Thursday, April 30

Tag: #Review Film

Review Film | “X-Men: Apocalypse (2016)” Menjegal Peradaban
#Film, #Home, Rating 10

Review Film | “X-Men: Apocalypse (2016)” Menjegal Peradaban

X-Men: Apocalypse adalah wujud penghormatan. Dalam jajaran franchise X-Men, ini adalah episode terbaiknya. Termatangnya. Teradilnya. Terkerennya. Film ini berkisah tentang era 80-an di realitas para mutan dunia, terutama di lingkaran X-Men pasca kejadian Days of Future Past. Mystique dielu-elukan sebagai pahlawan, Magneto dicap sebagai penjahat kelas kakap, Xavier nyaman di lingkungan akademi mutannya. Tetapi, di X-Men semua hal selalu punya lebih dari satu kenyataan. Sayangnya, para karakter yang ada di dalamnya mayoritas hanya melihat dari satu sudut praduga. Semua kondisi tersebut menjadi di luar kendali ketika En Sabah Nur muncul sebagai prolog sekaligus benang merah konflik utama, kebangkitan kembali si Apocalypse yang mencekamkan seantero bumi--dibantu Four Horsemen-nya. Saya sun...
Review Film Indonesia | “Ada Apa dengan Cinta? 2” Sekuel yang Bising
#Film, #Home, Rating 7

Review Film Indonesia | “Ada Apa dengan Cinta? 2” Sekuel yang Bising

Judul: Ada Apa dengan Cinta? 2 | Cast: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo | Sutradara: Riri Riza | Penulis Naskah: Mira Lesmana, Prima Rusdi | Produser: Mira Lesmana | Rilis: 28 April 2016 | Durasi: 123 menit Ada Apa dengan Cinta? memang film yang rame. Trademark ini ingin dipertahankan di sekuelnya, sayang jatuhnya malah bising. Saya kurang bisa menikmati suguhan yang materi promosinya gila-gilaan ini. Bahkan untuk sekadar memberikan sensasi "campur aduk" seperti prekuelnya, Ada Apa dengan Cinta? 2 berjalan terseok-seok. Film ini berkisah tentang Cinta dan Rangga yang sudah terpisah secara raga sekian purnama. Meskipun sempat berkunjung ke New York, toh jalan cinta keduanya harus kandas secara sepihak. Namun, bukan berarti keajaiban cinta itu hilang begitu saja. Secara tidak terduga...
Review Film | “King Jack (2015)” Memandu Proses Pendewasaan
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “King Jack (2015)” Memandu Proses Pendewasaan

Judul: King Jack | Cast: Charlie Plummer, Christian Madsen, Daniel Flaherty, Cory Nichols, Yainis Ynoa | Sutradara & Penulis Naskah: Felix Thompson | Produser: Gabrielle Nadig, Dominic Buchanan | Rilis: Festival 2015, Universal 2016 | Durasi: 81 menit King Jack adalah panduan untuk mengenal fragmen paling fragile dalam perjalanan hidup seorang remaja. Memang tokoh utamanya berlatar lingkungan Amerika, bukan berarti relevansinya di region lain nihil. Justru film ini membuat penonton universal paham bahwa proses pendewasaan setiap individu adalah krusial dan wajib didukung, bukan dilarang. Film ini berkisah tentang Jack, remaja yang tinggal bersama seorang kakak laki-laki serta ibunya. Keseharian Jack layaknya ABG lain, dipenuhi perseteruan, adu pendapat, ego, dan jatuh cinta...
Review Film | “Captain America: Civil War (2016)” Mengagumi Russo Bersaudara, Spider-Man, dan Black Panther
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Captain America: Civil War (2016)” Mengagumi Russo Bersaudara, Spider-Man, dan Black Panther

Captain America: Winter Soldier dan Captain America: Civil War adalah dua film terbaik sepanjang Marvel Cinematic Universe (MCU) per 2016. MCU juga sangat diuntungkan karena telah lebih dulu mengenal Anthony Russo dan Joe Russo. Duo bersaudara brilian yang kembali didapuk sebagai sutradara setelah sebelumnya juga sempat mengomandoi Captain America: Winter Soldier. Kalau mau lebih jujur lagi, dua installment terakhir Captain America merupakan capaian tertinggi MCU selama hampir sedekade ini. Civil War berkisah tentang kegamangan Avengers pasca berbagai tindakan "heroik" mereka di berbagai kota yang meskipun berhasil menumpas musuh namun menyisakan banyak penderitaan, kerusakan, dan kehilangan. PBB menggalang dukungan dan berupaya mengendalikan Avengers lewat perjanjian yang disodorkan--...
Review Film | “The Jungle Book (2016)” Proses Pendewasaan yang Sewajarnya
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “The Jungle Book (2016)” Proses Pendewasaan yang Sewajarnya

The Jungle Book adalah gong paling kentara di jajaran film pengisi slot live-action Disney sejauh ini. Tidak terbayang sebelumnya bahwa pengisahan sesederhana Jungle Book bisa tampil "sepenting" ini. Film ini mengemas tema besar tentang keseimbangan alam dengan cara cukup berani. Yang di sini, Mowgli menjadi anomali di antara para penghuni rerimbaan. The Jungle Book versi live-action berpegang teguh pada naskah aslinya yang lebih dulu diadaptasi ke bentuk animasi. Jadi sudah bisa ditebak bahwa film ini masih mengikuti Mowgli, seorang bocah yang ditemukan oleh macan kumbang (Bagheera) pasca bapaknya dibunuh oleh Shere Khan, seekor macan. Dia kemudian dibawa oleh Bagheera ke komunitas serigala untuk dipelihara. Namun ternyata prosesnya tidak sesederhana itu, ketika anak-anak serigala sud...
Review Film | “Midnight Special (2016)” Sespesial Empati Tak Bersyarat
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Midnight Special (2016)” Sespesial Empati Tak Bersyarat

Midnight Special adalah empati tanpa syarat. Bahkan ketika kamu tidak sepenuhnya memahami setiap dialog yang dilontarkan, itu bukanlah perkara besar. Film ini bukan di tipe "membimbing penonton", tetapi "berjalan bersama penonton". Semua tidak kentara bakal berakhir seperti apa dan bagaimana. Tetapi ada satu keyakinan yang terus menyala terang di sepanjang durasi. Seterang pendar mata Alton. Midnight Special berkisah tentang seorang ayah yang memiliki anak berusia delapan tahun bernama Alton. Dia adalah anak yang spesial, memiliki kekuatan di luar jangkauan pikir manusia. Tetapi, keberadaannya tiba-tiba menimbulkan kekacauan. Banyak pihak yang mencoba mencari dan menelitinya. Tidak mau berakhir buruk, Alton dengan perlindungan orang-orang terdekatnya mencoba membuka mata dunia. ...
Review Film | “Zootopia (2016)” Mengusik Stigma
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Zootopia (2016)” Mengusik Stigma

Disney benar-benar sedang mencari jati diri baru. Ingat saja film-film produksi departemen animasinya ke belakang. Rasanya selama ini Disney sudah sangat dekat dengan penceritaan yang ringan dan loveable. Namun, bersamaan dengan langkah studio ini dalam membawa kisah yang lebih dewasa, ditandai dengan pewujudan film animasi klasik menjadi live-action, lini animasinya ikut ter-upgrade secara improvisasi dan gagasan. Zootopia ikut menjadi saksi awal pijakan besar yang akan terus diambil itu. Zootopia berkisah tentang Judy Hopps--seekor kelinci optimis--yang bercita-cita untuk menjadi polisi di Zootopia. Dia adalah sosok yang tidak mengenal kata "ciut" meskipun sejak awal banyak hewan lain yang mencibirnya. Lebih parahnya lagi, kedua orangtuanya di awal juga sangat pesimis. Ternyata, tekad...
Review Film | “Batman v Superman: Dawn of Justice” Blueprint DCEU di Jalan yang Tepat
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Batman v Superman: Dawn of Justice” Blueprint DCEU di Jalan yang Tepat

Batman v Superman adalah kawah candradimuka dalam modifikasi makna. Bagi yang menyukainya, akan memujanya. Bagi yang tidak suka, bakal membencinya. Saya, tanpa malu, berada di golongan pertama. Mari kita pahami perspektif masing-masing sebelum saling lempar hujatan. (Break--sebelum menonton, beberapa menit pasca review pers mulai boleh dirilis) Baru juga 2016 jalan tiga bulan, namun gempuran rasa sesak serupa sudah dua kali melanda batin saya: pertama, kans Spotlight yang di detik-detik terakhir didiskreditkan oleh mayoritas prediksi kritikus buat memenangkan Best Picture Oscars; kedua, review awal para kritikus luar yang mendiskreditkan Batman v Superman menjelang perilisannya. Saya kemudian otomatis langsung berspekulasi tentang anomali poin kedua ini. Mengingat, saya sebelumnya juga s...
Review Film | “The Big Short (2015)” Panduan Krisis Finansial Anti-Mainstream
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “The Big Short (2015)” Panduan Krisis Finansial Anti-Mainstream

Judul: The Big Short | Tahun: 2015 | Genre: Drama | Durasi: 130 menit | Sutradara: Adam McKay | Pemain: Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling, Brad Pitt "Truth is like poetry. And most people f*cking hate poetry." Kutipan di atas seakan menggambarkan kecenderungan manusia untuk mengabaikan kebenaran yang ada di depan mata mereka. Meskipun demi kebaikan mereka sendiri, jika kebenaran tersebut membuat mereka merasa tak nyaman atau tak membawa keuntungan materi bagi mereka, mereka tak akan mengacuhkannya. Inilah keburukan dari kodrat manusia, setidaknya menurut Sokrates. Dan hal tersebut telah menuntun mereka ke dalam krisis umat manusia di seluruh dunia di mana penyesalan akan selalu datang belakangan. Baca analisis mendalam tentang The Big Short dan Krisis Finansial Global 2008 ya...