Tag: #Review Film

Review Film | “The Danish Girl (2015)” Keputusan Berat Seorang Transgender
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “The Danish Girl (2015)” Keputusan Berat Seorang Transgender

Judul: The Danish Girl | Tahun: 2015 | Genre: Drama Romantis Biografis | Durasi: 119 menit | Sutradara: Tom Hooper | Pemain: Eddie Redmayne, Alicia Vikander, Matthias Schoenaerts, dan Ben Whishaw Bagaimana jika kamu dihadapkan pada sebuah keputusan besar yang dibuat oleh seseorang yang benar-benar kamu cintai? Sekalipun keputusan tersebut membuatmu terancam kehilangan dirinya? Inilah yang harus dihadapi oleh Gerda Wegener (Alicia Vikander) ketika sebuah keputusan telah dibuat oleh suaminya, Einar Wegener (Eddie Redmayne), untuk berubah menjadi seorang wanita transgender. Einar tidak lagi bisa menahan dorongan naluri yang ada di dalam dirinya tersebut untuk benar-benar menjadi seorang Lili Elbe, nama barunya sebagai "diri yang baru." Keputusan tersebut benar-benar membuat rumah tangga p...
Review Film | “Bridge of Spies (2015)” Ketegangan Diplomasi Perang Dingin
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Bridge of Spies (2015)” Ketegangan Diplomasi Perang Dingin

Judul: Bridge of Spies | Tahun: 2015 | Genre: Drama Sejarah | Durasi: 141 menit | Sutradara: Steven Spielberg | Pemain: Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, dan Alan Alda Setelah terakhir kali menyutradarai film Lincoln pada 2012, Steven Spielberg kini kembali menyutradarai sebuah film drama sejarah berjudul Bridge of Spies. Film ini kembali mempertemukan Spielberg dengan Tom Hanks yang sudah sering berkolaborasi lewat beberapa film sebelumnya dengan genre sejenis. Film ini pertama kali dirilis pada 4 Oktober 2015 di Festival Film New York 2015 dan dirilis secara global pada pertengahan Oktober. Penceritaan berlatar awal era Perang Dingin, Bridge of Spies dibuat berdasarkan kejadian nyata. Ceritanya berpusat pada seorang pengacara asuransi Amerika Serikat bernama James B. Donovan (Ha...
Review Film | “Deadpool (2016)” Surga Guyon Receh
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Deadpool (2016)” Surga Guyon Receh

Tidak mudah memperkenalkan tokoh baru--apalagi dibuat sebagai sebuah karya standalone--menjadi langsung dicintai oleh publik. Dalam kasus ini, Deadpool mematahkan banyak aspek pesimisme. Kalimat pembuka di atas tentu saja mengesampingkan mereka yang telah membaca atau sampai sudah teradiksi dengan versi komiknya. Dalam banyak hal, perkenalan bisa jadi berjalan sangat mulus atau justru sebaliknya, awkward pun meh. Deadpool sanggup tampil fun dan brutal, meskipun miskin substansi. Film pertama ini (karena saya yakin tidak akan flop, untung besar malahan) benar-benar menjadi sebuah ajang perkenalan seorang Deadpool. Dimulai dengan sebuah aksi rusuh di jalan raya, film ini kemudian segera masuk ke sela-sela masa lalu Deadpool. Mulai dari pekerjaan awal Wade (yang menjadi landasan mengapa ...
Review Film Indonesia | “A Copy of My Mind (2015)” Garansi Kejujuran
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “A Copy of My Mind (2015)” Garansi Kejujuran

Film ini telah saya tonton di JAFF Desember 2015 silam, sedangkan review-nya memang sengaja saya tunda sampai tanggal rilis bioskopnya bergulir. Kala itu, Joko Anwar sempat berujar bahwa dia sudah punya blueprint lengkap untuk filmografinya, termasuk A Copy of My Mind yang disebut akan berbentuk trilogi. Jika benar-benar berjalan sesuai rencana pikir Joko Anwar, A Copy of My Mind adalah garansi yang sangat prestise. Film ini berkisah tentang kehidupan paralel Sari (Tara Basro), seorang pekerja di salon kecantikan, dan Alek (Chicco Jerikho), seorang pembuat subtitle film untuk cakram optik bajakan. Sepulang kerja, Sari senang memanjakan dirinya dengan menonton film di kamar. Namun dia seringkali mendapatkan subtitle yang buruk dari DVD bajakan yang dibelinya. Hal inilah yang kemudian m...
Review Film Indonesia | “Surat dari Praha (2016)” Menjenguk Eksil
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Surat dari Praha (2016)” Menjenguk Eksil

  Di penghujung durasi Surat dari Praha saya langsung berujar: mengapa tidak dibuat full musikal sekalian? Film ini berkisah tentang Laras, anak tunggal, yang mendapatkan warisan dari ibunya namun dengan syarat harus bertemu seseorang di Praha dan menyerahkan sebuah kotak kayu berisi tumpukan surat beserta sebuah surat balasan. Perjalanannya untuk memperoleh tanda terima kotak tersebut tidak mudah. Jaya, orang yang dimaksud, menolak untuk menerimanya dan menghardik Laras supaya langsung pergi. Naas, di perjalanan pulang pasca diusir, Laras dirampok oleh supir taksi yang dinaikinya. Dia tidak punya pilihan lain selain kembali lagi ke kediaman Jaya. Laras kemudian menemukan banyak hal mengejutkan lewat perjalanan sosok Jaya, yang ternyata adalah salah seorang warga eksil. Surat d...
Review Film Indonesia | “Siti (2014)” Instant Classic!
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Siti (2014)” Instant Classic!

  Lewat perpaduan aspect-ratio 4:3, hitam-putih, kehidupan sebuah keluarga pesisir pantai, tokoh sentral seorang perempuan, serta sayatan scorring jujur tak berkesudahan, Siti menohok dengan amat dalam sepanjang durasi. Kekuatan terbesar dari karya visual layar lebar ini adalah permainan emosi yang dilemparkan oleh para karakternya. Tidak hanya monopoli Siti. Siti berkisah tentang seorang perempuan yang kepepet keadaan. Kehidupan keluarganya pontang-panting pasca sang suami lumpuh akibat kecelakaan sewaktu melaut. Kapalnya ikut pupus, padahal hutang pembelian kapal belum lunas. Sehari-hari, Siti tinggal bersama suami, ibu mertua, dan anak laki-lakinya yang masih SD. Posisi sulit itu menyebabkannya terhimpit masalah finansial yang akhirnya membuka gerbang ke jalan entitas wanita pen...
Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial

Faktanya, film dengan tema sensitif hanya akan berhasil kalau dibuat langsung oleh orang dalam. Artinya, proses panjang yang dilalui haruslah disupervisi langsung oleh entah itu pelaku atau korbannya. Dan Ngenest mampu tampil seepik ini karena tangan Ernest berada langsung di belakang kemudi. Isu rasial bisa dimaklumi bahkan ditertawakan bersama sejak awal hingga pamungkas durasi. Inti pertama: tagline Ngenest tidak bohong.   Film Ngenest diadaptasi dari novel trilogi Ngenest karya Ernest Prakasa. Pengisahan yang ada di dalamnya terinspirasi langsung oleh pengalaman hidupnya sebagai keturunan Cina. Cina mungkin tidak akan mendapat posisi sulit apabila berlatar Malaysia atau Singapura. Sayangnya di Indonesia, etnis Cina berada di posisi yang serba salah. Cuci otak orang Indo...
Review Film | “Spotlight (2015)” Ketika Media Bongkar Pemufakatan Jahat
#Film, #Home, Rating 10

Review Film | “Spotlight (2015)” Ketika Media Bongkar Pemufakatan Jahat

Dengan bentuk kejahatan yang sama namun konteks yang berbeda—kasus paedofil dan kekerasan seksual—Spotlight sungguh relevan untuk menampar Indonesia. Ini adalah film yang penting, sangat penting. Ketika masih banyak permasalahan krusial—tidak hanya kekerasan seksual--yang menyangkut keselamatan dan keamanan masyarakat justru ditutup-tutupi. Usaha “pemufakatan jahat” itu pada banyak hal justru berimbas pada semakin mengerikannya masa depan sekian banyak generasi dunia. Ancamannya lebih serius: traumatis. Latar Spotlight adalah 2001. Editor Marty Baron dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi yang bernama Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-la...
Review Film | “Minions (2015)” Menonton, Tertawa, Lalu Pulang
#Film, #Home, Rating 7

Review Film | “Minions (2015)” Menonton, Tertawa, Lalu Pulang

Setelah sukses dengan sekuel Despicable Me dan rentetan film pendeknya, Pierre Coffin mencoba mengambil kesempatan lagi untuk merajai tangga box office. Minions yang digarap berdasarkan tokoh minion dalam Despicable Me, dibentuk sedemikian rupa menjadi tokoh utama dalam film prekuel ini. Beruntung minion menjadi favorit banyak penonton hingga muncul sebagai tokoh dalam garapan storyline baru. Tak ayal bila Pierre mampu dengan mantap menggandeng Sandra Bullock (Scarlet Overkill) yang digadang-gadang sebagai tokoh penting dalam film ini. Tak diragukan lagi mengapa minion selalu dielu-elukan sebagai makhluk yang imut, bukti kelucuannya sama sekali tidak berkurang dari yang lalu-lalu. Penonton mampu dihipnotis untuk mengikuti alur yang meliuk dengan humor yang tidak receh. Tidak pasaran,...