berada di posisi tidak tentu arah. Tersesat, misalnya. Akan muncul banyak ketidakpastian nasib di situ.

Lion yang semula berkutat di perkara lost and found pada akhirnya bisa berbicara lebih dari itu. Dengan kemasan yang jauh dari predikat kompleks, film ini justru menampilkan besarnya hati yang dimiliki, cukup besar untuk membuat energinya stabil terpompa ke rongga-rongga dada para penonton.

Kisah dengan cakupan periode waktu sedemikian panjang ini berkutat pada Saroo, dimulai tahun 1986. Dia adalah seorang bocah berusia lima tahun yang berasal dari salah satu daerah miskin dan terpencil di India. Kondisi ekonomi mengharuskannya sadar diri untuk turut bekerja keras membantu keluarganya. Bersama sang kakak, dia terkadang harus mencuri batu bara yang diangkut oleh kereta api pertambangan lalu menukarnya ke pasar dengan barang konsumsi: susu, semangka, dan sebagainya.

Suatu ketika, Saroo merengek agar diperbolehkan ikut kakaknya bekerja, padahal tempatnya terlampau jauh dan Saroo masih terlalu kecil. Sesampainya di stasiun tujuan, Saroo masih mengantuk, kakaknya berpesan supaya dia tidur dulu di stasiun dan tidak ke mana-mana. Ketika terbangun, Saroo belum melihat kakaknya. Karena panik, dia pun mencari-cari tak tentu arah dan justru terbawa oleh kereta api lintas provinsi. Keterbatasan sebagai anak kampung membuat Saroo maupun keluarganya tak jua bertemu.

Lion memiliki formula pengisahan yang generik Hollywood.

Film ini menggunakan periode waktu “utama” sebagai pembatasnya. Waktu ini didasarkan pada momen-momen besar yang dijadikan patokan, contohnya tahun ketika Saroo mulai tersesat. Jadi, meskipun rentang waktunya ambisius, Lion mampu menghindar dari kesan kewalahan. Dengan pendekatan yang digunakan pula, sebenarnya film ini punya potensi menjadi lebih menarik sebab hasil akhirnya serasa perkawinan Hollywood dan Bollywood. Ada elemen-elemen khas yang saling tempel satu sama lain.

Bukan berarti perkawinannya menjadi sangat mulus. Tetap ada beberapa momen yang terasa masih “malu-malu”, kurang eksplorasi. Semisal ketika film ini mencoba memasukkan elemen tarian tiba-tiba laksana film India. Belum sampai “jadi”, Lion keburu mengurungkan niat sehingga bagian itu berakhir cuma sebagai gimmick.

Namun, Lion bernyawa karena aspek lain. Ini adalah film yang menunjukkan bahwa dia bisa menembus batasan-batasan budaya ciptaan manusia.

Film ini berani menjelma menjadi sebuah perwujudan kemampuan dasar manusia: komunikasi. Terlepas dari aspek warna kulit, film ini kembali mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk paling adaptif. Fakta yang selanjutnya seolah menggugurkan argumen umum yang sering kita dengar bahwa budaya adalah batasan. Batasan itu adalah manifestasi kebohongan dari mereka yang takut untuk hidup borderless.

Saroo kecil menjadi contoh bahwa insting bertahan hidup seorang manusia memang ajaib.

Dia berasal dari daerah terpencil yang bahkan bahasa lisannya berbeda dengan kota tempatnya terdampar terlunta-lunta. Di situ dia mencoba beradaptasi dengan kondisi seadanya. Minim bekal informasi–yang bahkan dia sendiri tidak tahu cara mengeja namanya secara benar, tidak tahu nama asli ibunya karena umum memanggil dengan sebutan “ibu”, dan tidak mengerti letak tempat tinggal asalnya di peta.

Kita dihadapkan pada realita betapa kerasnya kehidupan seseorang yang tidak tahu apa-apa.

Tengok bagaimana dia harus terus dikejar-kejar oleh aparat penertiban, nyaris diperdagangkan, hingga mesti menerima kehidupan di penampungan anak yang kondisinya sanggup membuat hati saya mencelos. Rasa iba itu muncul bukan semata-mata karena tampilan fisik lingkungannya, tetapi lebih kepada melihat banyaknya anak-anak yang tidak sekuat Saroo dalam bertahan hidup dan akhirnya mesti mengidap beragam trauma mental.

Melihat keteguhan dan kesederhanaan pikir yang Saroo tunjukkan, simpati pun bukanlah hal sulit untuk ikut bertalian.

Garth Davis sebagai sutradara mampu menghubungkan kotak-kotak periode yang ada menjadi sebuah bangunan yang utuh. Bangunan yang tidak serta-merta sempurna, tapi paling tidak sudah layak untuk disebut sebagai rumah. Jalinan kisah yang tidak berusaha menjadi tearjerker tapi di momen-momen sederhana malah berhasil mengundang lembabnya mata karena turut bahagia–Luke Davies sebagai penulis skenario semakin mengukuhkan kualitasnya.

Besarnya hati dari Lion semakin nampak ketika kita berada di momen adopsi.

Meskipun periode ini terasa paling cepat dan terasa cukup sering melompat-lompat, tapi di sinilah kita akhirnya bisa menyaksikan jalinan emosi paling intens.

Saroo yang diadopsi oleh keluarga asal Australia seperti lahir sebagai manusia baru. Perkara komunikasi dalam hubungan multicultural ini nampak begitu kaya dan jujur. Pengertian yang ditunjukkan oleh pasangan John Brierley dan Sue Brierley dengan mudah menguarkan perasaan heartwarming. Dari seorang India, kini Saroo menapaki babak baru menjadi bagian dari keluarga Australia, dengan bahasa baru, interaksi baru, budaya baru.

Sunny Pawar menjadi kunci performa utama di sini. Caranya menghidupkan sosok Saroo muda yang tangguh sungguh menggetarkan. Kunci kedua menjadi milik Nicole Kidman, perannya sebagai seorang ibu yang ingin merawat anak angkat dengan sepenuh hati sungguh nyata, tatapan matanya adalah dedikasi dan kejujuran in a whole new level. Sedangkan Dev Patel meskipun dia terasa lumayan datar dalam menangani letupan emosi karakter Saroo dewasa, karismanya jelas tidak bisa terhindarkan–terutama ketika dia bersinggungan dengan karakter lain, misal: teman, saudara angkat, dan kedua ibunya. Selain departemen pemeranan, penanganan prima ada pada scoring serta sinematografi.

Lion adalah tentang menjadi anak, menjadi orang tua, menjadi manusia.

Menjadi pengingat bahwa pembatasan atas dasar apa pun itu adalah egois. Film ini memperlihatkan keindahan ketika ego interrasial nampak menyublim, bahkan meskipun seseorang sudah tidak bisa berkomunikasi dengan bahasanya dulu, tetapi interaksi dari hati ke hati itu nyata adanya. Tak butuh translasi. Ini adalah film yang bijak dalam memasukkan berbagai elemen perkembangan era yang dinamis, termasuk teknologi yang di sini memegang kunci jembatan konklusi.

Lion memperoleh 9 dari 10 bintang.

Film Lion (2016) telah ditonton pada 29 Desember 2016, review resmi ditulis pada 12 Februari 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 268 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required