Review Film | “Still Alice (2014)” Alzheimer Hancurkan Harapan

“Happily married with three grown children, Alice is a renowned linguistics professor who starts to forget words. When she receives a diagnosis of Early-Onset Alzheimer’s Disease, Alice and her family find their bonds thoroughly tested. Her struggle to stay connected to who she once was is frightening, heartbreaking, and inspiring.”

Saya membuka review ini dengan kalimat: Still Alice benar-benar mengingatkan pada Blue Jasmine.

Satu lagi film yang hadir dan mampu menghipnotis para penontonnya lewat perubahan ekspresi emosi cast utama. Tahun lalu Cate Blanchett memberikan penampilan luar biasa ketika menampilkan karakter Jasmine yang sangat blue. Kini, Julianne Moore memberikan penampilan serupa. Alice pada awalnya adalah seorang istri dan ibu dari tiga anak di keluarga yang bahagia. Selain itu, digambarkan bahwa dia juga merupakan profesor linguistik yang sangat cerdas. Namun kemudian semua hal tersebut seperti bertemu dengan sebuah pembalik nasib mengerikan ketika Alice divonis terkena Early-Onset Alzheimer.

Fase yang dilalui Alice benar-benar terlihat riil dan mampu membuat patah hati.

Pelan-pelan kemampuan mengingatnya melemah. Bahkan, salah satu adegan yang sanggup mengoyak emosi adalah ketika Alice harus memberikan tanda stabilo pada teks pidatonya supaya dia tidak lupa sudah sampai bagian mana. Pun ada adegan yang memperlihatkan ketika handphone-nya ditemukan, dia menganggap baru hilang kemarin, tapi ternyata sudah hilang selama sebulan.

Kristen Stewart tampil menonjol di sini ketika berkolaborasi dengan Moore.

Hubungan emosional keduanya bisa dirasakan dan kuat. Seperti film-film Stewart lain, ekspresinya seolah memang sudah khas, namun di Still Alice dia terlihat lebih bold. Selain itu, Kate Bosworth, Hunter Parrish, dan Alec Baldwin juga sukses menampilkan kekompakan sebuah keluarga bersama dua nama yang telah saya sebut lebih dulu. Semua karakternya terjalin rapi dalam plot yang solid.

Penggunaan scorring sederhana tanpa bunyian berlebihan turut menyumbang kebimbangan yang mengapung di udara. Apalagi tone warna yang dipakai adalah calm, layaknya musim gugur—dingin dalam sepanjang durasi. Dan, itu sebenarnya membuat kesan depressing semakin menjadi-jadi.

Still Alice menjadi film yang jujur menampilkan kemungkinan-kemungkinan yang memang bisa terjadi di tiap keluarga.

Ketika penyakit yang dideritanya ternyata merupakan bawaan genetik, Alice langsung meminta semua anaknya untuk melakukan pemeriksaan apakah mereka ikut menerima gen penyakit tersebut. Film ini sanggup memberikan perasaan tertekan yang sama—bagi para pemeran di layar maupun penontonnya.

Still Alice layaknya Dallas Buyers Club. Bukan film dalam artian hanya sebagai medium hiburan, namun jelas menjadi film yang penting untuk benar-benar disimak. Julianne Moore harusnya memperoleh satu slot di masing-masing nominasi Best Actress pada banyak ajang penghargaan musim ini.

Still Alice memperoleh 9 dari 10 bintang.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 2400 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 202 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required