#Home

Review Film Indonesia | “Satu Hari Nanti (2017)” Hati-Hati Gagal Menarik Hati
#Film, #Home, Rating 7

Review Film Indonesia | “Satu Hari Nanti (2017)” Hati-Hati Gagal Menarik Hati

Sebelum empat karakter utama dalam Satu Hari Nanti akhirnya menemukan “jaraknya” masing-masing, film ini telah lebih dulu membuat penontonnya berjarak. Film arahan Salman Aristo kali ini berseting di Swiss. Bergulat di dua pasang kekasih, artinya ada empat orang yang dilibatkan secara intens. Alya, Bima, Cho, dan Din. Saling mencari pelarian atas kisah asmara dan gejolak internal keluarga menjadi tulang punggungnya. Seiring berjalannya durasi, nyatanya bukan pundaklah yang dicari oleh mereka. Kesan pertama setelah menonton film ini bagi saya pribadi adalah capek, penuh. Penuh yang bukan di artian positif. Bukan penuh karena memperoleh guyuran insights. Ada dua hal yang menyumbang perasaan ini: durasinya dan buramnya arah narasi. Sejak permulaan, kita sebagai penonton sudah dijeja...
Catatan Serial | “The Punisher Season 1” Layer Terkompleks dan Paling Bernyali dari Marvel
#Home, #Serial, Rating 10

Catatan Serial | “The Punisher Season 1” Layer Terkompleks dan Paling Bernyali dari Marvel

The Punisher Season 1 telah dirilis. Tulisan ini ultra-spoiler, disarankan tonton dulu baru baca. Karakter The Punisher di jagat Marvel Cinematic Universe pertama kali muncul di serial Daredevil (kolaborasi Marvel dan Netflix). Sejak itu pula, banyak penonton yang merengek supaya karakter ini dibuatkan series solo. Tentu saja permintaan itu salah satunya didasari oleh resepsi penampilan Jon Bernthal yang apik membawakan sosok Frank Castle--yakinlah bahwa sejak jauh-jauh hari, tanpa diminta pun, Marvel akan mewujudkannya karena faktor keuntungan finansial. Meski saya ikut mengamini kualitas akting yang disuguhkan Jon, jujur saja pengumuman akan adanya series The Punisher tidak terlalu membuat saya antusias. Dalam benak saya dulu, karakter ini telah beberapa kali diangkat ke model...
Review Film Indonesia | “Naura dan Genk Juara (2017)” Boleh Juga
#Film, #Home, Rating 6

Review Film Indonesia | “Naura dan Genk Juara (2017)” Boleh Juga

Spoiler Alert untuk review Naura dan Genk Juara ini! Naura dan Genk Juara bercerita tentang petualangan Naura, Okky, Bimo, dan Kipli di sebuah perkemahan. Sebagai sebuah film musikal anak, film ini berbekal lagu-lagu enerjik (sudah bisa diakses di Spotify bahkan seminggu sebelum filmnya tayang) dan koreografi yang asik. Dari trailer film, diceritakan bahwa Naura, Okky, dan Bimo berangkat ke kompetisi sains regional di Kemah Kreatif sebagai perwakilan SD Angkasa. Tiga orang yang tidak terlalu akur ini berkenalan dengan Kipli, anak kecil yang tinggal dan bekerja sebagai pemelihara satwa di Kemah Kreatif. Lalu Naura, Bimo, dan Kipli bekerjasama menghadapi komplotan pencuri satwa liar yang menculik Okky. Jadi bagus banget nih? Untuk anak dan orang tua, iya. Film Naura dan Genk Juara ...
Review Film Indonesia | “Hujan Bulan Juni (2017)” Hampir Seperti FTV Hlo, Mas
#Film, #Home, Rating 7

Review Film Indonesia | “Hujan Bulan Juni (2017)” Hampir Seperti FTV Hlo, Mas

Film Hujan Bulan Juni diangkat dari novel berjudul sama yang saya belum baca. Jadi ulasan berikut akan murni sebagai ulasan film. Film ini menceritakan tentang perjalanan mempertahankan hubungan asmara antara Pingkan Dondokambey (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Puitis? Oh tentu saja. Ibarat DNA yang bawaan dari Ayah Ibu, karakter puitis dalam film ini adalah bawaan dari novel. Lebih dari karakter, kekuatan utama Hujan Bulan Juni justru ada pada puisinya. Kekuatan lain dari film ini ada pada latar belakang tokoh utama. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda seperti cerita kebanyakan. Pingkan adalah pengajar di jurusan Sastra Jepang, sementara Sarwono adalah staff peneliti jurusan Antropologi. Ekosistem tempat menjalin kasih terasa dekat dengan penonton: kam...
Review Manga | “Piano no Mori (ピアノの森 1998)” Perjalanan Musik yang Magis
#Home, Buku

Review Manga | “Piano no Mori (ピアノの森 1998)” Perjalanan Musik yang Magis

Piano no Mori atau Piano Hutan adalah manga karya Makoto Isshiki yang bergenre drama dan secara spesifik berporos di dunia musik klasik. Awal menemukan manga ini, saya tertarik karena artwork dan plotnya terbilang sederhana; tetapi saya kemudian menemukan diri saya tak bisa berhenti membacanya, dan sedikit demi sedikit saya semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh di dalamnya. Rasanya seperti saya mencicipi jenis makanan baru yang belum pernah saya coba sebelumnya dan semakin ingin memakannya setelah mencicipi rasa yang tidak familiar tersebut. Saya bilang tidak familiar karena sebenarnya, ini pertama kalinya saya tertarik dengan manga yang isinya bercerita tentang musik, terlebih musik klasik. Cerita dimulai ketika seorang anak bernama Amamiya Shuuhei dan keluar...
Review Film Indonesia | “My Generation (2017)” Pendar Retro-Neon
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “My Generation (2017)” Pendar Retro-Neon

Kekhawatiran. Pengakuan. Kebebasan. Hal paling menantang di dunia: berusaha kontinu menangkap era ketika kita sudah bukan lagi pemain utamanya. Siapa pun terdampak oleh hal tersebut asalkan memenuhi syarat utama: beda generasi. Perbedaan itu pula yang membuat banyak orang lupa konteks ketika seenaknya mengomentari kebiasaan anak muda yang berbeda dengan eranya. My Generation garapan Upi membaca celah itu di konteks kekinian secara presisi. Rentang waktu yang diambil oleh My Generation adalah ketika libur sekolah. Empat siswa sekolah yang kebetulan se-genk: Zeke, Konji, Suki, Orly; dihukum batal liburan karena membuat video online yang kontennya mengkritisi sekolah dan keluarga mereka. Merasa keadaan tidak adil, mereka menjalani sisa liburan dengan caranya sendiri. Namanya juga liburan,...
Review Film Indonesia | “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)” Perjalanan Sekali Tebas
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)” Perjalanan Sekali Tebas

Perempuan, janda, kriminal. Dalam objektifikasi posisi kuasa patriarkal, Marlina secara mudah masuk ke golongan triple minority. Bermula dari kesadaran ini, Mouly Surya tidak mau tunduk semudah itu. Dia menggulingkan berbagai anggapan konvensional dengan hanya bersenjatakan seni "kepepet". Kisah Marlina diperlakukan sebagai rangkaian empat babak. Semuanya dimulai ketika kelompok Markus (tujuh orang) berusaha merampok sisa harta keluarga Marlina setelah suaminya meninggal. “Semua” yang dimaksud termasuk si Marlina. Kondisi sedemikian mengancam membuat Marlina putar otak: bagaimana caranya meloloskan diri. Dia akhirnya berhasil meracun empat di antaranya, memenggal si gembong, dan dua sisanya batal mati karena ditugasi membawa ternak rampasan pergi. Perjalanan belum berakhir, justru baru...
Review Film Indonesia | “Posesif (2017)” Menyitir Lingkaran Setan
#Film, #Home, Rating 9

Review Film Indonesia | “Posesif (2017)” Menyitir Lingkaran Setan

Domestic abuse bukanlah topik baru di kajian sosial maupun gelanggang sinema global. Meski begitu, penyadaran atas “kesalahan” perlakuan kasar ini sukar dilakukan, utamanya di Indonesia. Entah selama ini masyarakat kita menjadikannya sebagai suatu kenormalan, ataukah memang hal tersebut masih terkungkung di ranah tabu. Film Posesif menyadarkan kita akan hal ini. Alih-alih membidik generasi tua yang kiranya bakal sia-sia kalau “dikasih tahu”, muda-mudilah yang akhirnya dibidik. Mumpung belum telat, mumpung belum kolot. Film terbaru arahan Edwin ini berputar di kehidupan dua orang yang saling bermadu kasih: Lala dan Yudhis. Dinamika relasi keduanya layaknya penjajal roller-coaster: dimulai dengan hangat ruam-ruam kuku, lalu mendaki layaknya pompaan hormon pertumbuhan masing-masing, hilang ...
Review Film Indonesia | “Pengabdi Setan (2017)” Akselerasi
#Film, #Home, Rating 9

Review Film Indonesia | “Pengabdi Setan (2017)” Akselerasi

Tidak hanya berhasil membuat standar film horor buatan Indonesia naik kelas, bahkan akselerasi; remake Pengabdi Setan garapan Joko Anwar sukses menjadi sajian yang koheren dan dan tidak repetitif. Narasi film ini berkutat pada periode singkat: pra-ibu meregang nyawa hingga seketika pasca kepergiannya. Ibu yang mantan penyanyi kondang terpuruk di atas ranjang tidurnya: tidak lagi punya materi--royalti pun sudah kandas--dan tubuhnya dihabisi "penyakit" misterius. Selang sebentar, Ibu sudah tidak mampu menopang derita, dia tiada tapi tidak sirna. Keluarga yang ditinggalkannya terjebak dalam pusaran teror supranatural. Mereka harus merana dampak perjudian si Ibu dengan sekte pemuja iblis. Selayang pandang, dalam kamus saya, ada dua genre film yang susah lepas dari penilaian super-subjekt...