Tag: #Review Film

Review Film | “Trolls (2016)” Kado Kanak-Kanak
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Trolls (2016)” Kado Kanak-Kanak

Bisa dibilang Trolls mulai mengiming-imingi penonton dengan merilis videoklip “Can’t Stop the Feeling” yang digadang menjadi soundtrack utama. Berbekal tawaran pengisi suara yang rata-rata merupakan aktor-penyanyi papan atas serta lagu-lagu yang diproduseri sendiri oleh Justin Timberlake, Trolls akhirnya rilis. Namun tawaran tersebut tidak menjanjikan lebih dari segi kompleksitas cerita maupun template animasi yang diberikan. Nyatanya, cerita yang terlalu sederhana membuat film ini terlalu santai untuk diseriusi. Film ini bercerita mengenai sekelompok trolls yang dibawa musuh untuk dijadikan santapan, Poppy (Anna Kendrick), calon ratu yang juga merupakan trolls paling bahagia, memutuskan untuk menyelamatkan mereka. Berbekal pikiran yang sangat positif dan rasa bahagia di dalam dir...
Review Film | “Doctor Strange (2016)” Paling Strange dari Marvel
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Doctor Strange (2016)” Paling Strange dari Marvel

Benedict Cumberbatch patut bersyukur sebab sejauh ini dia selalu memperoleh peran yang bikin iri. Labelnya pun tidak pernah jauh-jauh dari sosok cerdas secara intelektual. Di Doctor Strange, kita kembali dihadapkan pada sosok yang “Benedict Cumberbatch” banget, seolah-olah karakter ini sudah ditakdirkan untuknya sejak lama. Dalam kemasan lengkap, selain karena faktor aktor utama, film ini sukses memberikan suguhan mewah secara audio-visual. Meskipun, kredibilitas tokoh pendukung serta kontinuitas gagasan menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan. Doctor Stephen Strange adalah karakter pahlawan super baru di jagat Marvel Cinematic Universe (MCU). Dia adalah seorang dokter yang jenius dan egosentris. Hingga suatu waktu, Strange mengalami kecelakaan fatal yang membuat fisiknya tidak bis...
9 Fakta Penting Mengapa ACdS adalah Suksesor AAdC buat Generasi Internet!
#Film, #Home

9 Fakta Penting Mengapa ACdS adalah Suksesor AAdC buat Generasi Internet!

Kalian sudah menonton film remaja terbaru yang berjudul Ada Cinta di SMA (ACdS)? Atau kalian sudah membaca review kami yang sangat positif tentang film ini? Kalau belum, satu-satunya saran adalah: you should! Dalam review yang telah diunggah sebelumnya, sudah sedikit disinggung bahwa ACdS tampil layaknya Ada Apa dengan Cinta (AAdC) reborn untuk generasi saat ini. Generasi internet. Tidak hanya karena ada banyak hal yang relatable dengan eranya; tetapi juga karena secara formula, kedua film ini sama-sama berlatar SMA dan memiliki elemen yang semacam pinang dibelah dua. Tentu saja momen-momen itu sudah dibuat sedemikian rupa supaya sesuai dengan zamannya. Dengan begini, ACdS dan AAdC adalah dua film yang sama-sama berhasil mengangkat kisah remaja secara utuh. Bukan yang dibuat-bu...
Review Film Indonesia | “Ada Cinta di SMA (2016)” Lebih dari Relatable
#Film, #Home, Rating 9

Review Film Indonesia | “Ada Cinta di SMA (2016)” Lebih dari Relatable

Ada Cinta di SMA (ACdS) menjadi karya sinema yang berhasil memenuhi verdict sebagai film bagus. Film remaja ini mampu memotret eranya; menyajikan performa musikal yang kontekstual; mempersembahkan drama remaja multi-layer dengan para karakter yang cukup menyimpan kedalaman; dan mampu membuat penonton milenial senyum-senyum sendiri menyadari bahwa ada cukup banyak relatable moments. Bagi kamu yang belum menonton, mungkin akan langsung berkernyit sambil berguman, “Ah, klise,” kalau cuma membaca sinopsisnya. Film ini berkisah tentang Kiki yang nyaris mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua Osis. Sekolah otomatis bakal melakukan penjaringan ketua baru. Kalau sebelum-sebelumnya para calon diusulkan oleh pengurus Osis yang terakhir menjabat, tahun ini mekanismenya adalah terbuka bagi para s...
Review Film | “The Accountant (2016)” Tinjau Ulang Autis
#Film, #Home, Rating 7.5

Review Film | “The Accountant (2016)” Tinjau Ulang Autis

Mari jujur-jujuran di sini: The Accountant tidak akan memuaskanmu kalau yang dicari adalah kehidupan komprehensif tentang sosok akuntan yang membosankan itu. Namun, supaya tidak mengkhianati bawaannya—membosankan—film ini menyubtitusi dengan tetap berjalan pelan-pelan dan cenderung lambat. Perjalanan yang bisa berujung pada bongkar muat dilema: terkantuk-kantuk atau terkagum-kagum. Untungnya The Accountant menyusun fondasinya dengan sudut pandang menarik: tinjau ulang autis. Kita akan mengikuti perjalanan seorang Chris Wolff. Dia adalah sosok yang didiagnosis mengidap autisme sejak kecil, kehidupan masa kecilnya penuh masalah. Kedua orangtuanya berbeda pandangan tentang perlakuan yang mesti diberikan. Sang ayah percaya bahwa autis bukanlah suatu hal yang buruk, hanya saja masyarakat kita...
Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Wonderful Life (2016)” Personal

Penonton Indonesia kembali disadarkan tentang banyaknya "pahlawan" yang sesungguhnya tersebar di sekitar melalui medium Wonderful Life. Nyawa film ini sangatlah personal. Mengangkat disleksia sebagai premis, rasanya Agus Makkie adalah satu dari sedikit pencerita level layar lebar yang berhasil berbicara cukup komprehensif tentang kondisi ini. Wonderful Life adalah adaptasi dari buku berjudul sama hasil tulisan Amalia Prabowo. Kisahnya berpusat pada dua tokoh utama: Amalia—sang ibu—dan Aqil—anaknya. Di pengelihatan orang awam, mungkin kondisi mereka berdua sudah nampak berkecukupan—orang tua Lia yang berada dan pekerjaan Lia sebagai CEO di agensi iklan multi-nasional. Namun, berkecukupan secara finansial saja tidak cukup, nyatanya ada cukup banyak konflik emosional yang mesti ditanggu...
Review Film | “Me and Earl and the Dying Girl (2015)” Ringan dan Matang
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Me and Earl and the Dying Girl (2015)” Ringan dan Matang

Me and Earl and the Dying Girl  // 2015 // Sutradara : Alfonso Gomez-Rejon (Amerika) // Pemain : Thomas Mann, Olivia Cooke, RJ Cyler, Katherine Hughes, Connie Britton Menonton Me and Earl and The Dying Girl sama seperti kutipan yang muncul di awal ceritanya: it was the best of times; it was the worst of times. Berulang kali kita dibuat sedih dan tertawa olehnya. Dan yang terbaik adalah kita sudah melewatinya hingga akhir. Sulit untuk melabeli film ini ke dalam satu genre. Apakah ini film komedi romantis? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Film ini tidak menyuratkan kisah-kasih, melainkan dua muda-mudi yang berteman dan saling terhubung satu sama lain. Namun, pertemanan mereka sangat manis sampai-sampai membuatmu berasa seperti melihat orang yang sedang pacaran. Ini laiknya visualisasi aku...
Review Film | “Deepwater Horizon (2016)” Mereka Kejadian Pemacu Adrenalin
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Deepwater Horizon (2016)” Mereka Kejadian Pemacu Adrenalin

Di kehidupan materialistis, pundi-pundi besar yang dikantongi pasti berbanding lurus dengan risiko yang mesti dihadapi. Sama halnya dengan fenomena banyak orang yang berbondong-bondong ingin masuk ke berbagai jurusan teknik di perguruan tinggi karena faktor pendapatan. Satu hal yang perlu diingat, belajarlah dari kejadian Deepwater Horizon. Di kondisi seaman apa pun, intaian insiden tetaplah eksis. Film ini berkisah tentang kegiatan para pekerja kilang minyak lepas pantai yang bernama resmi Deepwater Horizon. Deepwater Horizon memperoleh penghargaan di bidang keselamatan kerja selama tujuh tahun berturut-turut. Kondisi ini sangat membanggakan. Hingga suatu waktu dengan jeda teramat singkat, terjadi insiden meledaknya bor kilang minyak karena keteledoran. Insiden terburuk sepanjang seja...
Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Athirah (2016)” Cantik dalam Heningnya

Ada selentingan umum berbunyi begini: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre komedi. Tidak sepenuhnya salah, dan pada banyak kasus memang terjadi demikian. Namun di Indonesia, kasusnya lain: film paling sulit dibikin adalah yang bergenre biografi. Athirah masuk ke segolongan “elite” film biografi yang berhasil. Film ini bisa mengontrol egonya sehingga mampu mengail empati tanpa harus mengemis-ngemis. Film ini berkisah tetang kehidupan rumah tangga seorang Athirah. Mengambil latar tahun 50-an hingga 60-an di Bone dan Makassar, keluarganya harus mengalami sandungan. Sang suami main mata dan selingkuh dengan wanita lain. Di guliran durasi selanjutnya, film ini menampakkan usaha dan goncangan batin yang dilalui Athirah--serta anak-anaknya terutama Ucu--untuk menyelamatkan biduk ru...