Saturday, May 9

#Home

Review Film Indonesia | “Ada Cinta di SMA (2016)” Lebih dari Relatable
#Film, #Home, Rating 9

Review Film Indonesia | “Ada Cinta di SMA (2016)” Lebih dari Relatable

Ada Cinta di SMA (ACdS) menjadi karya sinema yang berhasil memenuhi verdict sebagai film bagus. Film remaja ini mampu memotret eranya; menyajikan performa musikal yang kontekstual; mempersembahkan drama remaja multi-layer dengan para karakter yang cukup menyimpan kedalaman; dan mampu membuat penonton milenial senyum-senyum sendiri menyadari bahwa ada cukup banyak relatable moments. Bagi kamu yang belum menonton, mungkin akan langsung berkernyit sambil berguman, “Ah, klise,” kalau cuma membaca sinopsisnya. Film ini berkisah tentang Kiki yang nyaris mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua Osis. Sekolah otomatis bakal melakukan penjaringan ketua baru. Kalau sebelum-sebelumnya para calon diusulkan oleh pengurus Osis yang terakhir menjabat, tahun ini mekanismenya adalah terbuka bagi para s...
Catatan Ajang Penghargaan | Tayang atau Belum Tayang? Mentahnya Kebijakan Nomine FFI 2016
#Film, #Home, Awards

Catatan Ajang Penghargaan | Tayang atau Belum Tayang? Mentahnya Kebijakan Nomine FFI 2016

Setiap ajang penghargaan selalu tidak luput dari kritik yang bergaung di sekelilingnya. Festival Film Indonesia adalah salah satu yang jadi langganan kritik. Dari pengamatan saya, kritik publik atas nomine yang dirilis oleh FFI 2016 kembali didominasi oleh pertanyaan, "Filmnya belum tayang kok sudah masuk daftar nomine?" Selain itu tetap ada beberapa pertanyaan tentang nama-nama yang gagal memperoleh rekognisi. Sebelum masuk ke daftar, saya akan sedikit membagikan perspektif tentang polemik ini. Untuk kritik “filmnya belum tayang”, sebenarnya ada beberapa aspek yang mesti dilihat. Belajar dari ajang penghargaan di Hollywood, terutama Oscars dan Golden Globes, sebenarnya secara "umum" nominenya juga sering asing ketika daftar dirilis. Namun, kedua ajang penghargaan tersebut memasukkan...
Review Film | “The Accountant (2016)” Tinjau Ulang Autis
#Film, #Home, Rating 7.5

Review Film | “The Accountant (2016)” Tinjau Ulang Autis

Mari jujur-jujuran di sini: The Accountant tidak akan memuaskanmu kalau yang dicari adalah kehidupan komprehensif tentang sosok akuntan yang membosankan itu. Namun, supaya tidak mengkhianati bawaannya—membosankan—film ini menyubtitusi dengan tetap berjalan pelan-pelan dan cenderung lambat. Perjalanan yang bisa berujung pada bongkar muat dilema: terkantuk-kantuk atau terkagum-kagum. Untungnya The Accountant menyusun fondasinya dengan sudut pandang menarik: tinjau ulang autis. Kita akan mengikuti perjalanan seorang Chris Wolff. Dia adalah sosok yang didiagnosis mengidap autisme sejak kecil, kehidupan masa kecilnya penuh masalah. Kedua orangtuanya berbeda pandangan tentang perlakuan yang mesti diberikan. Sang ayah percaya bahwa autis bukanlah suatu hal yang buruk, hanya saja masyarakat kita...
Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal

Penonton Indonesia kembali disadarkan tentang banyaknya "pahlawan" yang sesungguhnya tersebar di sekitar melalui medium Wonderful Life. Nyawa film ini sangatlah personal. Mengangkat disleksia sebagai premis, rasanya Agus Makkie adalah satu dari sedikit pencerita level layar lebar yang berhasil berbicara cukup komprehensif tentang kondisi ini. Wonderful Life adalah adaptasi dari buku berjudul sama hasil tulisan Amalia Prabowo. Kisahnya berpusat pada dua tokoh utama: Amalia—sang ibu—dan Aqil—anaknya. Di pengelihatan orang awam, mungkin kondisi mereka berdua sudah nampak berkecukupan—orang tua Lia yang berada dan pekerjaan Lia sebagai CEO di agensi iklan multi-nasional. Namun, berkecukupan secara finansial saja tidak cukup, nyatanya ada cukup banyak konflik emosional yang mesti ditanggu...
Review Film | “Me and Earl and the Dying Girl (2015)” Ringan dan Matang
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Me and Earl and the Dying Girl (2015)” Ringan dan Matang

Me and Earl and the Dying Girl  // 2015 // Sutradara : Alfonso Gomez-Rejon (Amerika) // Pemain : Thomas Mann, Olivia Cooke, RJ Cyler, Katherine Hughes, Connie Britton Menonton Me and Earl and The Dying Girl sama seperti kutipan yang muncul di awal ceritanya: it was the best of times; it was the worst of times. Berulang kali kita dibuat sedih dan tertawa olehnya. Dan yang terbaik adalah kita sudah melewatinya hingga akhir. Sulit untuk melabeli film ini ke dalam satu genre. Apakah ini film komedi romantis? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Film ini tidak menyuratkan kisah-kasih, melainkan dua muda-mudi yang berteman dan saling terhubung satu sama lain. Namun, pertemanan mereka sangat manis sampai-sampai membuatmu berasa seperti melihat orang yang sedang pacaran. Ini laiknya visualisasi aku...
Review Film | “Deepwater Horizon (2016)” Mereka Kejadian Pemacu Adrenalin
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Deepwater Horizon (2016)” Mereka Kejadian Pemacu Adrenalin

Di kehidupan materialistis, pundi-pundi besar yang dikantongi pasti berbanding lurus dengan risiko yang mesti dihadapi. Sama halnya dengan fenomena banyak orang yang berbondong-bondong ingin masuk ke berbagai jurusan teknik di perguruan tinggi karena faktor pendapatan. Satu hal yang perlu diingat, belajarlah dari kejadian Deepwater Horizon. Di kondisi seaman apa pun, intaian insiden tetaplah eksis. Film ini berkisah tentang kegiatan para pekerja kilang minyak lepas pantai yang bernama resmi Deepwater Horizon. Deepwater Horizon memperoleh penghargaan di bidang keselamatan kerja selama tujuh tahun berturut-turut. Kondisi ini sangat membanggakan. Hingga suatu waktu dengan jeda teramat singkat, terjadi insiden meledaknya bor kilang minyak karena keteledoran. Insiden terburuk sepanjang seja...
Catatan Serial | “The People v. OJ Simpson: American Crime Story Season 1” Yakin dengan Asumsimu?
#Home, #Serial, Rating 10

Catatan Serial | “The People v. OJ Simpson: American Crime Story Season 1” Yakin dengan Asumsimu?

Melanjutkan rangkaian catatan menuju verdict akhir tahun 2016, lagi-lagi Hollywood memulai tren. Menginisiasi penceritaan yang mengesampingkan ego dan akhirnya menaikkan kasta sajian televisi ke level yang terlampau tinggi. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa bercerita bukanlah tentang prestise medium yang dipilih. Namun harus berpegangan pada aspek: apakah ini butuh penjelasan panjang atau cukup dengan pemadatan? The People v. OJ Simpson: American Crime Story berhasil menikam penontonnya--termasuk saya--sangat dalam. Singkirkan dulu prasangka siapa yang benar siapa yang salah. Ini adalah serial yang mampu menyiksa saya secara perlahan-lahan. Bayangkan, bahkan di momen penjelang pamungkas season finale-nya, penonton tidak dibiarkan berlega barang sejenak. Dugaan saya, dengan sisa ku...
Catatan Serial | “This is Us Season 1” dan Episode Pilot Terbaik
#Home, #Serial, Rating 9.5

Catatan Serial | “This is Us Season 1” dan Episode Pilot Terbaik

“This is real. This is love. This is life.” Saya sengaja mengambil jeda cukup lama untuk menuliskan refleksi pendek ini--kira-kira dua pekan. Kalau tidak begitu, pembuka semacam ini tidak bisa digulirkan. September baru saja berakhir, dalam jagat serial TV ini juga menandai bangkitnya musim baru bagi banyak judul serial--fall season. Entah itu judul lama yang lega karena berhasil memperoleh perpanjangan nyawa dari network yang menaunginya, maupun judul baru yang harus siap menghadapi pertarungan sengit dalam menggaet pangsa penonton. Pertanyaan sederhana yang bisa dilempar dan selalu relevan tiap tahun: siapa yang memiliki pilot--episode pertama--tersolid? Apakah Narcos musim kedua? Apakah American Horror Story musim keenam? Apakah Empire musim ketiga? Apakah Gotham musim ketiga? Apak...
Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya

Ada selentingan umum berbunyi begini: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre komedi. Tidak sepenuhnya salah, dan pada banyak kasus memang terjadi demikian. Namun di Indonesia, kasusnya lain: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre biografi. Athirah masuk ke segolongan “elite” film biografi yang berhasil. Film ini bisa mengontrol egonya sehingga mampu mengail empati tanpa harus mengemis-ngemis. Film ini berkisah tetang kehidupan rumah tangga seorang Athirah. Mengambil latar tahun 50-an hingga 60-an di Bone dan Makassar, keluarganya harus mengalami sandungan. Sang suami main mata dan selingkuh dengan wanita lain. Di guliran durasi selanjutnya, film ini menampakkan usaha dan goncangan batin yang dilalui Athirah--serta anak-anaknya terutama Ucu--untuk menyelamatkan biduk ru...