Review Film | “Rogue One: A Star Wars Story (2016)” Star Wars Paling Heroik

Estimasi waktu baca: 3 menit

Di balik sebuah kejadian besar, selalu ada tindakan pendahulunya yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Rogue One menjadi salah satunya, ini adalah tribute heroik sebelum akhirnya kita mengenal A New Hope–Star Wars paling ikonik, Episode IV. Bersyukurlah wahai para manusia kekinian.

Rogue One berkisah tentang hubungan ayah-anak, Jyn Erso dan Galen Erso. Mereka harus terpisahkan karena Empire menangkap dan memerlukan kemampuan Galen dalam merakit senjata paling berbahaya sejagat raya. Karena tindakannya yang menuruti kemauan penawan, citra Galen jadi sedemikian buruk di mata para pemberontak, bahkan Jyn sempat dibuat sulit menentukan sikap. Ternyata, sang ayah memiliki maksud tersembunyi lain, maksud yang bakal menciptakan kekacauan besar.

banner rogue one a star wars story 2016 ngepopcom

Kalau Rogue One adalah ujian mata pelajaran, saya bisa dengan mudah langsung dibuat terkapar di awal.

Entah mengikuti tren film blockbuster akhir-akhir ini–yang hobi menggunakan sangat banyak seting tempat/daerah–di sekuensnya film ini melakukan tindakan serupa.

Entah sudah berapa planet yang ditampilkan, lengkap dengan fungsinya masing-masing dan namanya yang njelimet. Yang jelas sangat banyak. Padahal, pilihan ini bisa lebih disederhanakan tanpa berdampak besar pada nutrisi yang ingin didifusikan ke penonton.

Perkara tsunami informasi inilah yang menjadi satu-satunya kegamangan besar yang menghantui Rogue One.

Pasalnya sampai di pertengahan durasi, perlakuan serupa terus dianakemaskan dengan transisi terlalu cepat dan tidak signifikan. Di beberapa titik—terutama di tengah durasi—hal ini menimbulkan kebosanan.

Baru setelahnya, di paruh kedua, kita–baik yang menggemari franchise Star Wars maupun yang masih baru mencoba mengikuti–bakal dipuaskan dengan berbagai aksi heroik yang ada–didukung departemen teknis visual dan suara yang mumpuni, meski bagian scoring tidak senendang The Force Awakens.

Bisa dibilang, inilah film Star Wars paling bar-bar yang pernah dibuat.

Itulah kenapa di paragraf pertama saya sebut bahwa kejadian pendahulu tidak bisa dikubur begitu saja. Seringkali justru dari untold stories inilah kita bisa memahami konteks lini masa secara utuh.

Sebab di kronologi inilah, beberapa waktu sebelum kita menjumpai Luke dan Darth Vader, ada sosok-sosok lain yang layak pula disematkan gelar ikonik. Di sini yang paling menonjol adalah Jyn (Felicity Jones) dan Chirrut (Donnie Yen)–si buta yang memilikI kemampuan komikal pun di luar dugaan.

Berbicara tentang Jyn, Star Wars telah menampilkan beberapa karakter perempuan di film-film terdahulu, selama ini karakter mayoritas dari mereka tidak nampak terlalu tangguh–rata-rata menonjolkan keloyalan. Sedangkan di film ini, Jyn diusahakan menjadi karakter yang kuat.

Meskipun, sekuat-kuatnya Jyn, penggambarannya masih cukup labil dan rapuh–belum se-settle misal Katniss Everdeen di The Hunger Games maupun Rey di The Force Awakens.

Namun melihat berbagai wujud pengorbanan yang dilakukannya, Jyn yang diperankan oleh Felicity Jones–dengan mimik muka polosnya–adalah salah satu tokoh franchise Star Wars yang layak berada di garda memorable.

Selain itu, di film ini akhirnya Mads Mikkelsen memperoleh peran layar lebar blockbuster yang memposisikan dia dengan layak–setelah di Doctor Strange auranya cenderung redup. Mads sebagai sosok ayah Jyn tampil cukup emosional meski dengan durasi terbatas. Dan tentu saja, Star Wars tidak akan lengkap kalau tanpa kehadiran robot absurd. Kali ini hadir droid K-2SO “setingan ulang” yang sukses mengundang gelak tawa tiap kali kemunculannya.

Kembali menyinggung paragraf pertama, penonton yang berkesempatan hidup di era ini wajib bersyukur.

Meskipun masih tetap ada suara-suara sumbang, terutama yang menyebut-nyebut sudah jengah dengan berbagai trend franchise yang ada, tetapi tidak bisa disangkal bahwa ini adalah salah satu era terbaik yang bisa disesap oleh para fanboy dan fangirl–belajar dari sekuel dan spin-off Star Wars.

Inilah momen ketika kuantitas dan kualitas paling tidak bisa berada di neraca yang nyaris seimbang–dengan tidak melupakan masih adanya film-film yang diproduksi secara serampangan.

Di periode ini pula kita bisa sama-sama merayakan beragam tokoh yang selama ini nampak cuma menjadi sidekick, minor, dan kini mereka memiliki ruang berceritanya secara layak.

Tribute inilah yang penting untuk membangun generasi sekarang dan ke depan supaya tidak bermental inferior tetapi juga dewasa dalam menghargai orang lain.

Rogue One: A Star Wars Story berhasil meningkatkan kepercayaan publik pada keputusan studio dalam menghidupkan kembali saga ini–pasca tahun lalu dibuat menggila gara-gara The Force Awakens. Di film ini bahkan kita bisa menjumpai Darth Vader yang lebih ngeri dari yang sudah kita kenal selama ini, pun bersiaplah untuk memekikkan hype kala sampai pada kejutan penampilan di penghujung durasi. Beranjak dari titik ini, saya semakin optimis bahwa proyek antologi lainnya layak untuk dinantikan.

Rogue One memperoleh 9 dari 10 bintang.

Film Rogue One (2016) telah ditonton pada 14 Desember 2016, review resmi ditulis pada 15 Desember 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 342 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required