Review Film | “Zootopia (2016)” Mengusik Stigma

Estimasi waktu baca: 3 menit

Disney benar-benar sedang mencari jati diri baru.

Ingat saja film-film produksi departemen animasinya ke belakang. Rasanya selama ini Disney sudah sangat dekat dengan penceritaan yang ringan dan loveable. Namun, bersamaan dengan langkah studio ini dalam membawa kisah yang lebih dewasa, ditandai dengan pewujudan film animasi klasik menjadi live-action, lini animasinya ikut ter-upgrade secara improvisasi dan gagasan.

Zootopia ikut menjadi saksi awal pijakan besar yang akan terus diambil itu.

Zootopia berkisah tentang Judy Hopps–seekor kelinci optimis–yang bercita-cita untuk menjadi polisi di Zootopia. Dia adalah sosok yang tidak mengenal kata “ciut” meskipun sejak awal banyak hewan lain yang mencibirnya. Lebih parahnya lagi, kedua orangtuanya di awal juga sangat pesimis. Ternyata, tekad keras berhasil membawa Judy ke cita-citanya. Dia berhasil menjadi kelinci polisi pertama dan ditempatkan di Zootopia. Perjalananan film ini baru saja dimulai. Judy terus menerus mendapat sentimen negatif dari lingkungan kerja hingga atasannya. Hingga suatu ketika, dia mendapati celah untuk membalikkan semua itu.

 

Kalau orang-orang di awal mengira bahwa Zootopia adalah materi yang dangkal, maka jawaban singkat saya adalah: salah besar.

Zootopia sungguh luar biasa. Film ini menjunjung perkara toleransi, stigma, dan aspirasi sebegitu tingginya. Saya berani bertaruh, apabila mediumnya bukan animasi, Zootopia pasti bakalan bubar jalan. Disney di level ini menjadi luarbiasa identik dengan Pixar.

Semua orang sudah sangat hafal bahwa Disney dan Pixar adalah pemain utama di jagad animasi global. Perbedaan keduanya terletak di ciri khas penyampaian kisah. Kalau di dunia produsen superhero, Disney bisa diumpamakan sebagai Marvel–yang ringan dan mudah membuat senang semua orang. Sedangkan Pixar lebih condong ke DC–gagasan yang dibawa mayoritas lebih kompleks dan kadang malah sangat segmented. Namun di sini, Zootopia adalah anomali Disney yang membuat saya sangat bahagia. Studio ini akhirnya berani bereksperimen lebih jauh lagi dengan cara meramu kompleksitas gagasan di sebuah sajian animasi.

Review ini tidak akan terlalu jauh membahas aspek teknikal. Sebab, berbagai hal teknis buat film bergenre animasi sudah khatam digarap oleh para penggawa Zootopia.

Animasinya detail dan halus. Scorring-nya pas. Pengisi suaranya tidak ada yang terdengar salah karakter–blended. Justru yang menjadi sorotan utama saya adalah keberadaan Shakira lewat lagu Try Everything-nya. Selain catchy, lirik dan tone musiknya uplifting banget.

Zootopia menggunakan “stigma” sebagai komoditas utama penceritaannya.

Film ini menggambarkan sebegitu menyedihkannya menjadi entitas (anggap saja ras) yang terkotak-kotak oleh keadaan sosial. Memang di premisnya sudah digambarkan bahwa hewan pemangsa dan buruannya telah berada di level berdamai, hidup rukun. Namun, tidak bisa dilepaskan begitu saja bahwa prasangka-prasangka satu spesies dengan spesies lain itu bersifat laten.

Rubah digambarkan sebagai sosok yang licik, kelinci digambarkan sebagai karakter yang lemah, singa digambarkan sebagai tokoh yang kuat, hingga kambing digambarkan sebagai binatang tak berdaya. Zootopia secetek itu? Sama sekali tidak. Oleh film ini, semua stigma yang sudah dilekatkan di awal, dijungkirbalikkan dengan natural seiring laju durasi.

Pandangan kita pada banyak hal tiba-tiba saja menjadi blur–tentang prasangka-prasangka yang selama ini sudah kita iyakan. Zootopia sukses membuat saya melongo. Anak kecil yang menonton film ini pasti mendapatkan kebahagiaan, namun orang dewasa yang menonton film ini pasti mendapat tamparan–tidak cuma sekali, berkali-kali. Apalagi ketika personifikasi yang ada dilemparkan ke kenyataan dunia sosial manusia.

Lewat Zootopia, penonton diliterasi dengan sangat baik perihal saling menghargai pun memaafkan.

Sesungguhnya, menghilangkan sekat-sekat, kasta-kasta, kelas-kelas, apa pun istilahnya yang berkaitan dengan status sosial justru akan membuat semuanya menjadi baik-baik saja secara luar-dalam. Namun pasti ada sebagian pihak yang tetap mempertahankan egonya, hal itu tidak bisa dicampakkan begitu saja. Film ini menawarkan sebuah words of wisdom yang mungkin klise tapi sungguh sulit diwujudkan: perubahan bermula dari diri sendiri. Kalau ujaran itu berjalan semestinya? Silakan bayangkan sendiri hasilnya.

 

Zootopia layak memperoleh 9 dari 10 bintang.

 

(Film Zootopia (2016) telah ditonton pada 16 Februari 2016, review resmi tersapa ditulis pada 17 Februari 2016 dan 31 Maret 2016)

 


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 2000 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 88 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by #SpectacularTen 10 Film Terbaik 2016 (Bagian 1) – tersapa.com

    […] judul untuk baca review lengkap): 11. Captain America: Civil War (9.5/10); 12. Arrival (9.2/10); 13. Zootopia; 14. Everybody Wants Some!!; 15. Jackie; 16. Toni Erdmann; 17. Sully; 18. Fences; 19. Rogue One: A […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required