Saturday, May 9

#Home

Review Film Indonesia | “Critical Eleven (2017)” Dominasi Ale dan Anya
#Film, #Home, Rating 7.5

Review Film Indonesia | “Critical Eleven (2017)” Dominasi Ale dan Anya

Critical Eleven (2017) di Ngepop tersedia dalam dua review terpisah: dari sudut pandang yang sudah membaca novelnya dan dari sudut pandang yang belum membaca novelnya. Tulisan ini adalah versi pembaca novelnya. Ada tiga hal yang menyelamatkan Critical Eleven sebagai sebuah film: chemistry tak terbantahkan antara Reza dan Adinia, tata visual yang mapan, dan pendekatan adaptasi novelnya ke film yang bijak. Tanpa ketiganya, film ini bakal lebih terseok-seok dalam menangani elemen plot pun juntaian karakter-karakternya. Critical Eleven berkisah tentang dua orang, Anya dan Ale, yang tidak sengaja dipertemukan oleh Yang Mahakuasa di sebuah penerbangan pesawat. Interaksi keduanya mendadak lumer setelah Anya mengalami "insiden kecil" gara-gara panik mencari salah satu barang bawaannya. ...
Review Film Indonesia | “Critical Eleven (2017)” Dari Mata yang Tidak Membaca Novelnya
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Critical Eleven (2017)” Dari Mata yang Tidak Membaca Novelnya

Critical Eleven (2017) di Ngepop tersedia dalam dua review terpisah: dari sudut pandang yang sudah membaca novelnya dan dari sudut pandang yang belum membaca novelnya. Tulisan ini adalah versi bukan pembaca novelnya. Critical Eleven menceritakan tentang pernikahan Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) yang dipertemukan semesta di pesawat. Kemudian secara aneh mereka menemukan kecocokan saat bersama-sama. Kejadian berikutnya, mereka: berpacaran, menikah, lalu memutuskan tinggal di New York, Amerika Serikat. Keduanya menuruti konsekuensi pekerjaan Ale yang bekerja di rig di benua itu. Selanjutnya, seperti yang ada di trailer: bayi Aidan di dalam kandungan Anya meninggal, lalu Ale dan Anya berhenti berkomunikasi. Sepertinya efek berhenti berkomunikasi inilah yang menjadi benang...
Catatan Serial | “13 Reasons Why Season 1” Menyadarkan dan Menunjukkan Kesalahan secara Frontal
#Home, #Serial, Rating 10

Catatan Serial | “13 Reasons Why Season 1” Menyadarkan dan Menunjukkan Kesalahan secara Frontal

Tulisan ini dibuat tepat satu bulan semenjak 13 Reasons Why untuk pertama kalinya dirilis oleh Netflix. Ada dua alasan mengapa saya mengambil jeda cukup lama hingga akhirnya menghasilkan catatan ini. Alasan pertama: memberikan ruang dan waktu yang cukup buat orang lain yang belum menontonnya--terutama karena ada dua tipe pengonsumsi yaitu yang binge-watching dan yang sekali waktu satu-dua episode (tidak sekaligus). Alasan kedua: bahasan sepenting gagasan 13 Reasons Why butuh situasi yang kondusif untuk membicarakannya, saya sengaja menunggu hingga hype-nya sedikit reda. Dampak dari alasan kedua itu lumayan menarik. Saya bisa lebih dulu mengetahui resepsi singkat orang-orang pasca menamatkan musim pertama 13 Reasons Why dari timeline media sosial, saya bisa melihat perdebatan yang sudah ...
Review Film Indonesia | “Kartini (2017)” Menggambarkan R. A. Kartini dengan Sudut Pandang yang Masuk Akal
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Kartini (2017)” Menggambarkan R. A. Kartini dengan Sudut Pandang yang Masuk Akal

Mungkin penggambaran paling masuk akal tentang kepribadian dan perjuangan R. A. Kartini itu ada di dalam film Kartini yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini dimulai dari Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang dipaksa patuh pada batas antara bangsawan dan rakyat kecil. Aturan yang membuatnya berpisah dan memanggil ibunya dengan sebutan Nyi Ngasirah (Nova Eliza dan Christine Hakim). Kemudian lanjut dipingit untuk menjadi Raden Ayu, sebuah aturan yang mengharuskannya terus menerus berada di dalam rumah. Kurang apalagi? Tekanan batin yang dialami Kartini sudah cukup untuk membuatnya bertindak, kan? Kartini mencari kebebasan dengan membaca buku-buku. Dia lebih memilih membaca buku daripada belajar dandan seperti kakaknya, Soelastri (Adinia Wirasti). Dia pun mengajari Kardinah (Ayus...
Review Film | “Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)” Beban Prekuel Terlalu Berat
#Film, #Home, Rating 8

Review Film | “Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)” Beban Prekuel Terlalu Berat

Sekuel Guardians of the Galaxy memikul ekspektasi penonton yang tidak bisa dibilang ringan. Apalagi installment pertamanya memang banyak disebut sebagai salah satu film terbaik MCU. Tidak hanya karena kisahnya yang segar, Vol. 1 menjadi pembuktian bahwa Marvel memang ulung dalam hal menerjemahkan kisah dengan protagonis model keroyokan ke layar lebar. Pada Vol. 2, meski tetap menjadi sajian yang menghibur, tetapi penyajiannya tergolong kewalahan. Kali ini penonton diajak untuk mengikuti perjalanan Star-Lord dan geng Guardians of the Galaxy setelah menyandang gelar baru sebagai pahlawan. Mereka banyak menerima pekerjaan lepas untuk membasmi potensi kekacauan lintas galaksi. Reputasi mereka mendadak di ujung tanduk setelah Rocket (yang tidak mau disebut sebagai rakun) ketahuan mencuri be...
Review Film Indonesia | “Galih dan Ratna (2017)” Menyenangkan Meski Kontradiktif
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Galih dan Ratna (2017)” Menyenangkan Meski Kontradiktif

Apalah film percintaan remaja tanpa adanya perjumpaan semanis kembang gula. Lucky Kuswandi melalui hasil interpretasi modern atas Gita Cinta dari SMA berjuluk Galih & Ratna berhasil menyajikannya. Meski begitu, pergulatan batin film ini justru terletak pada kontradiksi relasi internal-eksternal narasinya. Film ini berkecimpung di kehidupan satu laki-laki bernama Galih dan seorang perempuan yang biasa dipanggil Ratna. Keduanya bertemu di SMA. Yang cukup menjadi pembeda, justru sorotan dinamika perjalanan mereka bergerak di luar sekolah. Sebabnya, keluarga Galih memiliki sebuah toko kaset tua yang oleh ibunya berusaha dijual, sedangkan Galih mati-matian mempertahankannya. Mencoba menangkap tren “hipster” era sekarang, pertemuan Galih dengan Ratna seolah melahirkan kembali popularitas...
Review Film Indonesia | “Dear Nathan (2017)” Chemistry yang Hidup
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Dear Nathan (2017)” Chemistry yang Hidup

Siapa bilang sinema Indonesia pemainnya itu-itu saja? Di film-film tipe khusus (biopik, franchise besar, dan sekelasnya) memang nama-nama yang muncul cuma serasa bongkar pasang. Namun, kalau mau lebih bijak, coba tengok film-film coming of age yang diproduksi. Di sinilah ceruk regenerasi tumbuh dan berkembang; dan agaknya di genre inilah penemuan talenta baru berbakat berada di jalur yang benar. Dear Nathan semakin meneguhkan hal itu. Pembukanya memperlihatkan Salma yang telat masuk sekolah--dan pagarnya telah dikunci--karena dia berjiwa mulia dengan menolong seorang bapak yang tuna netra menyeberang jalan terlebih dahulu. Dia telat tidak sendirian, tiba-tiba muncul Nathan, cowok SMA yang hobi ngajak ribut dan berkelahi. Waktu itu, ternyata pelipis Nathan terluka. Salma refleks mem...
Review Film | “Beauty and the Beast (2017)” Magical nan Dewasa
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Beauty and the Beast (2017)” Magical nan Dewasa

Live-action Disney tidak bisa dianggap cuma sebagai formalitas mengikuti trend, apalagi cuma disebut sebagai filler. Itu adalah penghinaan. Karya teranyarnya, live-action Beauty and the Beast sangat menampakkan kesungguhan studio berlogo kastil ini untuk memboyong realitas magical ke dunia nyata. Disney mampu merebut hati saya dengan begitu fasih. Film ini berkisah tentang seorang pangeran congkak yang dikutuk menjadi makhluk buruk rupa dan seorang gadis cantik (Belle) yang dianggap aneh di desanya karena terliterasi. Cerita berjalan progresif ketika ayah dari Belle terjebak hujan badai dan ada petir yang menumbangkan pohon besar sehingga menutupi rute pulang. Dia berinisiatif memasuki jalan baru yang terbuka--yang sebelumnya tertutupi pohon yang kemudian tumbang. Ternyata, dia justru ...
Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi

Sebuah pemuncak fase dari franchise epos yang baik adalah yang mampu memberikan ruang memadai untuk jatah tribute sekaligus potensi regenerasi. Logan memenuhi syarat itu. Film ini pun berhasil mendobrak stigma "polosan" yang selama ini lekat diasosiasikan ke judul-judul layar lebar Marvel. Film ini bercerita tentang babak terakhir yang mesti dilalui oleh Logan atau yang selama ini kita kenal dengan sebutan Wolverine. Berseting di 2029, dengan alternate universe, roda kehidupan dunia ternyata tidak semuluk-muluk bayangan di masa lalu. Para mutan kembali diburu justru untuk menciptakan friksi-friksi baru yang lebih mengerikan. Melihat kondisi ini, Logan memilih undur diri dari perjuangan X-Men dan beralih profesi menjadi pengemudi limo untuk memenuhi kebutuhan hidup. Logan tidak sendiria...