Friday, December 3

Rating 8.5

Review Film | “Kimi No Na Wa (Your Name) (2016)” Merayakan Absurditas Manusia
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Kimi No Na Wa (Your Name) (2016)” Merayakan Absurditas Manusia

Apalah sinema Asia kalau tidak memasukkan nilai-nilai mistis ke dalamnya. Dan hal demikianlah yang membuat karya-karya dari benua ini bisa unik sekaligus menarik, sebab perangai mistis tersebut selalu efektif menyasar level personal. Kita dibuat merasa terhubung langsung secara emosional, meski nampaknya tidak wajar. Your Name bercerita tentang dua pelajar yang tidak saling kenal, tidak tinggal di daerah yang sama, tidak seragam jenis kelaminnya, dan pada awalnya benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sesudahnya, mereka pelan-pelan sadar bahwa keduanya saling "bertukar tubuh". Kejadian yang pada awalnya nampak sangat janggal tersebut lama-lama menyatukan keselarasan mereka dengan dramatis sekaligus humoris. Kondisi euforia itu tidak berlangsung lama. Ketika Ta...
Review Film | “Little Men (2016)” Realitas di Tanah New York
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Little Men (2016)” Realitas di Tanah New York

Gelar New York sebagai The Big Apple yang selalu terang benderang mungkin memang terlalu menyilaukan para wisatawannya. Sedangkan di balik gemerlap yang ada, hadir entitas-entitas kecil baik imigran maupun lokal yang harus berjuang untuk hidup wajar pun toleran. Little Men garapan Ira Sachs ada di pilihan kedua, menjadi film yang teramat sederhana guna menampilkan sedikit remahan realitas. Kita akan mengikuti kisah Jake dan keluarga kecilnya sampai di akhir durasi. Dia adalah anak tunggal dan lebih sering menghabiskan waktu dengan menggambar. Suatu ketika kakeknya meninggal. Kejadian tersebut mempertemukan Jake dengan anak laki-laki keturunan imigran Chili, Tony, yang selanjutnya langsung menjadi sahabat. Namun, perkara harta gono-gini yang melibatkan orang tua keduanya menciptakan kondi...
Review Film | “Allied (2016)” Penerimaan Intrik
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Allied (2016)” Penerimaan Intrik

Duet performa maut terjadi di Allied. Brad Pitt dan Marion Cotillard tidak membutuhkan karakter yang utuh untuk menyajikan chemistry seintim mungkin. Penonton semacam sudah didesain supaya hanya tahu penokohan tokoh secara sepotong-sepotong dan terbiasa dengan intrik pengkhianatan, sialnya hal ini sudah cukup efektif buat mencabik-cabik perasaan. Allied berseting perang dunia kedua, Max ditugaskan untuk menyamar dan menjadi mata-mata di wilayah French Morocco. Di sana dia tahu bahwa sudah ada seorang perempuan dari aliansi pemberontak yang bakal membantunya menyelesaikan tugas. Keduanya bermain peran dengan sangat baik. Namun, namanya juga sejak awal sudah penuh rekayasa, ada hal genting yang justru luput dari pembacaan. Satu kata yang sangat tepat mendefinisikan Allied adalah hen...
Review Film | “Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)” Sihir Itu Tidak Pernah Pudar
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)” Sihir Itu Tidak Pernah Pudar

JK Rowling bukan hanya pencerita yang baik. Dia juga penjaga rahasia kelas kakap yang bisa diandalkan. Ayo buktikan: dengan proyek ambisius Fantastic Beasts ini, sudah berapa persen dari calon penonton yang juga penggemar tuturannya dibuat menebak-nebak arah plotnya bakal ke mana? Sejak awal kita hanya tahu bahwa film ini akan mengikuti seorang Newt Scamander yang berkunjung ke New York tahun 1920-an dan malah mengalami gangguan gara-gara koper ajaib bawaannya. Koper itu memiliki dua dimensi, pertama sebagai koper pada umumnnya, kedua sebagai pintu ke “dunia lain” seorang Newt. Di dunia itu, dia menyelamatkan hewan-hewan sihir yang kebanyakan dianggap berbahaya. Ya, Newt memburu hewan ajaib tidak untuk dibasmi, justru dilindungi. Kurang lebih hanya deskripsi itulah yang kita tahu sela...
Review Film | “Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)” Hampa di Tengah Gempita
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)” Hampa di Tengah Gempita

Mereka yang tidak menghargai film Billy Lynn's Long Halftime Walk adalah mereka yang belum bisa mengapresiasi hidup secara utuh. Mereka yang masih dan rela pikirannya terjebak di dalam bola kaca berisi kebahagiaan selebrasi domestik instan. Ketika mereka masih ngotot bahwa "pahlawan" seharusnya menjadi apresiasi sepanjang masa (lifetime), tetapi justru melakukan pembiaran dan menganggap layaknya angin lalu ketika faktanya para pahlawan ini masih ditampilkan sekadar sebagai pelengkap komoditas pertunjukan. Tidak lebih.  Kegetiran ini benar-benar nyata adanya. Ang Lee memahami betul esensi tamparannya, itulah mengapa film ini bisa terlahir dan sangat dia. Itulah mengapa film ini diberikan perlakuan spesial. Walaupun kalau ditarik di akhir, film ini memiliki fase yang sangat lambat dan s...
Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal

Penonton Indonesia kembali disadarkan tentang banyaknya "pahlawan" yang sesungguhnya tersebar di sekitar melalui medium Wonderful Life. Nyawa film ini sangatlah personal. Mengangkat disleksia sebagai premis, rasanya Agus Makkie adalah satu dari sedikit pencerita level layar lebar yang berhasil berbicara cukup komprehensif tentang kondisi ini. Wonderful Life adalah adaptasi dari buku berjudul sama hasil tulisan Amalia Prabowo. Kisahnya berpusat pada dua tokoh utama: Amalia—sang ibu—dan Aqil—anaknya. Di pengelihatan orang awam, mungkin kondisi mereka berdua sudah nampak berkecukupan—orang tua Lia yang berada dan pekerjaan Lia sebagai CEO di agensi iklan multi-nasional. Namun, berkecukupan secara finansial saja tidak cukup, nyatanya ada cukup banyak konflik emosional yang mesti ditanggu...
Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya

Ada selentingan umum berbunyi begini: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre komedi. Tidak sepenuhnya salah, dan pada banyak kasus memang terjadi demikian. Namun di Indonesia, kasusnya lain: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre biografi. Athirah masuk ke segolongan “elite” film biografi yang berhasil. Film ini bisa mengontrol egonya sehingga mampu mengail empati tanpa harus mengemis-ngemis. Film ini berkisah tetang kehidupan rumah tangga seorang Athirah. Mengambil latar tahun 50-an hingga 60-an di Bone dan Makassar, keluarganya harus mengalami sandungan. Sang suami main mata dan selingkuh dengan wanita lain. Di guliran durasi selanjutnya, film ini menampakkan usaha dan goncangan batin yang dilalui Athirah--serta anak-anaknya terutama Ucu--untuk menyelamatkan biduk ru...
Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa

Siapa yang tidak penasaran kalau ada film drama romansa yang produsernya adalah keroyokan Warner Bros., New Line, dan MGM? Me Before You adalah salah satu output-nya. Secara sederhana, sebelum melongok ke isi, film ini sudah mampu membuat penonton minder duluan. Nyatanya, meski film ini merupakan manifestasi daur ulang rasa dari banyak sumber terdahulu, Me Before You masih mampu menjadi presentasi yang charming. Film ini berkisah tentang William Traynor, anak konglomerat yang sudah mapan dan kehidupannya hampir saja menjadi dambaan banyak orang. Naas, terjadi kecelakaan lalu lintas yang menjadikan Will cacat fisik seumur hidup. Selama sekian waktu, dia hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda canggih dan jarang keluar dari sekat kamar yang tidak kalah canggihnya. Sampai suatu hari, m...
Review Film | “13 Hours (2016)” Garapan Terbaik Michael Bay
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “13 Hours (2016)” Garapan Terbaik Michael Bay

Judul: 13 Hours - The Secret Soldiers of Benghazi | Cast: John Krasinski, Pablo Schreiber, James Badge Dale | Sutradara: Michael Bay | Penulis Naskah: Chuck Hogan | Rilis: Januari 2016 (US) | Durasi: 144 menit Di suatu kondisi tertentu, pihak yang seharusnya selalu ada pun bisa tiba-tiba ditelan kedok rencana. Membuat banyak keputusan menjadi berada di level "antara". 13 Hours menunjukkan bahwa nyatanya nyawa kalah penting dibanding jasa. Film ini berkisah tentang para "pejuang" Amerika pada 2012 yang masih harus beroperasi di Benghazi, Libya karena perintah negara. Sebenarnya, mereka tidak harus berada di sana. Toh, negara-negara lain juga sudah menarik para perwakilan diplomatiknya. Namun, bukan Amerika namanya kalau tidak mau ikut campur di banyak perkara. Akibatnya, mereka harus be...