Monday, August 2

Review Film | “The Danish Girl (2015)” Keputusan Berat Seorang Transgender

Judul: The Danish Girl | Tahun: 2015 | Genre: Drama Romantis Biografis | Durasi: 119 menit | Sutradara: Tom Hooper | Pemain: Eddie Redmayne, Alicia Vikander, Matthias Schoenaerts, dan Ben Whishaw

Bagaimana jika kamu dihadapkan pada sebuah keputusan besar yang dibuat oleh seseorang yang benar-benar kamu cintai? Sekalipun keputusan tersebut membuatmu terancam kehilangan dirinya?

Inilah yang harus dihadapi oleh Gerda Wegener (Alicia Vikander) ketika sebuah keputusan telah dibuat oleh suaminya, Einar Wegener (Eddie Redmayne), untuk berubah menjadi seorang wanita transgender. Einar tidak lagi bisa menahan dorongan naluri yang ada di dalam dirinya tersebut untuk benar-benar menjadi seorang Lili Elbe, nama barunya sebagai “diri yang baru.” Keputusan tersebut benar-benar membuat rumah tangga pasangan pelukis asal Denmark tersebut menjadi berantakan.

Dalam kondisi yang penuh dengan kekecewaan, tangis, dan amarah, kesetiaan Gerda terhadap Einar/Lili yang mulai “melepaskannya” mendapat ujian berat. Perasaan Gerda yang selalu berusaha untuk tetap tegar mendukung keputusan suaminya tersebut bercampur dengan keputusasaannya terhadap harapannya agar Einar/Lili bisa kembali suaminya yang dulu. Dinamika hubungan cinta dan benci mereka tersebut semakin pelik ketika terdapat tekanan sosial dari lingkungan mereka yang menganggap pilihan Einar/Lili sebagai hal yang tabu.

Berangkat dari kisah nyata yang difiksionalkan oleh David Ebershoff, The Danish Girl merupakan sebuah film yang mengangkat isu transgender di Eropa pada awal abad ke-20. Film besutan Tom Hooper ini telah menampilkan sebuah sudut pandang baru dalam memandang isu transgender modern berdasarkan pengalaman di era “tempo doeloe” yang dibalut dengan bumbu-bumbu romansa yang kuat.

Hooper sebagai sutradara mampu mengolah kisah tersebut secara dramatis dan piawai dalam menampilkan emosi yang kuat yang diwakilkan oleh kemampuan peran para aktor dan aktrisnya. Saya yang telah menonton film ini dibawa kepada emosi yang terombang-ambing dalam mengikuti alur cerita yang disajikan, seakan berusaha untuk memberi penilaian bahkan penghakiman terhadap sikap para tokoh yang diperankan. Dalam hal ini, Saya mengakui kemampuan Hooper untuk membuat penonton (seperti saya) melibatkan perasaannya dalam memahami makna di balik film ini.

Walaupun begitu, terdapat beberapa catatan dari film ini. Dimulai dari beberapa adegan yang cukup frontal dengan memperlihatkan alat vital sang tokoh. Selain itu, sinematografi yang diperlihatkan terkesan mainstream dan kurang mengambil sudut pandang yang lebih dramatik. Ini membuat tampilan dari The Danish Girl kurang “memancing” secara visual meskipun penyuntingan film dan desain kostum yang dipakai dalam film ini sangat menarik.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Eddie Redmayne dan Alicia Vikander yang mampu memerankan peran mereka masing-masing dengan luar biasa. Dimulai dari Redmayne, pemeran Stephen Hawking dalam The Theory of Everything ini mampu memerankan tokoh yang menghadapi krisis identitas gender tersebut dengan baik dan hampir tanpa cela.

Ia dalam film ini mampu menampilkan perangai pria jantan dan wanita feminim di saat yang bersamaan dengan kualitas peran yang tetap seimbang. Ini membuat Redmayne tetap terlihat tampan sekaligus cantik sesuai dengan adegannya. Perannya yang bagus kemudian didukung oleh performa lawan mainnya, Vikander, yang mampu menampilkan sosok seorang istri yang tetap tegar dalam menghadapi kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterimanya dengan lapang dada. Emosi seorang Gerda dapat ditampilkan dengan baik oleh Vikander dalam film ini. Ini membuat teman saya yang juga ikut menonton film ini sangat emosional dan bersimpati terhadap tokoh Gerda.

Tidaklah mengherankan apabila duet Redmayne-Vikander tersebut menuntun mereka kepada nominasi Oscars 2016 untuk kategori Pemeran Pria dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Ini merupakan nominasi kedua Redmayne di kategori yang sama dua tahun berturut-turut. Selain itu, ini menjadi nominasi Oscars pertama Vikander yang juga seorang penari balet. Meskipun film ini tidak dapat berbicara banyak dalam box office maupun Academy Award, saya rasa tidak ada salahnya untuk menambah film ini ke dalam daftar tontonan Anda. Selain karena kualitas peran dari para aktornya yang membuat film ini lebih hidup, saya menilai bahwa film ini juga mampu membantu para penontonnya dalam menyikapi isu transgender yang tengah marak saat ini dengan pendekatan yang lebih personal dan humanis.

Sisipan redaksi

Azza tidak menuliskan rating untuk The Danish Girl (2015). Namun, rating resmi tersapa untuk The Danish Girl adalah 8.5 dari 10 bintang.


Review ini sebelumnya termuat di tersapacom dan telah dibaca lebih dari 500 kali.

(Visited 1,199 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *