Tag: #Review Film

Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi

Sebuah pemuncak fase dari franchise epos yang baik adalah yang mampu memberikan ruang memadai untuk jatah tribute sekaligus potensi regenerasi. Logan memenuhi syarat itu. Film ini pun berhasil mendobrak stigma "polosan" yang selama ini lekat diasosiasikan ke judul-judul layar lebar Marvel. Film ini bercerita tentang babak terakhir yang mesti dilalui oleh Logan atau yang selama ini kita kenal dengan sebutan Wolverine. Berseting di 2029, dengan alternate universe, roda kehidupan dunia ternyata tidak semuluk-muluk bayangan di masa lalu. Para mutan kembali diburu justru untuk menciptakan friksi-friksi baru yang lebih mengerikan. Melihat kondisi ini, Logan memilih undur diri dari perjuangan X-Men dan beralih profesi menjadi pengemudi limo untuk memenuhi kebutuhan hidup. Logan tidak sendiria...
Review Film | “Fences (2016)” Teater di Layar Lebar
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Fences (2016)” Teater di Layar Lebar

Keajaiban Fences terletak di dua aspek utama: naskah dan pemeranan. Denzel Washington dan Viola Davis adalah keajaiban sebab mereka bisa mengeksekusi dialog/monolog yang panjangnya begitu tidak manusiawi secara sangat lancar dan lebur. Inilah panggung teater ketika ditranslasikan ke layar lebar. Film ini berkisah tentang pasangan suami-istri Maxson berseting di rutinitas keluarga kulit hitam di lingkungan kulit hitam yang tidak pernah luput dari salah dan nestapa selama 18 tahun pernikahan. Ya, sinopsis Fences versi saya cukup sesingkat ini. Fences begitu apa adanya. Bahkan ketika film ini baru mulai, ketika kita disambut oleh suara mesin kendaraan yang ternyata adalah truk pengangkut sampah dan di situ ada karakter Troy yang dibawakan oleh Denzel, kesan apa adanya sudah saya ras...
Review Film | “Hell or High Water (2016)” Tentang Kesepian
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Hell or High Water (2016)” Tentang Kesepian

Menikmati Hell or High Water secara utuh artinya juga harus paham makna literal judulnya. Idiom ini bisa jadi masih awam di telinga penonton Indonesia, makna denotasinya adalah: tindakan sesulit apa pun akan ditempuh demi mencapai tujuan. Dan itulah nyawa sebenarnya dari film western modern ini. Film ini adalah tentang Tanner Howard dan Toby Howard—kakak seorang mantan napi nan temperamen dan adik yang dihimpit masalah ekonomi—serta Marcus Hamilton—aparat kepolisian di penghujung masa jabatan. Paralel pertama menunjukkan tindakan perampokan di sebuah kantor di sebuah kota yang sebelum-sebelumnya adem ayem. Karena memang background mereka bukanlah komplotan perampok kompeten, tindakan yang dilakukan justru penuh dengan “ketidaksiapan dan ketidakprofesionalan”. Di sinilah talian “si jaha...
Review Film | “Lion (2016)” Menjadi Jujur dan Tangguh
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “Lion (2016)” Menjadi Jujur dan Tangguh

Ada kondisi-kondisi tertentu yang bisa membuat manusia berada di posisi tidak tentu arah. Tersesat, misalnya. Akan muncul banyak ketidakpastian nasib di situ. Lion yang semula berkutat di perkara lost and found pada akhirnya bisa berbicara lebih dari itu. Dengan kemasan yang jauh dari predikat kompleks, film ini justru menampilkan besarnya hati yang dimiliki, cukup besar untuk membuat energinya stabil terpompa ke rongga-rongga dada para penonton. Kisah dengan cakupan periode waktu sedemikian panjang ini berkutat pada Saroo, dimulai tahun 1986. Dia adalah seorang bocah berusia lima tahun yang berasal dari salah satu daerah miskin dan terpencil di India. Kondisi ekonomi mengharuskannya sadar diri untuk turut bekerja keras membantu keluarganya. Bersama sang kakak, dia terkadang harus menc...
Review Film | “The Edge of Seventeen (2016)” Menertawakan Kepolosan
#Film, #Home, Rating 9

Review Film | “The Edge of Seventeen (2016)” Menertawakan Kepolosan

The Edge of Seventeen merupakan film yang langka: semua karakter yang diberi jatah ngomong adalah scene stealer. Semua! Saya ragu apakah titel tersebut tepat guna karena penyematannya pada kolektif bukan segelintir. Namun yang jelas, kurang-lebih begitulah maksudnya. Film ini berkisah tentang Nadine, seorang cewek eksentrik yang dari kecil sudah punya bakat minder. Gelagatnya berkebalikan dengan saudara laki-lakinya, Darian, yang umurnya tidak terpaut jauh. Sedihnya, Nadine sampai-sampai tidak punya teman. Suatu ketika di masa awal SD hadir seorang Krista, yang kemudian menjadi BFF-nya. Hingga, di usianya yang jalan 17 tahun, mendadak bermunculan masalah di luar rencana. Ini adalah film yang akan membuatmu tertawa tak berkesudahan sampai akhir. Mayoritas karena kelakuan seorang N...
Review Film | “Patriots Day (2016)” Memusuhi Kebencian dengan Cinta
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “Patriots Day (2016)” Memusuhi Kebencian dengan Cinta

Tahun 2016 menjadi saksi sahnya saya menghormati sosok Mark Wahlberg dan Peter Berg. Ketika film-film based on true story lain masih banyak yang berkutat dengan kisah puluhan hingga ratusan tahun silam, duo ini justru memilih mengangkat fakta yang bersifat kontemporer--belum berselang lama. Pertama lewat Deepwater Horizon dan sekarang dengan Patriots Day. Sebuah pilihan yang tidak mudah, di satu sisi ini memberi poin plus di aspek "kebaruan" dan "kedekatan emosional", di sisi lain film-film model ini harus berhadapan dengan sentimen masyarakatnya yang masih bersinggungan--tanggung jawab moralnya lebih besar. Film ini berkisah tentang situasi sekitar kejadian meledaknya bom di Boston Marathon 2013 silam. Kisah dimulai dengan memperlihatkan beberapa "tokoh" yang akan dijadikan fokus....
Review Film | “A Monster Calls (2016)” Kontemplasi Diri
#Film, #Home, Rating 8.5

Review Film | “A Monster Calls (2016)” Kontemplasi Diri

A Monster Calls adalah film tentang kontemplasi diri. Film ini menunjukkan bagaimana rapuhnya manusia ketika harus berhadapan dengan diri sendiri. Tentang menyiksanya proses jujur-jujuran pada ketakutan yang selama ini membelenggu sehingga nantinya tidak harus direpotkan oleh tutupan topeng pura-pura lagi. Film ini adalah milik Conor O'Malley. Seorang bocah yang beranjak dewasa yang hidup bersama sang ibu yang sakit-sakitan. Adegan pembukanya bahkan sudah memberikan gambaran jelas pada penonton tentang sisa durasinya, yaitu: visual mimpi buruk yang menghantui Conor. Selain itu, dia pun harus melewati hari-hari sulit ketika berada di sekolah. Hingga suatu waktu, hadir sesosok monster pohon raksasa yang mengubah perspektifnya terhadap kehidupan secara perlahan. Manyaksikan A Monster...
Review Film | “Manchester by the Sea (2016)” Tidak Butuh Pura-Pura
#Film, #Home, Rating 10

Review Film | “Manchester by the Sea (2016)” Tidak Butuh Pura-Pura

Manchester by the Sea adalah film paling raw (mentah)--di makna positif--rilisan 2016, bahkan tetap relevan dalam repositori karya sinema sekian tahun terakhir. Bermain dengan elemen “kehilangan”, film ini menampilkan karakter-karakternya yang sangat nyata, lengkap dengan problema yang sangat jauh dari kesan pura-pura. Perjalanan hidup kali ini mengikuti keluarga Chandler dan orang-orang terdekatnya. Sosok sentralnya adalah Lee Chandler, seorang tukang bersih-bersih gedung yang tiba-tiba mendapat panggilan seluler yang memberi tahu bahwa saudaranya, Joe Chandler, meninggal. Joe sebelumnya sudah didiagnosis penyakit parah yang berhubungan dengan kondisi jantung, bahkan sudah diprediksi umurnya tidak akan lama lagi. Dalam wasiatnya, Joe sertamerta menunjuk Lee sebagai wali anaknya, Patri...
Review Film | “Moonlight (2016)” Menerima dan Memahami
#Film, #Home, Rating 10

Review Film | “Moonlight (2016)” Menerima dan Memahami

Ingat Boyhood yang fenomenal itu? Moonlight memiliki akar yang sama: pencarian identitas semampunya. Film ini berkisah tentang fase kehidupan seorang anak keturunan ras Afrika-Amerika di sebuah permukiman kulit hitam di Miami, Amerika Serikat. Kehidupannya ternyata terlalu banyak dikado oleh semesta. Dia hidup bersama sang ibu yang seorang pecandu narkoba akut; mesti terbiasa dengan bully; menemukan "rumah kedua"; berdamai dengan preferensi seksual; hingga menyesap sari pati kehidupan secukupnya. Moonlight adalah film yang sangat jujur. Seolah kita sedang menyaksikan orang terdekat kita (misalnya, adik) yang sedang mempelajari berbagai hal untuk mencapai level penerimaan masyarakat. Sama halnya dengan ucapan di review film Boyhood (2014), ini adalah genre film di mana saya memohon d...