#Home

Review Film | “Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)” Sihir Itu Tidak Pernah Pudar
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)” Sihir Itu Tidak Pernah Pudar

JK Rowling bukan hanya pencerita yang baik. Dia juga penjaga rahasia kelas kakap yang bisa diandalkan. Ayo buktikan: dengan proyek ambisius Fantastic Beasts ini, sudah berapa persen dari calon penonton yang juga penggemar tuturannya dibuat menebak-nebak arah plotnya bakal ke mana? Sejak awal kita hanya tahu bahwa film ini akan mengikuti seorang Newt Scamander yang berkunjung ke New York tahun 1920-an dan malah mengalami gangguan gara-gara koper ajaib bawaannya. Koper itu memiliki dua dimensi, pertama sebagai koper pada umumnnya, kedua sebagai pintu ke “dunia lain” seorang Newt. Di dunia itu, dia menyelamatkan hewan-hewan sihir yang kebanyakan dianggap berbahaya. Ya, Newt memburu hewan ajaib tidak untuk dibasmi, justru dilindungi. Kurang lebih hanya deskripsi itulah yang kita tahu sela...
Review Film Indonesia | “Shy Shy Cat (2016)” Film Bioskop Rasa FTV
#Film, #Home, Rating 7

Review Film Indonesia | “Shy Shy Cat (2016)” Film Bioskop Rasa FTV

Trailer Shy Shy Cat nampak menjanjikan. Boleh dibilang daya tarik dari film ini ada pada deretan aktor-aktris papan atas yang berani disuguhkan yaitu Nirina Zubir, Acha Septriasa, Fedi Nuril, hingga Titi Kamal. Tak ayal bila film ini banyak mendapatkan perhatian dan dinanti bersamaan dengan Catatan Dodol Calon Dokter--yang juga diisi oleh Tika Bravani, aktris yang akhir-akhir ini namanya sedang melambung karena sering mencuri perhatian. Mira (Nirina Zubir), adalah seorang bankir teladan yang usianya baru saja genap 30 tahun. Dikarenakan janji kepada sang Abah (Budi Dalton), Mira diharuskan pulang ke kampung halamannya untuk dijodohkan dan menikah dengan Otoy (Fedi Nuril). Mira yang merupakan seorang wanita metropolitan enggan untuk melakukannya. Ia dibantu dengan kedua sahabatnya yaitu...
Review Film | “Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)” Hampa di Tengah Gempita
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)” Hampa di Tengah Gempita

Mereka yang tidak menghargai film Billy Lynn's Long Halftime Walk adalah mereka yang belum bisa mengapresiasi hidup secara utuh. Mereka yang masih dan rela pikirannya terjebak di dalam bola kaca berisi kebahagiaan selebrasi domestik instan. Ketika mereka masih ngotot bahwa "pahlawan" seharusnya menjadi apresiasi sepanjang masa (lifetime), tetapi justru melakukan pembiaran dan menganggap layaknya angin lalu ketika faktanya para pahlawan ini masih ditampilkan sekadar sebagai pelengkap komoditas pertunjukan. Tidak lebih.  Kegetiran ini benar-benar nyata adanya. Ang Lee memahami betul esensi tamparannya, itulah mengapa film ini bisa terlahir dan sangat dia. Itulah mengapa film ini diberikan perlakuan spesial. Walaupun kalau ditarik di akhir, film ini memiliki fase yang sangat lambat dan s...
Review Film Indonesia | “Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016)” Kesadaran Kita Sebagai Indonesia
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016)” Kesadaran Kita Sebagai Indonesia

Ada terlalu banyak kebetulan di film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara. Sedikit kebetulan itu menyenangkan, sedang kebanyakan justru bikin komplikasi. Prolog jadi goyah. Meski begitu, setelah mencoba mengendapkan sekian waktu, saya disadarkan bahwa pilihan-pilihan itu memang disengaja. Penonton diajak mengikuti Aisyah, perempuan berjilbab yang menunggu panggilan kerja sebagai guru dari sebuah yayasan. Dia berada di posisi belum pasti tentang kapan jadwal pengangkatannya. Sampai selisih waktu singkat, datang telepon yang mengatakan dia bisa segera menjadi guru kalau mau ditempatkan di Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara sebab ada kandidat yang mengundurkan diri. Tanpa punya tendensi macam-macam di awal, dia menerimanya--keputusan mendadak yang justru membuat kaget orang-orang terdekat. Sa...
Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan

Banyak film perang yang disebut-sebut dalam daftar terbaik tidak menggunakan perang sebagai ceruk eksploitasi, justru keteguhanlah yang pada akhirnya membuat penonton rela memujinya habis-habisan. Begitu pula dengan Hacksaw Ridge. Ini adalah film perang realistis terbaik, paling tidak semenjak warisan tak terbantahkan dari Saving Private Ryan. Hacksaw Ridge berkisah tentang kisah nyata seorang prajurit Amerika di masa Perang Dunia II bernama Desmond Doss. Ayahnya adalah mantan prajurit AS pada Perang Dunia I dengan daerah operasi di Perancis. Karena ingatan yang terlalu pahit tentang situasi perang--di mana tiga teman dekatnya tewas--dia menjadi sosok ayah dan suami yang temperamental. Suatu ketika, Doss menemui titik baliknya, titik ketika dia memutuskan bahwa seumur hidup dia tidak aka...
Review Film | “Trolls (2016)” Kado Kanak-Kanak
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Trolls (2016)” Kado Kanak-Kanak

Bisa dibilang Trolls mulai mengiming-imingi penonton dengan merilis videoklip “Can’t Stop the Feeling” yang digadang menjadi soundtrack utama. Berbekal tawaran pengisi suara yang rata-rata merupakan aktor-penyanyi papan atas serta lagu-lagu yang diproduseri sendiri oleh Justin Timberlake, Trolls akhirnya rilis. Namun tawaran tersebut tidak menjanjikan lebih dari segi kompleksitas cerita maupun template animasi yang diberikan. Nyatanya, cerita yang terlalu sederhana membuat film ini terlalu santai untuk diseriusi. Film ini bercerita mengenai sekelompok trolls yang dibawa musuh untuk dijadikan santapan, Poppy (Anna Kendrick), calon ratu yang juga merupakan trolls paling bahagia, memutuskan untuk menyelamatkan mereka. Berbekal pikiran yang sangat positif dan rasa bahagia di dalam dir...
Review Film | “Doctor Strange (2016)” Paling Strange dari Marvel
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Doctor Strange (2016)” Paling Strange dari Marvel

Benedict Cumberbatch patut bersyukur sebab sejauh ini dia selalu memperoleh peran yang bikin iri. Labelnya pun tidak pernah jauh-jauh dari sosok cerdas secara intelektual. Di Doctor Strange, kita kembali dihadapkan pada sosok yang “Benedict Cumberbatch” banget, seolah-olah karakter ini sudah ditakdirkan untuknya sejak lama. Dalam kemasan lengkap, selain karena faktor aktor utama, film ini sukses memberikan suguhan mewah secara audio-visual. Meskipun, kredibilitas tokoh pendukung serta kontinuitas gagasan menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan. Doctor Stephen Strange adalah karakter pahlawan super baru di jagat Marvel Cinematic Universe (MCU). Dia adalah seorang dokter yang jenius dan egosentris. Hingga suatu waktu, Strange mengalami kecelakaan fatal yang membuat fisiknya tidak bis...
Catatan Serial | “Westworld Season 1” Jangan Mau Ikut Konsensus, Serial TV Sudah Tidak Sederhana
#Home, #Serial, Rating 9.5

Catatan Serial | “Westworld Season 1” Jangan Mau Ikut Konsensus, Serial TV Sudah Tidak Sederhana

Paling tidak belajar dari 2016 ini, saya akhirnya berhasil diyakinkan bahwa kita berada di era di mana layar lebar sungguh harus head to head dengan layar kaca. Bukan lagi di perkara gaet-menggaet penonton, tetapi di urusan tingginya kualitas penceritaan yang disajikan. Tentu kita tidak bisa menggunakan paradigma industri hiburan di Indonesia sebagai tolok ukur. Di mana sampai sejauh ini masih banyak praktisi dan tukang generalisasi yang dengan tanpa ragu menyebut kalau kualitas televisi tidak boleh terlalu pintar. Di Hollywood saat ini, posisi kedua bentuk hantaran hiburan tersebut sama-sama prestisius. Namun, percaya atau tidak, fenomena “setara” ini pun sebenarnya masih menjadi gonjang-ganjing tersendiri di antara para pelaku yang terlibat di dalam industrinya—Hollywood. Banya...
9 Fakta Penting Mengapa ACdS adalah Suksesor AAdC buat Generasi Internet!
#Film, #Home

9 Fakta Penting Mengapa ACdS adalah Suksesor AAdC buat Generasi Internet!

Kalian sudah menonton film remaja terbaru yang berjudul Ada Cinta di SMA (ACdS)? Atau kalian sudah membaca review kami yang sangat positif tentang film ini? Kalau belum, satu-satunya saran adalah: you should! Dalam review yang telah diunggah sebelumnya, sudah sedikit disinggung bahwa ACdS tampil layaknya Ada Apa dengan Cinta (AAdC) reborn untuk generasi saat ini. Generasi internet. Tidak hanya karena ada banyak hal yang relatable dengan eranya; tetapi juga karena secara formula, kedua film ini sama-sama berlatar SMA dan memiliki elemen yang semacam pinang dibelah dua. Tentu saja momen-momen itu sudah dibuat sedemikian rupa supaya sesuai dengan zamannya. Dengan begini, ACdS dan AAdC adalah dua film yang sama-sama berhasil mengangkat kisah remaja secara utuh. Bukan yang dibuat-bu...