Review Film | “Baby Driver (2017)” Dengarkan Filmnya

Estimasi waktu baca: 3 menit

Dengar.

Pelan-pelan kita paham.

Baby Driver adalah tentang tempo dalam adegan, kawin dengan musik yang kompak berdentam.

Film terbaru dari salah satu sutradara paling visioner yang dimiliki Hollywood, Edgar Wright, ini mengkombinasikan gaya (style) dengan film bergenre heist.

Di sini penonton berkenalan dengan Baby, seorang anak muda yang menjadi supir bagi komplotan perampok yang bekerja secara sistematis. Berulang-kali dia berusaha pensiun, dia selalu termakan bujuk rayu boss-nya untuk kembali beraksi. Memperoleh kepercayaan sedemikian besar (dibuktikan dengan adanya kontrak yang kontinu), pastilah Baby bukan bocah sembarangan. Satu hal yang pasti: misinya tidak pernah jadi semakin mudah.

Secara muatan emosional dan asyiknya aksi, Baby Driver mengingatkan saya pada Drive. Dan layaknya tantangan buat film heist pada umumnya, genre ini riskan melempem kalau tidak ada visi baru yang ditawarkan. Beruntung Edgar tidak mau buang-buang waktu, sejak pembuka digas, kita sebagai penonton langsung tahu bahwa ini bukanlah film kejar-kejaran biasa.

Bagian paling menarik yang langsung saya sadari adalah tentang bagaimana Baby Driver memiliki talian presisi antara gerakan fisik, tatanan production design, serta derap musiknya.

Kombinasi ketiganya membuat adegan kejar-kejaran di pembukaan langsung layak diberi predikat megah.

Pun seolah tidak mau membuat penontonnya kebingungan (karena mungkin tidak familiar dengan musiknya), pilihan lagu-lagu di film ini tidak ambil pusing terkait konteks liriknya. Secara sederhana, pilihan tracks yang diputar diambil berdasarkan suasana yang ingin dibangun (yang mana kesesuaian tempo lagu jadi lebih penting dibanding kesesuaian makna). Istilah lain, Baby Driver seumpama kita yang tengah berada di perjalanan di dalam mobil, lalu dinamis menggeser frekuensi saluran radio mencari dan mengganti lagu sesuka hati.

Dengan perubahan mood yang memang berjalan cepat, kejelian Edgar teruji lewat pilihan persona protagonisnya.

Baby bukanlah sosok yang beringas: dia tenang, dia problematis secara internal, dia menyenangkan di momen khusus, dan dia tetap tahu bagaimana cara memposisikan dirinya. Cara Baby untuk mengatasi “masalah pribadinya” adalah dengan menenggelamkan diri dalam alunan nada dan suara.

Dan tindak tanduknya ini bukan tanpa alasan. Di bagian lain kita ditunjukkan potongan adegan di masa lalu yang menyesakkan (logis yang mempengaruhi pendengarannya). Ansel Elgort kembali menunjukkan kelasnya di sini. Interaksi dengan kawan flat-nya yang ternyata tunawicara/rungu begitu hangat dan natural.

Tentu saja Baby Driver tidak akan menarik kalau cuma dikuasai oleh satu karakter saja. Poin menonjol berikutnya terletak pada ensemble casts-nya yang terancang ciamik. Tidak cuma masalah chemistry, tapi juga perkara ragam kostum yang estetis plus ragam karakterisasi tokoh nan kaya.

Mulai dari Kevin Spacey, Jamie Foxx, Elza Gonzalez, John Hamm, hingga Jon Bernthal selalu berhasil tampil lebur. Entah lewat guyonan remeh-temehnya, tindakan bodoh yang dilakukan, maupun aksi spontanitas yang dipilih. Film ini dikemas dalam bungkus “jiwa muda” yang begitu lekat.

Di tataran yang lebih “klise”, Baby Driver pun tidak lupa menyisipkan percikan asmara. Umumnya, fragmen ini sering diperlakukan sebagai friksi—yang kalau gagal digali berpotensi meruntuhkan narasi.

Untunglah, naskah film ini konsekuen dengan representasi naturalnya: Baby tidak bermaksud membangun intensi romantis yang eksplosif dengan Debora (Lily James); menariknya, interaksi ini justru bisa tampil begitu manis. Berbagai interaksi tak terprediksi inilah (yang didukung oleh pergerakan dinamis kameranya) yang akhirnya membuat saya dengan mudah dibuat rekat sepanjang sisa durasi.

Baby Driver bukanlah film yang neko-neko.

Meski perencanaan aksinya tampak profesional/rumit, tetapi cara film ini menjaga langkahnya tetaplah seumpama mengikuti mindset anak muda (sejalan dengan si protagonis)—target tujuan hidup yang dipikir secara sederhana. Baby di sini bukan lagi hanya diposisikan sebagai supir bayaran, melainkan juga sebagai seorang manusia, riil. Edgar Wright punya penekanan beban tanggung jawabnya sendiri yang kembali ditunjukkan di film ini (dan juga selalu muncul di film-filmnya yang lain).

Sebagai sebuah pengalaman sinematis, Baby Driver adalah paket lengkap. Rasakan sensasi menahan napas ketika mata mengikuti aksi kejar-kejaran di penghujung—bonus teknik penyuntingan potong cepat. Nikmati juga sensasi langka: lebur dengan pendengaran protagonisnya, lengkap dengan bunyi denging yang ada.

Baby Driver memperoleh 9 dari 10 bintang.

Film Baby Driver (2017) telah ditonton pada 12 Juli 2017, review resmi ditulis pada 30 Agustus 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 57 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required