#Film

Review Film | “Don’t Breathe (2016)” Memperbarui Horor Milenial
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Don’t Breathe (2016)” Memperbarui Horor Milenial

Don’t Breathe patut dipuji karena berhasil menciptakan rasa mencekam yang sangat dekat dengan penonton. Penonton dibuat tidak yakin apakah tiga karakter yang diperkenalkan lebih dulu bakal bisa benar-benar terbebas dari jerat, sampai di menit penghabisan. Horor itu terus mengintai penonton sejak durasi bergulir, membuat bertanya-tanya karena semakin—dan sangat—buramnya batasan baik-buruk. Film ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang memiliki kebiasaan merampok rumah kosong. Selama ini, mereka seringkali tidak mengalami kesulitan dalam mengeksekusi aksinya. Terlebih karena mereka sangat rapi dalam melakukan tindakan pra-aksi. Mereka selalu melakukan pengamatan selama sekian waktu, bahkan mereka juga paham tindakan awal apa saja yang mesti dilakukan supaya perampokan mereka tidak ...
Review Film Indonesia | “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016)” Lebih Nostalgia Ketimbang Lucu
#Film, #Home, Rating 7.5

Review Film Indonesia | “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016)” Lebih Nostalgia Ketimbang Lucu

Meskipun Warkop DKI Reborn (yang seterusnya akan disebut Warkop Reborn) tidak istimewa, untung saja filmnya masih tergolong menyenangkan. Layaknya film Warkop terdahulu, Warkop kali ini yang mengambil anak judul Jangkrik Boss Part 1 kembali terjebak di juntaian humor dangkal. Tetap, di sela-sela ada beberapa selipan kritik sosial yang dilemparkan. Kalau diminta untuk menuliskan rangkuman sederhana, film Warkop Reborn ini lumayan bikin bingung. Tidak ada fokus utama yang dituju, setiap permasalahan muncul dan tenggelam begitu saja. Tetapi paling tidak sebagai gambaran singkat, film ini berkisah tentang tiga Agen Chips, Dono, Kasino, dan Indro yang sedang menjalankan tugas. Di sepanjang sepak terjang, ada saja halangan yang mereka temui. Dan di Part 1 ini, ekonomilah yang menjadi biang ke...
Review Film | “Suicide Squad (2016)” Kepalang Bingung
#Film, #Home, Rating 7

Review Film | “Suicide Squad (2016)” Kepalang Bingung

Kabar baiknya, Suicide Squad masih menarik kalau ditonton ulang--karena ganjil. Kabar buruknya, film ini tidak bisa mengelak bahwa naskahnya masih setengah matang. Dialog dan sekuens yang dilempar terlalu ala kadarnya dan malah menjurus ke, "Apa sih?" Film ini berkisah tentang Amanda Waller, seorang petinggi badan intelijen Amerika, yang bermaksud membentuk pasukan khusus "Task Force X" pasca tewasnya Superman. Pasukan itu terdiri dari para penjahat "DC Comics" yang kebetulan berhasil ditangkap. Tugas mereka adalah menjalankan misi "bunuh diri" kalau sewaktu-waktu ada ancaman luarbiasa yang terjadi.   Di atas kertas, film ini memiliki semua syarat untuk menjadi sangat istimewa. Berbagai tokoh villain tiba-tiba harus menjalankan program "penyelamatan". Ditambah, banyak di ...
Review Film | “Louder than Bombs (2016)” Hanya Butuh Bicara
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Louder than Bombs (2016)” Hanya Butuh Bicara

Louder than Bombs layak memperoleh apresiasi karena berani memilih cara pengisahan yang kurang populer. Pengisahannya paradoks--yang jelas tidak hanya berwujud letupan, tapi sampai ledakan. Apalagi di film ini, lingkupnya adalah keluarga, di mana letupan maupun ledakan bisa sama-sama mencapai titik kulminasi. Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang tiap anggotanya memiliki perseden masing-masing. Kondisi mereka semakin mengkhawatirkan pasca sang ibu-istri meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tapi, terlepas dari penyebab meninggalnya, si ibu-istri ini pun berprofesi sebagai seorang fotografer yang berani beda. Kalau kamu menyukai film yang susunannya serupa puzzle dengan rentang timeline cukup panjang, Louder than Bombs bisa mengatasi dahaga. Melalui konflik yang berkis...
Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa

Siapa yang tidak penasaran kalau ada film drama romansa yang produsernya adalah keroyokan Warner Bros., New Line, dan MGM? Me Before You adalah salah satu output-nya. Secara sederhana, sebelum melongok ke isi, film ini sudah mampu membuat penonton minder duluan. Nyatanya, meski film ini merupakan manifestasi daur ulang rasa dari banyak sumber terdahulu, Me Before You masih mampu menjadi presentasi yang charming. Film ini berkisah tentang William Traynor, anak konglomerat yang sudah mapan dan kehidupannya hampir saja menjadi dambaan banyak orang. Naas, terjadi kecelakaan lalu lintas yang menjadikan Will cacat fisik seumur hidup. Selama sekian waktu, dia hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda canggih dan jarang keluar dari sekat kamar yang tidak kalah canggihnya. Sampai suatu hari, m...
Review Film | “Everybody Wants Some!! (2016)” Jadul yang Lovable
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Everybody Wants Some!! (2016)” Jadul yang Lovable

Everybody Wants Some!! memiliki semua syarat untuk menjadi film yang lovable. Karakter-karakternya melekat. Production design, make-up, hairstyling, serta costume design-nya mampu berbicara banyak guna mengokohkan seting waktu yang diambilnya. Pun Linklater selalu tahu bagaimana cara meramu dialog sederhana supaya tetap bisa tampil manusiawi. Film ini berkisah tentang Jake, anggota baru yang bergabung di klub college baseball--berlokasi di Texas. Di rumah yang menjadi basecamp mereka, bermunculanlah banyak momen yang melibatkan "soul" setiap penghuninya. Kesemuanya menjadi lebih menarik sebab rentang waktu yang diambil sangatlah pendek, tiga harian sebelum libur sekolah berakhir. Linklater adalah sutradara penuh daya tarik bagi mereka pecinta pengisahan yang nampak sederhana namun ses...
Review Film | “Demolition (2016)” Riskannya Repetisi
#Film, #Home, Rating 6

Review Film | “Demolition (2016)” Riskannya Repetisi

  Saya harap kita sudah sepakat bahwa tidak ada suatu yang benar-benar baru di dunia ini. Ketika ada alternatif kebaruan, prosesnya merupakan komodifikasi dan kolaborasi dari berbagai unsur yang sudah lebih dulu ada sebelumnya--disengaja maupun tidak. Tetapi bukan berarti suatu yang sudah ada tidak bisa diperlakukan repetitif. Dalam ranah film, model penceritaan juga bisa berada di posisi yang cukup riskan semacam itu--kemungkinan singgungan dan pengulangan gagasan selalu ada. Demolition sejak awal berusaha keras untuk melakukan representasi seperti tersebut. Tetapi, film ini melakukannya dengan sangat sembrono. Demolition berkisah tentang Davis Mitchell, seorang yang kehidupannya mapan. Dia bekerja di sebuah perusahaan finansial yang dikomandoi oleh sang mertua. Materinya le...
Review Film | “Finding Dory (2016)” Sentimental dan Menyenangkan
#Film, #Home, Rating 7

Review Film | “Finding Dory (2016)” Sentimental dan Menyenangkan

Tahu bahwa untold story dari tiap-tiap karakternya punya kadar emosional yang berbeda, Finding Dory memilih berjalan sesuai koridor: sentimental dan menyenangkan. Dory bermain dengan fragmen-fragmen ingatan yang sangat personal. Dengan kondisi semacam itu, tidak ada rencana muluk-muluk yang nampak jelas di hadapan. Film Finding Dory memiliki skop timeline penceritaan yang sangat panjang. Semuanya dimulai ketika Dory kecil sedang dilatih oleh kedua orang tuanya untuk tidak begitu saja menerima keadaan. Mereka berasal dari spesies ikan yang memiliki sindrom short-term memory loss--tidak bisa mengingat sesuatu yang baru saja terjadi.   Tanpa mengetahui apa yang terjadi setelahnya, penonton langsung dilempar ke kejadian ketika Dory bertabrakan dengan ayah Nemo--Marlin--yang s...
Review Film | “Alice Through the Looking Glass (2016)” Sekuel Setengah Hati
#Film, #Home, Rating 6

Review Film | “Alice Through the Looking Glass (2016)” Sekuel Setengah Hati

Magis Alice in Wonderland tinggal ceceran di Alice Through the Looking Glass--yang kemudian di review ini disebut Alice 2. Alice 2 hanyalah parade visual yang miskin substansi dan urgensi. Bahkan karakter-karakter ikoniknya pun tampil limbung kurang tenaga. Alice Through the Looking Glass berkisah tentang Alice (Mia Wasikowska) yang sekarang adalah seorang pelaut. Dia harus berhadapan dengan situasi sulit karena deraan finansial keluarganya. Dalam kondisi batin yang kurang nyaman, secara tidak terduga Alice kembali memasuki Wonderland karena mengikuti seekor kupu-kupu yang memasuki sebuah cermin. Di Wonderland pun Alice mendapati kenyataan bahwa sahabat lamanya, Hatter Tarrant Hightopp (Johny Depp), sedang gundah. Dia menyalahkan dirinya sendiri sebab telah berburuk sangka kepada orangt...