Tag: #Review Film

Review Film | “Louder than Bombs (2016)” Hanya Butuh Bicara
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Louder than Bombs (2016)” Hanya Butuh Bicara

Louder than Bombs layak memperoleh apresiasi karena berani memilih cara pengisahan yang kurang populer. Pengisahannya paradoks--yang jelas tidak hanya berwujud letupan, tapi sampai ledakan. Apalagi di film ini, lingkupnya adalah keluarga, di mana letupan maupun ledakan bisa sama-sama mencapai titik kulminasi. Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang tiap anggotanya memiliki perseden masing-masing. Kondisi mereka semakin mengkhawatirkan pasca sang ibu-istri meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tapi, terlepas dari penyebab meninggalnya, si ibu-istri ini pun berprofesi sebagai seorang fotografer yang berani beda. Kalau kamu menyukai film yang susunannya serupa puzzle dengan rentang timeline cukup panjang, Louder than Bombs bisa mengatasi dahaga. Melalui konflik yang berkis...
Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa

Siapa yang tidak penasaran kalau ada film drama romansa yang produsernya adalah keroyokan Warner Bros., New Line, dan MGM? Me Before You adalah salah satu output-nya. Secara sederhana, sebelum melongok ke isi, film ini sudah mampu membuat penonton minder duluan. Nyatanya, meski film ini merupakan manifestasi daur ulang rasa dari banyak sumber terdahulu, Me Before You masih mampu menjadi presentasi yang charming. Film ini berkisah tentang William Traynor, anak konglomerat yang sudah mapan dan kehidupannya hampir saja menjadi dambaan banyak orang. Naas, terjadi kecelakaan lalu lintas yang menjadikan Will cacat fisik seumur hidup. Selama sekian waktu, dia hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda canggih dan jarang keluar dari sekat kamar yang tidak kalah canggihnya. Sampai suatu hari, m...
Review Film | “Everybody Wants Some!! (2016)” Jadul yang Lovable
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Everybody Wants Some!! (2016)” Jadul yang Lovable

Everybody Wants Some!! memiliki semua syarat untuk menjadi film yang lovable. Karakter-karakternya melekat. Production design, make-up, hairstyling, serta costume design-nya mampu berbicara banyak guna mengokohkan seting waktu yang diambilnya. Pun Linklater selalu tahu bagaimana cara meramu dialog sederhana supaya tetap bisa tampil manusiawi. Film ini berkisah tentang Jake, anggota baru yang bergabung di klub college baseball--berlokasi di Texas. Di rumah yang menjadi basecamp mereka, bermunculanlah banyak momen yang melibatkan "soul" setiap penghuninya. Kesemuanya menjadi lebih menarik sebab rentang waktu yang diambil sangatlah pendek, tiga harian sebelum libur sekolah berakhir. Linklater adalah sutradara penuh daya tarik bagi mereka pecinta pengisahan yang nampak sederhana namun ses...
Review Film | “Demolition (2016)” Riskannya Repetisi
#Film, #Home, Rating 6

Review Film | “Demolition (2016)” Riskannya Repetisi

  Saya harap kita sudah sepakat bahwa tidak ada suatu yang benar-benar baru di dunia ini. Ketika ada alternatif kebaruan, prosesnya merupakan komodifikasi dan kolaborasi dari berbagai unsur yang sudah lebih dulu ada sebelumnya--disengaja maupun tidak. Tetapi bukan berarti suatu yang sudah ada tidak bisa diperlakukan repetitif. Dalam ranah film, model penceritaan juga bisa berada di posisi yang cukup riskan semacam itu--kemungkinan singgungan dan pengulangan gagasan selalu ada. Demolition sejak awal berusaha keras untuk melakukan representasi seperti tersebut. Tetapi, film ini melakukannya dengan sangat sembrono. Demolition berkisah tentang Davis Mitchell, seorang yang kehidupannya mapan. Dia bekerja di sebuah perusahaan finansial yang dikomandoi oleh sang mertua. Materinya le...
Review Film | “Finding Dory (2016)” Sentimental dan Menyenangkan
#Film, #Home, Rating 7

Review Film | “Finding Dory (2016)” Sentimental dan Menyenangkan

Tahu bahwa untold story dari tiap-tiap karakternya punya kadar emosional yang berbeda, Finding Dory memilih berjalan sesuai koridor: sentimental dan menyenangkan. Dory bermain dengan fragmen-fragmen ingatan yang sangat personal. Dengan kondisi semacam itu, tidak ada rencana muluk-muluk yang nampak jelas di hadapan. Film Finding Dory memiliki skop timeline penceritaan yang sangat panjang. Semuanya dimulai ketika Dory kecil sedang dilatih oleh kedua orang tuanya untuk tidak begitu saja menerima keadaan. Mereka berasal dari spesies ikan yang memiliki sindrom short-term memory loss--tidak bisa mengingat sesuatu yang baru saja terjadi.   Tanpa mengetahui apa yang terjadi setelahnya, penonton langsung dilempar ke kejadian ketika Dory bertabrakan dengan ayah Nemo--Marlin--yang s...
Review Film | “Alice Through the Looking Glass (2016)” Sekuel Setengah Hati
#Film, #Home, Rating 6

Review Film | “Alice Through the Looking Glass (2016)” Sekuel Setengah Hati

Magis Alice in Wonderland tinggal ceceran di Alice Through the Looking Glass--yang kemudian di review ini disebut Alice 2. Alice 2 hanyalah parade visual yang miskin substansi dan urgensi. Bahkan karakter-karakter ikoniknya pun tampil limbung kurang tenaga. Alice Through the Looking Glass berkisah tentang Alice (Mia Wasikowska) yang sekarang adalah seorang pelaut. Dia harus berhadapan dengan situasi sulit karena deraan finansial keluarganya. Dalam kondisi batin yang kurang nyaman, secara tidak terduga Alice kembali memasuki Wonderland karena mengikuti seekor kupu-kupu yang memasuki sebuah cermin. Di Wonderland pun Alice mendapati kenyataan bahwa sahabat lamanya, Hatter Tarrant Hightopp (Johny Depp), sedang gundah. Dia menyalahkan dirinya sendiri sebab telah berburuk sangka kepada orangt...
Review Film | “The Conjuring 2 (2016)” Panik yang Menenteramkan
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “The Conjuring 2 (2016)” Panik yang Menenteramkan

The Conjuring 2 dibuka dengan keragu-raguan. Seolah tapakan-tapakan yang coba dibekaskan masih samar-samar. Untungnya, kendali James Wan di fase durasi selanjutnya semakin mantap dan matang. Menggunakan anak judul The Enfield Poltergeist, film ini dibuka oleh sesi pembuktian adakah iblis di sebuah rumah di kompleks Amityville. Baru setelahnya, penonton dilempar ke London, ke kehidupan sebuah keluarga yang serba kekurangan. Keluarga itu terdiri dari seorang ibu, orangtua tunggal, dan empat orang anaknya. Kehidupan menjadi tidak terbayangkan setelah beberapa kali mereka mengalami teror tak terdefinisikan. Bahkan, salah satu anak perempuannya, Janet, menjadi target gangguan supranatural yang paling parah.   Seperti pendahulunya, The Conjuring 2 menyambut penoton dengan teks ...
Review Film | “13 Hours (2016)” Garapan Terbaik Michael Bay
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “13 Hours (2016)” Garapan Terbaik Michael Bay

Judul: 13 Hours - The Secret Soldiers of Benghazi | Cast: John Krasinski, Pablo Schreiber, James Badge Dale | Sutradara: Michael Bay | Penulis Naskah: Chuck Hogan | Rilis: Januari 2016 (US) | Durasi: 144 menit Di suatu kondisi tertentu, pihak yang seharusnya selalu ada pun bisa tiba-tiba ditelan kedok rencana. Membuat banyak keputusan menjadi berada di level "antara". 13 Hours menunjukkan bahwa nyatanya nyawa kalah penting dibanding jasa. Film ini berkisah tentang para "pejuang" Amerika pada 2012 yang masih harus beroperasi di Benghazi, Libya karena perintah negara. Sebenarnya, mereka tidak harus berada di sana. Toh, negara-negara lain juga sudah menarik para perwakilan diplomatiknya. Namun, bukan Amerika namanya kalau tidak mau ikut campur di banyak perkara. Akibatnya, mereka harus be...
Review Film Indonesia | “My Stupid Boss (2016)” Humornya Monoton
#Film, #Home, Rating 6.5

Review Film Indonesia | “My Stupid Boss (2016)” Humornya Monoton

Sutradara: Upi Avianto | Penulis Naskah: Upi Avianto | Produser: Frederica | Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad Saya membeli tiket film My Stupid Boss pada 19 Mei 2016 untuk pemutaran 11.00, dan tidak sengaja premiere. Padahal niat menonton film ini hanyalah untuk menekan prasangka buruk (dari saya sendiri) tentang film tersebut. Pertama, Reza Rahadian ikut ambil peran. Saya yakin Ia akan berakting dengan bagus dan meyakinkan, tapi saya pikir Ia bukanlah aktor yang tepat dipandang sebagai bos menyebalkan. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan bayangan Reza-yang-asli dari tampang bos itu, meskipun make-upnya cukup meyakinkan. Kedua, Reza dipasangkan dengan Bunga Citra Lestari. Saya melihat chemistry sebagai pasutri antara Reza dan BCL sudah terbangun kuat dalam...