Sunday, October 17

Review Film | “Pete’s Dragon (2016)” Keberanian Bocah Belia

Dua ribu enam belas agaknya jadi tahun yang gemilang buat prolog film model kecelakaan mobil. Pete’s Dragon tidak mau ketinggalan. Berharap ingin berpetualang, keluarga berisikan ayah, ibu, dan Pete yang masih belia harus mengalami kecelakaan naas.

Setelah beberapa kali tampil dewasa, melalui film ini Disney kembali ke akarnya. Sebuah persembahan buat anak-anak.

Film ini berkisah tentang Pete, bocah yang tertimpa kemalangan karena mobil yang ditumpangi bersama orangtuanya mengalami kecelakaan. Si mobil tergelincir dan terbalik di dalam hutan. Pete selamat. Dia selamat karena ditemukan oleh seekor naga berbulu hijau yang baik hati, Elliot. Semenjak itu, Pete adalah anak rimba. Sampai suatu hari, Pete melakukan tindakan yang membahayakan kehidupan si naga.

Dahi penonton tidak akan dibuat panas ketika menyaksikan Pete’s Dragon. Film ini memiliki alur progresif yang sangat jelas khas film bersegmentasi anak-anak. Hanya saja, seperti stigma film anak, Pete’s Dragon terjebak di pengisahan berlogika janggal. Sebenarnya kalau berdalih ini adalah film buat anak kecil, bisa saja langsung dimaklumi.

Tetapi saya berpendapat bahwa sudah semestinya kita juga mulai menghargai logika anak-anak.

Bukan dengan pengisahan yang kompleks, namun melalui pengisahan yang relevan.

Misalnya tentang perlakuan yang diterima Pete di meja makan. Seolah-olah dia adalah manusia hutan sejak lahir sampai-sampai tidak tahu cara makan sandwich. Dan berbagai sekuens janggal lainnya. Inilah pola pikir yang harus terus dibenahi buat film-film segenre selanjutnya. Terlepas dari itu, film ini memberikan gagasan yang sangat positif.

Pete's Dragon 2016/pic. ngepop

Ini adalah film petualangan dengan jantung keberanian.

Pete diagung-agungkan sejak awal–dan berlanjut ke sepanjang durasi–dengan menyebutnya sebagai “bravest boy”. Dorongan dari lingkungan sekitar semacam ini adalah napas optimisme dasar yang penting tapi sering terlupakan. Pete pelan-pelan berani melihat dunia luar.

Menonton film ini juga merupakan pengalaman kepolosan–yang membahagiakan.

Coba tengok ketika kalimat, “Are you gonna eat me?” terlontar dari mulut Pete kepada si naga. Dan sejalan dengan hal itu, film ini memperkenalkan tiap karakternya via fase cepat, on point. Oh, dan banyak sekuens di sini yang terangkai karena rekognisi atas definisi kata asing. Ini merupakan keputusan yang sangat bijak untuk tetap berada di ground edukasi.

Untuk sebuah sajian fantasi, Pete’s Dragon pun tidak mau melewatkan kesempatan pamer.

Setidaknya ada beberapa kali momen ketika di layar hanya tersaji adegan pamer yang standar. Seperti terbang-akrobatiknya sang naga dan Pete yang memakan durasi cukup panjang–dengan visual memanjakan mata.

Energi antusias melekat pada Pete’s Dragon.

Meskipun dengan munculnya beberapa karakter bebal di tengah jalan, film ini tetap berusaha untuk menuntaskan durasi. Kalau saja penonton mencari sajian petualangan mainstream, toh di beberapa menit terakhir akan lumayan dibuat sumringah oleh tindakan heroik. Kapan lagi bisa menyaksikan naga se-fluffy, selucu, dan segarang ini di satu rangkaian.

Pete’s Dragon memperoleh 7 dari 10 bintang.

Film Pete’s Dragon (2016) telah ditonton pada 9 September 2016, review resmi ditulis pada 15 September 2016.

(Visited 230 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *