Review Film | “Moana (2016)” Kekayaan Etnik

See the light where the sky meets the sea//It calls me//And no one knows how far it goes//If the wind in my sail on the sea stays behind me//One day I’ll know//How far I’ll go//”How Far I’ll Go” – Original Soundtrack Moana (2016)

Film Moana berkisah tentang seorang perempuan bernama sama dengan judulnya. Dia sejak kecil tinggal bersama penduduk lokal di sebuah pulau. Sejak kecil pula, dia bersama anak-anak lainnya sering didongengi legenda turun-temurun oleh Gramma Tala, nenek Moana. Salah satu kisah yang paling fenomenal adalah tentang Maui–dengan senjata kail ajaib–dan tindakannya mencuri batu yang menjadi jantung Te Fiti, si pemberi kehidupan, sehingga membuat alam murka. Sementara itu, dari kecil Moana selalu tertarik dengan lautan. Sayang, ayahnya langsung berwatak keras tiap kali melihat anak perempuannya itu mendekati laut. Hingga suatu hari nenek Moana menunjukkan sebuah rahasia besar yang membuatnya mengalami petualangan besar nan membuka pandangannya tentang dunia.

1000px-banner-moana-2016-ngepopcom

Moana sempat membuat saya ketar-ketir karena memiliki potensi untuk mengacaukan kontinuitas plotnya.

Praduga ini muncul sebab dengan alur model kronologi ambisius yang dipilih–dari kecil hingga dewasa–jelas film ini harus memiliki transisi yang “berisi” dan tidak menimbulkan kesan “paksa”.

Secara mengejutkan, Moana berhasil membuat saya kagum dengan cara penanganan transisi periode waktunya.

Film ini menggunakan elemen musikal catchy yang mengiringi perubahan visual Moana dari kecil, ke anak-anak, menjadi remaja, hingga beranjak dewasa secara cepat dan padat. Atas dasar musikal jugalah, saya pun memilih membuka review ini dengan mengutip penggalan lirik salah satu soundtrack-nya.

Salah satu verdict terkuat dari Moana terletak pada kekayaan original soundtracknya.

Kita akan menikmati lagu-lagu yang tidak digeneralisir hanya ke satu aliran. Karena ini film animasi Disney, tetap ada lagu yang terkesan manis, selain itu ada lagu teatrikal–yang dibawakan oleh Maui–lagu tema yang dramatis-berapi-api–bertajuk How Far I’ll Go–hingga lagu monolog-narsis yang sukses mengundang tawa dari sosok si kepiting raksasa.

Khusus untuk How Far I’ll Go sebagai lagu tema, ini langsung mengingatkan saya pada atmosfer serupa Let It Go-nya Frozen. Kalau saya tidak salah memprediksi, semestinya lagu ini juga bakal menjadi primadona, langsung terngiang-ngiang di kepala–seperti yang saya alami–dan bakal sukses mencetak hits. Semacam suksesor Let It Go.

Disney di 2016 ini tampil sangat percaya diri.

Ketika di awal tahun mereka merilis Zootopia, saya kira itu adalah satu-satunya sajian matang yang bakal dipersembahkan. Ternyata saya keliru.

Memang secara substansi Moana masih terasa “nyaris matang”, gagasan yang disampaikan sebenarnya sederhana dan gamblang–tentang menjaga bumi–tetapi sekuens penceritaan yang disuguhkan justru memiliki beberapa elemen yang membuat pemahaman utuhnya jadi tidak sempurna.

Beda kasus dengan Zootopia yang sukses besar mengorek masalah stigma secara dalam dan langsung menghajar tepat sasaran. Meski sedikit berada di bawah Zootopia, Moana jelas masih masuk kategori film yang layak dibanjiri pujian–apalagi film ini tidak melupakan unsur etnik yang bisa dipadu-padankan dengan apik. Porsi komedinya melimpah–jangan lewatkan reka ulang Mad Max Fury Road versi bajak laut!

Dengan kehadiran Disney “modern” dekade ini, saya kira perumpamaan yang menyebut bahwa generasi terdahulu beruntung karena memiliki berbagai kisah tuan puteri perlu direvisi.

Anak-anak–dan penonton umum–yang mengalami periode milenium baru adalah yang paling beruntung.

Mereka memperoleh asupan tokoh dongeng yang tidak hanya terkesan berpangku tangan, justru karakter-karakter yang disajikan adalah sosok yang tangguh, mengagung-agungkan diversitas, dan sangat berkarakteristik–tidak takut tampil beda.

Saya kira dalam jangka pendek efek positif dari penceritaan modern ini tidak akan langsung terlihat. Namun untuk jangka panjang–setelah anak-anak ini tumbuh dewasa–saya yakin treatment semacam ini bakal membentuk generasi toleran dan tidak mau begitu saja menyerah pada keadaan.

Dan di era ini pula, kita menjadi saksi bersama betapa satu demi satu kemajuan teknologi telah menunjukkan kepada kita “transisi” kualitas karya yang dihasilkan.

Di luar aspek karakter Moana–dan Maui–yang kuat serta deretan soundtrack ajaibnya, film ini memperoleh dukungan pengisi suara top-notch dan grafis visual yang sangat indah. Moana memadukan grafis tiga dimensi dan dua dimensi secara menarik dan lebur. Inilah salah satu contoh nyata dari pernyataan saya tentang transisi kualitas berkat inovasi terknologi.

Perkembangan tidak digunakan untuk mengeliminasi wujud visual era sebelumnya, justru melakukan elaborasi nan menawan. Semakin dikukuhkan, 2016 menjadi salah satu tahun paling kompetitif di genre film animasi berdurasi panjang.

Moana memperoleh 8.8 dari 10 bintang.

Film Moana (2016) telah ditonton pada 25 November 2016, review resmi ditulis pada 26 November 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 790 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required