Review Film | “Spotlight (2015)” Ketika Media Bongkar Pemufakatan Jahat

Estimasi waktu baca: 3 menit

Dengan bentuk kejahatan yang sama namun konteks yang berbeda—kasus paedofil dan kekerasan seksual—Spotlight sungguh relevan untuk menampar Indonesia.

Ini adalah film yang penting, sangat penting. Ketika masih banyak permasalahan krusial—tidak hanya kekerasan seksual–yang menyangkut keselamatan dan keamanan masyarakat justru ditutup-tutupi. Usaha “pemufakatan jahat” itu pada banyak hal justru berimbas pada semakin mengerikannya masa depan sekian banyak generasi dunia. Ancamannya lebih serius: traumatis.

Latar Spotlight adalah 2001. Editor Marty Baron dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi yang bernama Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki. Tim Spotlight beranggotakan Walter Robby (Michael Keaton), reporter Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d’Arcy James), serta Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) mewawancarai para korban dan berusaha mendapatkan akses pada dokumen sensitif. Tim ini pada akhirnya menemukan fakta mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini terjadi sangat masif dan melibatkan jaringan Gereja Katholik global. Dunia gempar.

Spotlight adalah film yang sangat tepat apabila masyarakat ingin mengetahui bagaimana proses jurnalistik yang benar.

Jurnalistik adalah proses panjang untuk mengarah pada kebenaran bagi publik. Tidak seperti yang terjadi di mayoritas media di Indonesia saat ini, media seolah hanya asal ada, mudah dikendalikan. Spotlight secara terang-terangan memperlihatkan bahwa meskipun seseorang narasumber telah mengutarakan suatu hal, mereka tidak bisa begitu saja percaya. Meskipun informasinya menggiurkan, pimpinan kelompok itu tetap meminta supaya dilakukan background check.

Sementara itu, salah satu kutipan paling membuat bergidik adalah ketika ada salah satu karakter berujar bahwa anak-anak yang hidup dan berkembang di lingkungan keluarga miskin–atau keluarga yang bermasalah, misal tidak harmonis atau orangtua bercerai–, lebih condong menjadikan lingkungan agama sebagai pelarian.

Apabila konteksnya di film ini adalah gereja Katholik, ketika anak-anak itu dekat dengan pendeta, mereka merasa mendapatkan pertolongan Tuhan. Sebagian orang memanfaatkan itu untuk memenuhi hasrat seksual. Akibatnya, sekeji apa pun kejahatannya, karena berkedok agama, tidak ada yang berani mengungkapkannya, bertahun-tahun. Kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bahkan disebut tidak hanya physical abuse, namun juga spiritual abuse.

Mereka yang menjadi korban merasa seperti terjebak di sebuah sistem yang salah, tapi tidak bisa berbuat banyak.

Ada satu momen ketika Sacha (Rachel McAdams) mencoba menghubungi salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka. Ketika bertemu langsung, dengan muka pasrah pendeta itu mengakui perbuatannya. Namun dia melakukan tindakan itu karena dulunya dia juga pernah menjadi korban. Sacha tidak bisa melanjutkan wawancaranya karena langsung diusir oleh wanita yang juga tinggal di rumah itu. Setelahnya, Spotlight menyajikan salah scene paling heartbreaking. Sacha berdiri terpaku di pinggir jalan, masih syok, tiba-tiba diperlihatkan ada sekumpulan anak yang sedang bersepeda dengan riang gembira. Mata saya basah ketika menyaksikan adegan ini.

Untuk film dengan nilai sempurna, saya akan selalu menutupnya dengan ucapan terima kasih, begitu pula dengan Spotlight. Terima kasih kepada para aktor dan aktris yang telah menunjukkan sebuah performa brilian, terutama Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, serta Brian d’Arcy James. Terima kasih kepada Tom McCarthy sebagai sutradara sekaligus penulis naskah–bersama Josh Singer–yang telah menyajikan jalinan sequence yang tidak henti-hentinya memberikan efek merinding. Terima kasih telah menutup Spotlight dengan sangat menggetarkan–menunjukkan momen victims voice–hingga membuat saya kembali menangis.

Dan terima kasih kepada tim Spotlight yang sesungguhnya, yang telah menampar dunia, mengingatkan supaya jurnalistik tetap semurni itu tujuannya. Terima kasih.

Jangan pernah tunduk pada pemufakatan jahat, jangan takut untuk menguak hal tabu. Jika ada tindakan jahat dan sistemik yang diduga terjadi, medialah yang harus menjadi pencerahnya. Bukan ikut bersembunyi di balik tirai kepentingan golongan pelaku kejahatan.

tersapa memberikan 10 dari 10 bintang.

(Film Spotlight (2015) telah ditonton pada 24 Desember 2015, review resmi tersapa ditulis pada 25 Desember 2015)


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 5000 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 421 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Yupina

    Pantaslah film ini dapat oscar best movie

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required