Review Film Indonesia | “Satu Hari Nanti (2017)” Hati-Hati Gagal Menarik Hati

Estimasi waktu baca: 3 menit

Sebelum empat karakter utama dalam Satu Hari Nanti akhirnya menemukan “jaraknya” masing-masing, film ini telah lebih dulu membuat penontonnya berjarak.

Film arahan Salman Aristo kali ini berseting di Swiss. Bergulat di dua pasang kekasih, artinya ada empat orang yang dilibatkan secara intens. Alya, Bima, Cho, dan Din. Saling mencari pelarian atas kisah asmara dan gejolak internal keluarga menjadi tulang punggungnya. Seiring berjalannya durasi, nyatanya bukan pundaklah yang dicari oleh mereka.

Kesan pertama setelah menonton film ini bagi saya pribadi adalah capek, penuh.

Penuh yang bukan di artian positif. Bukan penuh karena memperoleh guyuran insights. Ada dua hal yang menyumbang perasaan ini: durasinya dan buramnya arah narasi.

Sejak permulaan, kita sebagai penonton sudah dijejali dengan berbagai detail yang sekadar lewat. Kesannya, “mereka” (selain empat karakter inti) asal disorongkan cuma untuk memenuhi frame. Lewat perlakuan ini, Satu Hari Nanti agaknya sadar/tidak sadar tentang anatomi tubuhnya sendiri.

Ini adalah narasi yang memiliki terlalu banyak subteks.

Dengan kesadaran ini, mestinya naskahnya (atau bahkan ketika syuting) mafhum bahwa sudah ada terlalu banyak informasi yang nantinya harus dicerna oleh audiensnya. Tidak perlu lagi menghiraukan untuk memasukkan beragam filler yang tidak signifikan (misalnya adegan Alya mengambil sepeda di awal; di sisa durasi, tidak ada kontinuitas atas adegan ini).

Akibat dari obsesi untuk memasukkan banyak detail “Swiss” di dalam presentasi di tengah intimidasi substeks utama, film ini gagal membangun “nyawa” atas latar tempat yang ada. Ataukah ini memang sengaja untuk mempersonifikasi Swiss sebagai kota netral sehingga pembawaannya sebagai latar pun dibuat “dingin” dan “tidak peduli”?

Gambarannya, Swiss yang begitu indah disorot oleh sinematografi Satu Hari Nanti (dan didukung scorring yang hit-or-miss) jadi terkesan seperti patung nan bergeming. Hampir bisa dipastikan, penonton pun sukar untuk memiki ketertarikan/keterikatan dengan lokasi-lokasi yang diambil. Saya yakin (meskipun saya belum sempat ke Swiss), intensi dari Salman dan kru adalah menciptakan sebuah seting kota yang kecil, yang di mana-mana mudah dijangkau. Sayangnya, akibat akrobat kamera dan keputusan editing yang dipilih, kesannya ini adalah sebuah kota yang sangat luas dan terpencar-pencar—sebab, bahkan begitu sulit bagi kita untuk mengenali lingkungan tempat tinggal Alya-Bima maupun Cho-Din selain di dalam flat maupun rumah mereka.

Ketika semestinya intimasi itu yang coba diselaraskan antara seting dan karakter, lebih bijak lagi apabila sikap “hati-hati” yang disikapi dengan “penambahan shots beda lokasi” itu dieliminir sekuat tenaga. Cukup, kok, kalau sebuah film ingin memakai skop seting sempit demi mendukung aspirasi para karakter utamanya yang sudah terlalu menonjol.

Berpindah ke ejawantahan karakternya, Satu Hari Nanti memberi keadilan sepatutnya hanya kepada Alya dan Din.

Dua tokoh yang masing-masing diperankan oleh Adinia Wirasti dan Ringgo Agus itu memperoleh alokasi eksplorasi emosional yang memadai. Kita diberi kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang hasrat mereka baik implisit maupun eksplisit. Lebih bagusnya lagi, kedua pemeran tersebut tidak kesulitan untuk menampilkan performa apik sejalan dengan motivasi serta dinamika karakternya. Meskipun, saya kini sudah berada di tahap bosan dengan tipe penokohan yang selalu diambil oleh Adinia (setidaknya dua tahun terakhir), kesannya begitu-begitu saja dan tidak berkembang (Critical Eleven, Cek Toko Sebelah, Ada Apa dengan Cinta? 2 adalah tiga di antaranya).

Sedangkan Cho dan Bima yang dibawakan oleh Ayushita dan Deva Mahendra selalu berhenti di level maju-mundur-ragu.

Ibarat makanan yang sudah akan ditelan, tetapi malah nyangkut terus di tenggorokan. Padahal keduanya (terutama Cho) memiliki latar sosial yang lebih menarik dibandingkan dengan Alya dan Din (yang lebih condong ke latar emosional). Elaborasi yang lebih berani (kalau memang tujuannya adalah untuk menonjolkan empat karakternya sama rata) dengan cara meningkatkan tensi konfrontasi antarmereka (frontal maupun subtil) sangat potensial untuk dinaikkan dosisnya. Bukan malah terkesan cari aman dengan cara menyubtitusinya lewat ragam karakter bule yang tampak “lepas-pasang”.

Satu Hari Nanti akhirnya hanya menjadi film yang mendewasakan aspek teknis.

Obsesi narasinya untuk menjadi sajian 21+ pun tidak meninggalkan esensi berarti. Kesan hati-hati serta tumpukan temuan riset yang dijejalkan oleh Salman Aristo ke dalam naskah sajian slice of life ini justru berujung pada pembengkakan substansi—bloated, tak tersortir. Berbicara mengenai poin rating dewasa, satu hal yang menyelamatkan film ini ada di pokok penutupnya (yang menunjukkan keberanian bersikap).

Satu Hari Nanti memperoleh 7 dari 10 bintang.

Film Satu Hari Nanti (2017) telah ditonton pada 3 Desember 2017 di JAFF 12th, review resmi ditulis pada 4 Desember 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 1,109 times, 2 visits today)

Comments

  • a thought by Johnny

    Setuju dengan penulisan ini,kalo saya pribadi setelah menonton film ini,jauh dari ekspektasi saya ttg film dengan cerita yg kuat.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required